
Walikota yang melihat temboknya hancur hanya bisa melongo. Para pengawal juga tidak mau bertindak gegabah karena menjebol tembok bukan perkara mudah.
Radja segera berlari ke meja yang penuh dengan makanan, tanpa rasa malu ia langsung mengambil semua makanan yang terlihat enak.
Robert dan Pemilik Arena hanya duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.
Sembari mengambil rokok dari sakunya, Robert berkata, "Melihatnya bocah itu seperti ini, membuatku melupakan semua kejadian di dungeon."
"Yah, aku juga tidak akan percaya anak berumur 16 tahun bisa menaklukkan dungeon."
Walikota mendengar pembicaraan mereka berdua dan segera mendekat. "Apa ada dungeon yang muncul di kota Z?" tanyanya.
"Sungguh beruntung kau mempunyai anak itu. Dungeon yang kami selesaikan sangat istimewa," jawab Robert sambil menyalakan rokoknya.
Pemilik Arena memejamkan mata, ia merasakan ada sekelompok orang sedang mendekat dan segera menyuruh Robert mematikan rokoknya. "Sebaiknya segera matikan rokok itu, beberapa orang merepotkan akan datang."
"Oh iya aku lupa mengatakan, pesta ini diselenggarakan untuk penyambutan ketua polisi yang baru. Aku mendengar ia adalah mantan ketua tim khusus penaklukan dungeon."
Walikota segera menghampiri rombongan, ia ingin tampil terbaik di hadapan ketua polisi yang baru.
Robert menggelengkan kepala. "Aku kira siapa, ternyata hanya seorang budak," enek Robert pelan.
"Aku tidak menyangka orang itu akan menjadi pengawal budak korporat." Pemilik Arena menunjuk seorang pria berbadan kurus di sebelah ketua polisi yang baru.
"Hah, pria gila itu akhirnya muncul lagi. Sungguh apes aku kalah dengan pria kurus itu." Robert mematikan rokoknya di asbak.
"Jangan gegabah, kekuatannya sangat misterius. Aku merasa dia sangat kuat, padahal aku sudah menembus petualang tingkat 16." Pemilik Arena memberikan pandangan pada situasi ini.
Keduanya berdiri dan menghampiri rombongan. Langkah kakinya pelan, keduanya tidak berniat untuk membuat kerusuhan.
Namun pria gila yang menjadi pengawal ketua polisi langsung melepaskan tekanan kekuatannya. Ia secara terang-terangan mengungkapkan dirinya adalah seorang petarung tingkat 17.
Robert dan Pemilik Arena bertahan, mereka mulai berkeringat dingin menerima tekanan dari pria gila. Semua orang di sekitarnya langsung pingsan, termasuk walikota. Karena tekanan yang sangat kuat, Robert terjatuh ia sudah tidak bisa menahan tekanan.
Tanpa rasa bersalah, Radja menyelinap masuk ke dalam area tekanan pria gila. "Pak wali, apa aku boleh membungkus beberapa makanan?" katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh walikota.
Pria gila terkejut melihat ada orang yang bisa lepas dari tekanannya begitu mudah. Ia menyeringai dan berkata, "Menarik, kau kuat..."
"Bacot." Radja mengayunkan lengannya dan mengalahkan pria gila dengan sekali pukul. Tekanan yang menyakitkan semua orang segera hilang.
Robert berdiri dengan keringat membasahi semua pakaiannya. Ia menggeleng-gelengkan kepala supaya segera sadar.
__ADS_1
Walikota bangun setelah Radja menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Pak Wali, bolehkah aku membungkus makanannya?" tanya Radja untuk kedua kalinya.
"Ya, bawa saja sesukamu." Walikota sudah tidak peduli dengan pesta penyambutan, semua rencana sudah gagal.
"Yes..." ucap Radja sambil mengepalkan tangannya. Ia langsung mengambil kresek dan memasukkan makanan yang terlihat enak.
Ketua polisi yang melihat pengawalnya jatuh mengusap matanya. "Apa aku sedang bermimpi?"
"Kau tidak bermimpi, aku Pemilik Arena Bawah tanah. Senang berkenalan denganmu."
"Aku Robert, bisa dibilang aku adalah bos para mafia di wilayah ini."
Keduanya memperkenalkan diri dengan jujur, ketua polisi bukan orang bodoh. Jadi ia memilih untuk tidak percaya dengan perkataannya.
Sampai akhirnya ponselnya berbunyi dan menyebutkan bahwa dua orang yang tidak boleh disinggung adalah Robert dan Pemilik Arena Bawah tanah.
"Senang berkenalan dengan kalian. Aku akan bertugas sebagai ketua polisi di kota Z, mohon kerjasamanya."
