Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Perampok Ulung


__ADS_3

Radja menarik tangannya, kedua pengawal memegang tangan kanan mereka yang remuk.


"Woh... Kalian ternyata kuat. Ayo lakukan beberapa kali lagi!" teriak Radja berlari menuju lawannya. Kakinya berhenti tepat di salah satu pengawal, bahunya di tarik kebelakang bersiap untuk menghantam.


Tangannya mengepal erat, tinjunya segera melesat bagaikan palu yang siap menghantam paku.


"Buk...!" suara benturan tinju Radja menghantam rahang bagian bawah lawannya. Seketika pengawal yang terlatih itu tersungkur ke tanah tak sadarkan diri.


Melihat rekannya yang tumbang, pengawal di sebelah menggunakan tendangan.


Radja dengan cepat bereaksi, dia menangkap tendangan itu dengan tangan kiri. Kemudian menggunakan tangan kanan untuk memberikan serangan pada tulang rusuk.


"Akh...!!!" teriak pengawal yang tidak bisa menahan sakitnya. Jika tidak mengeluarkan suara, dia akan mati karena pukulan keras yang mengarah ke area jantung.


Kedua pengawal terjatuh di tanah, mereka berdua sudah tidak sadarkan diri. Radja dengan santai berjalan ke arah pria tampan dengan rambut klimis.


"Halo, apa dua pengawal itu juga akan melawanku?" tanya Radja santai sambil melambaikan tangannya.


"Serang!" teriak pria tampan yang klimis itu.


Dua pisau di keluarkan, mereka berdua tidak segan-segan membunuh lawannya.


Radja dengan santai menunggu mereka mendekat. "Ayo tunjukkan aku kebolehan kalian menggunakan pedang!"


Pisau di tusukkan ke bagian perut, Radja dengan santai menghindarinya ke kanan. Lawannya mengubah arah serangannya ke kanan, Radja melompat untuk menghindarinya.


Karena tubuhnya ada di udara, kakinya langsung menendang ke arah kepala. Namun kali ini lawannya sangat berpengalaman, salah satu pengawal mendorong tubuhnya untuk mengacaukan tendangannya.


Radja yang memiliki tubuh kecil langsung terpental beberapa meter kebelakang. Seperti yang kita ketahui semua, dia berdiri tanpa luka sedikitpun.


"Hem... Sekarang kalian menggunakan serangan kombinasi. Baiklah, mari mulai lebih serius, jangan pingsan ya!"


Kaki Radja melangkahkan ke depan membentuk sebuah kuda-kuda bela diri. Kedua tangannya diletakkan berdekatan dengan pipi. Itu adalah teknik yang digunakan Bagus ketika bertarung melawannya.


Teknik ini dinamakan kick boxing atau tinju modern yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa melawan semua gerakan beladiri.


Lawan yang tidak peduli dengan perubahan Radja langsung menerjang seperti orang bodoh. Berbeda dari sebelumnya, Radja menghindar dengan sempurna dan menggunakan tinjunya untuk memukul dengan keras.


"Bam...!" satu orang tumbang. Pengawal itu kritis karena Radja memukul area rawan manusia.


Rekannya yang lain tidak terima, dia menikam Radja dari belakang. Sayangnya orang yang dia lawan bukan manusia tapi Dewa yang sudah lama tidak bertarung.

__ADS_1


Instingnya sebagai seorang petarung masih belum hilang, dia dengan sigap menangkap pisaunya dan langsung menggunakan gerakan bantingan.


Pengawal terjatuh di tanah, Radja tanpa belas kasih menyerang tenggorokannya dengan pukulan keras. Dua pengawal berhasil dilumpuhkan dengan mudah.


Dua kakinya melangkah ke pria berambut klimis. "Hai aku sudah berhasil melewati ujian. Sekarang berikan uangnya!"


Tangan pria itu dengan cepat mengambil sesuatu di saku celana.


"Dor..." suara tembakan pistol terdengar sangat keras. Peluru mengenai dada Radja hingga dia terjatuh.


"Haha, naif sekali kau bocah. Aku penguasa laut selatan Jerry Dermawan 4 tidak akan bisa diintimidasi!" katanya dengan tawa aneh sambil mengangkat pistolnya.


Jerry Dermawan adalah sebuah nama yang diberikan untuk pewaris laut selatan. Jerry di kelas Radja adalah Jerry Dermawan ke 5.


Bagi orang biasa peluru yang mengenai dada pasti akan mati. Sayangnya Radja sangat istimewa, dia bangun dengan santainya. Tubuhnya bergerak sangat cepat mendekati lawannya dan segera merampas pistol.


"Hem... Benda apa ini!" kata Radja sambil memainkan pistol. Tanpa sadar pelatuknya di tarik hingga peluru melesat pada kaki pengawal yang baru saja sadarkan diri.


