
Radja juga berdiri di tengah arena. "Selamat malam semuanya, aku mendengar banyak orang-orang kuat disini. Dua orang ini mengatakan kalian lemah seperti seekor babi. Jadi ayo bertarung!."
"Sialan!" teriak Pak Tua dan Robert.
Seorang pria gendut dengan wajah merah terjun dari langit. Dia adalah Kepala Penjara yang kekuatannya tidak bisa diremehkan.
"Gong Yu, bajingan. Apa semua ini rencanamu!." Kepala Penjara sangat marah dan mengarahkan pandangannya ke Pak Tua misterius.
Radja yang dengan santainya menampar Kepala Penjara. "Babinya keluar beneran, Anjing."
Kepala Penjara diterbangkan hingga beberapa kilometer dan menghancurkan tembok arena.
"Bos, menyebutkan nama hewan di akhir kata itu tidak sopan." Robert mengangkat tangannya. Dia masih terbiasa dengan kebiasaan Rico dan kawan-kawannya.
"Oh iya kah? Aku lupa." Radja yang panik langsung berlari dan mengambil tubuh Kepala Penjara. Kemudian dia kembali lagi ke tengah arena.
Kepala Penjara dipaksa berdiri dan ditampar lagi. Radja berkata, "Kau menghalangi pandangan, Babi!."
Lubang kedua di arena pertandingan tercipta, Kepala Penjara di terbangkan hingga keluarga pulau dan mengambang di tengah samudera.
"Bos, kau menyebutkan nama hewan lagi." Robert masih belum menurunkan tangannya.
"Lupakan saja, aku tidak ingat. Ayo siapa yang mau menantang mereka berdua?" tanya Radja sambil menunjuk Robert dan Gong Yu.
Semua orang terdiam, para petinggi tahu seberapa kuat Kepala Penjara. Namun orang sekuat itu tidak berani menantang Radja.
"Karena kalian tidak ada yang mau, maka aku yang menantang." Radja mengambil batu kerikil di arena.
Bahunya menegang dan lengannya segera berayun melamar batu kecil seukuran jari jempol. Hembusan angin yang diciptakan terlalu besar hingga kerobohkan bangunan di sekitarnya.
Batu kerikil itu terbang jauh melewati Bumi dan menghancurkan salah satu planet milik Asteria.
"Tuan, apa salahku. Kenapa aku terus yang jadi sasaran!." Dewi Asteria merengek melihat satu planetnya hancur.
Radja di Bumi hanya melongo. "Aku tidak melemparnya terlalu keras. Apa segel ketiga terbuka ya?" tanyanya kebingungan.
"Ah sudahlah, tidak penting juga." Radja pergi meninggalkan arena dan mencari Cat Tembok.
Hanya beberapa petinggi yang masih hidup, mereka gemetar ketakutan melihat lemparan Radja.
Robert segera bergegas dan mengikuti Radja. "Bodoh, apa yang kau tunggu. Ayo bergerak!" bentaknya sambil menoleh ke Gong Yu.
"Eh?." Gong Yu yang mendengar suara Robert langsung berlari mengikuti Radja dari belakang.
Mereka mendatangi kantor Kepala Penjara. Radja tanpa permisi membuka pintu dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Brak." suara pintu yang patah.
Radja menyangkat pintunya. "Jaman sekarang pintunya sangat lembek," katanya sambil membuang pintu ke samping.
Pintu ruangan Kepala Penjara terbuat dari baja pilihan. Ketika jatuh ke lantai, tanahnya bergetar dan keramiknya pecah.
Radja tidak peduli dan berkata, "Halo. Ada orang disini?" tanya Radja dengan ekspresi datar.
Karena lampu di ruangan masih mati, Radja tidak mau menunggu dan meninju langit-langit hingga menjadi debu.
"Nah, gini lebih baik." Radja bisa melihat seluruh ruangan karena cahaya bulan.
Setelah melihat sekeliling Radja tidak menemukan orang lain. "Apa mereka semua libur? Baiklah ayo cari Cat Tembok."
Radja menyuruh Robert dan Gong Yu mencari. Keduanya langsung bergegas dan menggunakan auranya mencari Kaleng Cat Tembok.
"Ketemu," seru Robert dan langsung bergerak menuju gudang.
Gong Yu tidak mau kalah, dia lebih kuat dari Robert pada awalnya. Namun setelah mengkonsumsi Sup Ikan, Robert melampauinya.
"Tidak mungkin, bagaimana kau bisa secepat itu!" seru Gong Yu tidak percaya.
Karena fokus dengan tugasnya, Robert tidak menjawab. Dia langsung mengambil kaleng Cat dan membawanya ke Radja.