Radja mengambil semua makanan yang ada di atas meja karena terlihat enak. Ia memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan sihir melalui kresek.
Walikota bingung melihat semua makanan di atas meja habis. "Dimana makanannya?" tanyanya pada pengawal.
Radja hanya bersiul dan duduk di kursi tamu paling belakang. Robert dan Pemilik Arena juga melakukan hal yang sama, bedanya mereka duduk di kursi depan.
Pria gila yang pingsan mulai sadarkan diri, ia terbangun di ruang kesehatan rumah dinas walikota. Ketua polisi tidak mempunyai pendukung yang kuat, akhirnya hanya bisa mengikuti acara dengan tenang.
Karena makanan yang dipesan menghilang entah kemana, Walikota terpaksa melewati acara makan-makan.
Tepat setelah acara selesai, Radja dan dua teman gilanya langsung berlari ke helikopter berwana pelangi.
Ketua polisi melihat helikopter. "Bukankah mereka melanggar aturan penerbangan?"
Walikota yang mendengar menjawab, "Iya menurut peraturan lama mereka memang melanggar, tapi beberapa hari lalu aturan itu sedikit berubah."
"Aku terlalu banyak di dalam dungeon, aturan sederhana seperti ini saja tidak tahu."
"Hehe," ucap Walikota sambil tersenyum kecut melihat helikopter yang terbang sangat cepat.
Radja, dua orang gila dan satu pilot mendarat di hutan belakang sekolah. Rico dan para preman duduk di atas batu.
__ADS_1
"Hai, yo, yo... Waktunya makan!" teriak Radja yang terjun dari langit. Robert dan Pemilik Arena juga mengikutinya.
Tanpa rasa malu, Radja mengeluarkan makanan yang ia ambil dari pesta penyambutan. "Ayo jangan biarkan makanan basi."
"Bos, apa kamu mencuri makanan ini?" tanya Rico yang terkagum melihat banyaknya makanan.
"Tidak, tidak, tidak... Aku sudah meminta ijin pada walikota untuk mengambil makanan sebanyak mungkin." Radja menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.
"Ndak usah alibi, lu maling kampret!" pikir Robert dan Pemilik Arena. Meskipun mengumpat, keduanya langsung mengambil makanan.
Semua makanan yang diperuntukkan untuk 30 orang berhasil dihabiskan oleh 12 orang saja. Radja terlentang melihat langit malam, terbesit pikiran aneh.
Ia berdiri dan mengedarkan energinya. Tubuhnya menjadi ringan, tanpa sadar Radja telah terbang beberapa centimeter dia atas tanah. Mencoba untuk berjalan, Radja malah nabrak pohon di hutan. "Duk..."
Bukannya kesakitan, Radja mengelus dagunya sambil memikirkan cara untuk memperbaiki teknik terbangnya.
Ia mencoba lagi, bedanya sekarang malah terbang ke atas sampai ketinggian 1 kilometer di atas tanah dan langsung terjatuh.
"Bum..." tubuh Radja menghantam tanah karena jatuh.
Sekali lagi, ia tidak kesakitan dan mengelus dagunya. "Akhirnya aku menemukannya!"
Ia langsung terbang beberapa meter di atas tanah dan berjalan dengan sangat lancar. "Woh... Akhirnya aku menjadi Super Saya!" teriaknya sambil muter-muter.
"Bukan super saya bos, tapi Super Saiyan." Rico langsung menanggapi perkataan salah bosnya. Ia tidak peduli seberapa anehnya terbang di udara.
Robert dan Pemilik Arena membuka mulutnya lebar-lebar. Mana ada manusia bisa terbang dengan beberapa kali coba saja.
"Sepertinya aku terlalu banyak makan," ucap Pemilik Arena pelan.
"Seperti biasa, Bro. Kau tidak sendirian," jawab Robert.
Anehnya para preman juga mencoba terbang, tetapi mereka tidak bisa mengangkat tubuhnya. Sampai akhirnya suara aneh terdengar, "Brut, brut, brut..."
Rico dan semua preman bersiul aneh. Niat hati ingin terbang keatas, eh malah kentut yang mereka dapatkan.
Radja di atas udara berpose aneh. "K... Me... Ha.... Me... Ha..."
Energi di tangannya keluar dan meledak seperti layaknya kembang api. "Haha, aku sudah resmi menjadi goku!"
Radja turun dan membusungkan dadanya. "Sebagai seroang goku, aku menunjuk kalian semua sebagai pengikut!" katanya sambil menunjuk para preman.
__ADS_1
Rico dan teman-temannya bersujud di tanah menyembah Radja yang ada didepannya.
Pemilik Arena dan Robert terbelalak serta mengumpat bersama. "Beda film, Biawak!"