Pengawal itu memegangi kakinya dengan erat, dia menatap Radja dengan pandangan penuh permusuhan.


Moncong pistol di arahkan pada pengawal itu, Radja menarik pelatuknya lagi.


"Dor!" peluru melesat ke kaki bagian kiri. Sekarang dua kaki pengawal itu terkena tembakan, dia kebingungan harus menghentikan pendarahan kaki yang mana.


Tidak ada jawaban sama sekali, Jerry Dermawan masih terkejut dengan kebangkitan Radja yang begitu tiba-tiba.


Moncong pistol di arahkan ke kaki Jerry Dermawan ke 4. "Dor!" kaki Jerry Dermawan tertembak.


"Sialan, mengapa kau menembak?" teriak Jerry Dermawan.


"Kamu bengong. Jadi aku menembak kakimu, aku dengar banyak bengong bisa membuat orang kesurupan."


"Bocah gila."


"Hai, ayolah aku hanya ingin bermain disini bukan untuk membunuh."


Padahal secara tidak sengaja Radja sudah membunuh 7 orang yang menghadangnya di hutan.


Radja membalikkan moncongnya ke arah dirinya kemudian mengembalikannya pada Jerry Dermawan. Secara tidak sengaja pelatuknya terbuka lagi, peluru melesat ke arah Radja tapi sedikit meleset sehingga mengenai kepala pengawal yang memegang kedua kakinya.


"Hayo, bukan aku ya." Radja malah meledek Jerry Dermawan.

__ADS_1


Karena kesal, pistol di tembakan lagi. Namun pelurunya malah nyasar dan mengenai pengawal yang belum sadarkan diri.


Sungguh malang nasib pengawal itu tidak akan pernah sadarkan diri karena peluru mengenai kepalanya. Dua pengawal menjadi korban peluru nyasar.


Jerry Dermawan menyodorkan pistolnya ke dahi Radja. "Mati kau!" teriaknya sambil menarik pelatuk pistol.


Namun tidak terjadi apa-apa karena peluru pistol sudah habis. Dia lupa sudah menembakkan 6 peluru sebelumnya.


"Hah, apa yang kamu lakukan dengan senjata mainan ini?" tanya Radja dengan santai merebut pistolnya.


Dia menarik narik pelatuk pistol hingga akhirnya pir di dalamnya longgar. Sehingga pistol sudah tidak dapat digunakan lagi.


"Sudahlah aku bosan. Cepat berikan uangnya!" kata Radja mendekati Jerry Dermawan 4 sambil menyodorkan telapak tangannya.


"Ambil uang ini!" kata Jerry Dermawan melempar setumpuk uang pecahan seratus ribu.


Tanpa rasa malu Radja mengambilnya di lantai, dia membutuhkannya untuk membantu Sutri dan Hadi berjualan nasi goreng.


"Hai bocah, aku akan memberikan uang lebih jika ingin menjadi bawahan ku!" kata Jerry Dermawan dengan penuh percaya diri.


"Ndak mau. Sangat membosankan menjadi anak buah orang lemah sepertimu, lebih baik cari orang kuat untuk bertarung. Oh iya, jika ada seorang petarung kuat hubungi aku ya...!"


Sekarang semua orang bingung, sebenarnya perampoknya itu Jerry Dermawan atau Radja yang meminta uang.


"Jika kau merasa kuat dan membutuhkan lawan. Besok lusa ikutlah denganku ke Pertarungan Bawah Tanah, di sana banyak orang kuat yang kamu inginkan."


"Baiklah, tapi berikan aku uang lebih. Ini masih 10 juta rupiah, aku dengar dari Rico kalian mempunyai uang miliaran. Bagilah beberapa miliar untukku," kata Radja dengan polosnya.


"Sial, dia perampok ulung!" kata Jerry Dermawan dalam hati.


"Ndak jadi. Berikan aku rumah ini saja, biar Hadi dan Sutri tinggal disini kelihatannya sangat luas."


"Tidak bisa, lebih baik aku memberikan 1 miliar daripada memberikan rumah ini!"


"Baiklah, keluarkan uang satu miliarnya. Hari sudah mulai malam, aku harus berjualan nasi goreng."


Jerry Dermawan dengan cepat mengambil uang satu miliar dari berangkas dan menaruhnya dalam koper.


Sebenarnya ada banyak orang yang ada di dalam markas mafia laut selatan. Namun mereka semua adalah petarung berpengalaman, melawan Radja sama dengan bunuh diri.


Jadi semua petarung memilih untuk diam selama dia tidak membunuh bosnya.

__ADS_1


Radja pulang membawa koper besar, tangannya melambai karena melihat seorang kenalan.


"Rico, aku disini!"


__ADS_2