
Radja menggunakan telapak tangan untuk menampar pria kurus yang kehabisan napas. Tangannya yang lihai menampar tidak memberi napas pada lawannya.
"Memangnya siapa kau?"
Tidak ada jawaban dari musuhnya, Radja terus menampar tanpa rasa bersalah. Melihat kebrutalannya, semua narapidana menciut mereka mulai kembali ke selnya masing-masing.
Radja yang tidak puas memukul pria kurus langsung melangkah menuju bos penjara. Tekanannya entah mengapa sangat berat, semua narapidana langsung pingsan.
Rico melihat Radja langsung berkata, "Kenbushoku Haki!"
Para preman menganggukkan kepala. "Ya, kalau dia tidak memilikinya maka aku akan pergi."
"Apa kau yakin?"
"Tidak juga, aku hanya menirukan Zoro si manusia pedang."
Pria besar di sebelah bos penjara langsung pingsan, langkah kaki Radja masih sangat pelan dan berat. Bos penjara tanpa sadar kencing di celana.
Anehnya Radja melewati bos itu dan langsung menarik kearah pria besar. "Jangan pingsan, Bodoh. Kau adalah bos penjara yang paling ditakuti!" teriak Radja sambil menampar.
Melihat pengawal terkuatnya tumbang, bos penjara melarikan diri. Ia tidak mau berurusan dengan pria aneh seperti Radja dan teman-temannya.
Rico yang melihatnya lari langsung memblokir jalannya, "Dimana orang kuat yang ada di penjara?"
"Lantai bawah, semua orang kuat di penjara berada di bawah tanah!" kata Bos Penjara dengan tatapan ketakutan.
Seorang pria tinggi dengan kaki jangkung keluar dari lantai bawah. "Haha, ternyata ada orang lain yang bisa menggunakan Haki Raja di sini. Ayo bertarung denganku!"
Tepat setelah pria tinggi itu menyelesaikan perkataannya. Radja dengan penuh semangat memukul mukanya hingga terpental menembus tembok.
"Burung banyak bacot," ucap Radja sambil mengepalkan tangan kanannya.
Seorang pria besar keluar dari lantai bawah, ia adalah sipir penjara yang sangat di takuti dunia, namanya Magelang.
"Mengesankan, kau bisa mengalahkan pria yang merepotkan sepertinya." Pria itu diselimuti oleh keringat.
Rico dan para preman sangat jijik melihatnya, tapi mulut Radja masih mengunyah permen karet dengan santai.
Kedua mata mereka saling melihat, Magelang adalah sipir yang paling ditakuti. Tidak ada yang bisa mengalahkannya di penjara.
Hanya para tahanan bawah tanah yang mungkin mengimbangi kekuatannya. Magelang yang sudah tidak sabar langsung mengayunkan tangannya, Radja melompat dan melayang di atas langit.
"Curang woi...!" teriak Magelang.
"Curang? Aku adalah keturunan sang manusia karet. Gomu, Gomu, no... Pistol!" teriak Radja menggunakan pukulannya.
Rico nyeletuk, "Bos anime yang bisa menggunakan skill itu memanjangkan lengannya."
"Oh iya kah. Ok kita ulang."
__ADS_1
Radja kembali lagi ke tempat asalnya. "Gomu, Gomu no... pistol!"
Anehnya lengan Radja memanjang seperti yang dikatakan Rico. Manusia mana yang bisa memanjangkan lengannya, tentu saja tidak ada.
"Hebat, kau bisa menggunakan skill pencuri!" ucap Magelang dengan senyum lebar.
"Hah, skill pencuri?" tanya Radja kebingungan.
"Bukankah peribahasa mengatakan panjang tangan adalah seorang maling?"
Magelang menghentikan serangan lawan dengan mudah karena tubuhnya sangat licin. Ia tidak perlu menghindar, pukulan Radja sudah berbelok.
"Benarkah?" tanya Radja memandang Rico.
Anehnya Rico dan para preman mengangguk setuju. Emang dasarnya mereka semua adalah seorang pencopet.
Radja terkejut mendengarnya, ia melepaskan aura yang kuat sampai rambutnya tumbuh memanjang sepunggung. "Aku adalah keturunan goku. K... me... ha... me... ha!" teriaknya.
Sebuah energi mana muncul di tangannya dan menyerang Magelang yang tampak kebingungan. Ia mengepalkan tangan dan meninju teknik musuhnya. "Beda film, Kampret!" teriaknya.
"Apa itu kampret?" tanya Radja dengan polosnya sambil turun ke tanah.
Rico dengan cepat menjawab, "Kampret adalah sejenis hewan yang bising di malam hari. Biasanya ia keluar ketika hujan."
"Terus mengapa kampret itu bisa keluar di siang hari?" tanya Radja sambil menunjuk Magelang yang masih kesakitan kerena menahan serangan lawan.