Gong Yu baru datang, ia terperangah melihat Radja melempar kaleng Cat ke langit. Kemudian Radja dan satu langkah menangkapnya di Gedung Baru miliknya.
Radja kembali lagi. "Sepertinya terlalu lama kalau satu-satu."
Kedua tangannya dengan cepat mengambil kaleng cat dan melemparnya. Tanpa sengaja ia juga melempar Robert dan Gong Yu.
Setelah semua kaleng cat dilempar ke langit, Radja menghilang dan sampai di tempat jatuhnya kaleng. Kedua tangannya dengan sigap menangkap kaleng-kaleng cat.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Radja sambil menghindari tubuh Robert dan Gong Yu.
Kepala Robert dan Gong Yu nemancap di tanah. Anehnya mereka tidak terluka parah setelah jatuh dari ketinggian itu.
"Apa aku sudah di surga?" tanya Gong Yu.
"Jangan tanyak aku, Pak Tua!."
"Brengsek, aku masih lebih muda darimu. Jangan mengejekku!."
"Bacot." Robert mencoba menarik kepalanya dari tanah. Namun naas tanahnya mulai keras.
"Sialan, apa ini?" teriak Robert mulai panik.
__ADS_1
Gong Yu tidak kalah panik, ternyata mereka jatuh di tanah gundukan yang sudah di campur semen.
Radja yang sudah selesai mengangkut cat melihat dua pria ngangkat pantatnya tinggi-tinggi. "Apa mereka sudah gila?" tanyanya sambil mendekat.
Setelah cukup dekat, Radja menarik kedua kakinya dan melempar dua orang itu ke tanah. "Cepat bantu orang-orang mengecat tembok!."
Robert tidak tanya dia langsung bergegas dan menarik Gong Yu untuk mengecat tembok penjara. Semua Narapidana juga melakukannya, Radja dengan gagah berani melihat pekerjaan teman-temannya.
"Bagus, bagus. Jika seperti ini besok kita selesai. Ayo lembur!."
Tidak ada yang mengeluarkan suara, tapi dalam hati semua orang berteriak, "Bocah Sialan!."
Disisi lain, Kepala Penjara sadar dari pingsan. Dia melihat sekeliling dan wajahnya tampak jelek. "Sial, aku dimana?"
Tepat setelah mengatakannya, Radja datang dengan tubuhnya melayang di atas air. "Eh Babi gendut, apa kau tahu dimana mendapatkan roti kering. Sepertinya teman-temanku merindukan roti kering."
Kepala Penjara kebingungan dan kagum ada seorang Immortal menghampirinya. Tiba-tiba dia teringat sosok yang memukulnya.
"Bos, ampuni aku. Mulai sekarang aku akan memperlakukan semua Narapidana dengan baik!."
Radja memasang wajah datar. Dia tidak peduli dengan penyataan Kepala Penjara, yang dia butuhkan sekarang cara mendapat Roti Kering. Tangan tanpa dosa miliknya segera memukul Kepala Penjara beberapa kali.
"Bacot, aku tidak peduli kau mau ngapain. Aku tanya dimana kalian mendapat roti kering?"
Muka Kepala Penjara bonyok, dia menjawab dengan suara kurang jelas. "Koki kami bisa membuatnya."
"Bagus, ayo berangkat." Radja melempar tubuh Kepala Penjara sejajar dengan permukaan air laut. Kemudian dia duduk di atasnya layaknya seorang pajak laut.
Sambil mengepalkan tangannya ke atas, Radja memakai topi jerami yang entah dapat dari mana. "Ayo berangkat!."
Kepala Penjara menjadi perahu yang membawanya sampai ke Penjara tengah samudra.
Setelah sampai pantai, Radja melompat dan membawa Kepala Penjara ke gedung miliknya. "Dimana koki kalian?" tanyanya dengan wajah serius sambil melepas Topi Jeraminya.
Kepala Penjara tidak menjawab karena dia masih pingsan. Radja yang tidak sabaran langsung menamparnya beberpa kali hingga bangun.
Kepala Penjara menunduk dan mendapati tiga giginya pecah. "Bos, kamu terlalu kejam."
Tepat setelah mengatakannya, Radja mengeluarkan pil dan memasukkannya ke mulut Kepala Penjara. "Bacot, cepat. Teman-temanku kelaparan."
Tubuh yang rusak dan gigi yang pecah tiba-tiba kembali sembuh. Kepala Penjara dengan sekuat tenaga berlari menuju dapur. Namun tidak ada orang yang masak seperti biasa.
"Dimana kalian, Sialan!" seru Kepala Penjara yang mulai panik.
Radja tidak melihat Koki, matanya menyempit dan telapak tangannya yang suci mulai memukuli Kepala Penjara. "Babi, sialan. Kau membohongiku!."
__ADS_1