"Aku juga tidak tahu, mungkin dia sedang mencari tantangan baru."
Awalnya tamparannya meleset karena keringat Magelang sangat licin. Oleh karena itu, Radja meningkatkan kekuatan tamparannya hingga beberapa bangunan runtuh.
"Plak, plak, plak."
"Lihatlah, Bos sepertinya menikmati menampar orang." Rico melihat para preman sambil menunjuk Radja.
"Apa kita juga bisa menampar beberapa orang jahat?"
Rico menganggukkan kepala dan langsung meraih kerah orang terdekat. Ia tanpa ampun menampar orang yang masih pingsan di dekatnya, termasuk bos penjara.
Meskipun sudah di tampar begitu banyak, Magelang masih sadarkan diri. "Aku tidak boleh pingsan!" teriaknya putus asa.
Seorang pria berkulit hitam keluar dari lantai bawah. Ia melihat Magelang dikalahkan oleh seorang bocah kecil.
"Magelang, kau terlihat sangat menyedihkan."
Radja menghentikan tamparannya.
"Kau pikir tamparan itu bisa mengalahkan sipir penjaga ini."
"Haha, lihatlah dirimu yang terluka parah itu."
__ADS_1
Magelang berdiri lagi seperti seorang zombie. Radja melepaskannya karena tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kaido, jangan membuatku mengulangi lagi, cepat masuk ke ruangan mu!" teriak Magelang dengan penuh semangat.
"Haha, aku tidak akan kembali. Kau pikir setelah borgol itu lepas kekuatanku masih bisa ditahan?"
"Memang kenapa kalau borgol itu dilepas. Aku Magelang tidak pernah takut melawan siapapun."
Radja di tengah mereka menguap sambil mengeluarkan permen karet dari mulutnya. "Kalian ngomongin apa si?"
Magelang dan Kaido tidak merespon, mereka masih terus berbicara saling mengancam. Tatapan keduanya penuh dengan kemarahan dan ancaman.
Melihat tidak ada yang menjawab, Radja merogoh sakunya. "Gawat!" teriaknya.
Rico dan para preman langsung datang dan menghampirinya. "Ada apa, Bos?" semuanya bertanya bersamaan.
"Aku lupa membawa permen karet!"
"Wah gawat, kita harus cari toko permen karet di laut ini!" teriak Rico dengan wajah khawatir.
"Cepat panggil ambulans, kita harus segera mencari toko permen karet!" ucap salah satu preman.
"Untuk apa ambulans di tengah laut ini?"
"Kau tidak tahu, Bos akan menggunakan mode gear 5 untuk menyelesaikan pertarungan dengan cepat! Jadi kita butuh ambulans."
Magelang dan Kaido memandang mereka dengan mata darat dan mulut terbuka. "Apa mereka semua sudah gila?"
Radja menepuk pundak Rico dengan wajah serius. "Rico, hubungi Robert dan Pemilik Arena. Kita membutuhkan asupan permen karet di penjara ini!"
"Baik, Bos. Aku akan segera mencari ponsel!" jawab Rico dan langsung berjalan menuju bos penjara serta menamparnya.
"Cepat serahkan ponselmu!" teriaknya di dekat telinga bos penjara yang masih pingsan.
Karena tidak ada jawaban, Rico mengambil ponselnya dan menghubungi Robert dan Pemilik Arena menggunakan ponsel yang ia curi.
Matanya memandang para preman dan menegaskan sesuatu yang tidak penting. "Aku hanya meminjam, jangan melihatku seperti seorang pencuri."
"Baik, Bos. Kami sudah mendengarnya dari dulu!"
Radja mendekati Magelang dan Kaido. "Aku tidak tahu siapa kalian, tapi sekarang sedang keadaan khusus. Segera masuk ke ruangan atau kalian akan menyesal!"
Kaido yang tidak melihat kekuatan lawan langsung mengayunkan pukulannya yang setara dengan petarung tingkat 25.
Radja tidak menghindar, pukulan lawan mendarat di pipinya tanpa halangan apapun. Seperti biasa Radja tampak tenang dan bermuka dasar, bedanya sekarang ia tidak memakan permen karet.
"Banteng, kau tampak sangat besar." Radja menangkap tangan dan memelintirnya sedikit. Kaido yang bertubuh besar langsung terbang dan tangannya patah.
Magelang tidak tinggal diam, ia menyerang dengan tangan kanannya. "Pukulan kerasmu tidak akan berpengaruh padaku!"
__ADS_1
Radja tidak peduli dan menggunakan pukulan ringan. Magelang yang di pukul langsung menancap di tanah sedalam 5 meter.
"Wah, sepertinya airnya asin. Kira-kira ada ikannya apa tidak ya?" ucap Radja sambil jongkok.