
" Bagus anak-anak. Performa kalian semakin bagus. Ibu akan segera mendaftarkan kalian ke kompetisi." ucap pelatih paduan suara sekolah yang tersenyum bangga dengan anak didik nya.
"Rani, tolong siapkan beberapa keperluan yang harus kita persiapkan sebelum ke Jogja." ucap pelatih diikuti anggukan kepala Rani.
"Ada lagi kak yang perlu dibantu?" tanya beberapa anggota tim padus.
"Udah dek, kalian boleh pulang."
Rani kembali meneruskan menyiapkan beberapa barang saat terdengar suara pintu dikunci.
Ceklik!
"Dek.." Rani mengira adek kelas nya sedang usil dengan mengunci nya di sana. Namun saat dia berbalik, terlihat 2 sosok sedang menatap sinis. Salah satu diantara nya adalah orang yang Rani tahu akan menimbulkan masalah untuk nya.
"So.. Jadi ini cewek gat*l yang godain Hendy?" seringai Tya. Dia mendekati Rani yang menatap nya dengan wajah datar.
"Lo mau daftar padus?" tanya Rani.
"Gak usah sok beg* deh!" bentak Tya diikuti Vanda yang terkekeh dibelakang nya.
"Gue peringatin jauhin Hendy!"
__ADS_1
"Gak bisa." jawab Rani singkat. Bukan nya takut gadis cantik itu malah menantang nya.
Seketika Tya semakin marah dan menampar Rani. Rani sedikit kaget mendapat serangan yang tiba-tiba itu. Tapi bukan Rani nama nya jika dia tidak bisa bersikap tenang menghadapi situasi gawat seperti ini.
"Berani banget lo ngomong kayak gitu! Lo nantang gue?!" bentak Tya lagi dengan semakin keras. Dia tahu ruangan padus kedap suara karena itu dia memilih mengancam Rani di sana.
"Gue bilang jauhin Hendy!" ucap nya sambil melotot. Vanda hanya memperhatikan semua itu dari belakang. Dia tidak menyangka Tya berbuat sejauh ini hanya karena Hendy.
"Dia yang deketin gue. Lo bilang aja ke dia, berani gak?" Rani tersenyum mengejek yang membuat Tya semakin menjadi-jadi.
"Ha ha.. sok kecentilan banget lo ya! Dengerin baik-baik! Kalau lo gak mau wajah mulus lo ini rusak, jauhin dia! Dia milik gue!" Tya pun mencengkeram pipi Rani. Kuku nya yang tajam mulai dia goreskan ke pipi Rani sampai meninggalkan luka lecet.
"Lucu banget ya.. Lo mengklaim seseorang itu milik lo yang bahkan udah nolak lo berkali-kali? Wah .. keren.. Gue jadi ingin ketawa."
Rani tersenyum sinis dan menatap Tya tajam. Mendengar hal itu Tya semakin naik pitam. Dia kembali menampar Rani sampai terjatuh.
Rani mengelus pipinya yang memerah. Terlihat pula ada sedikit darah di ujung bibir nya
(Aww.. gila nih cewek.. cinta ditolak, bully bertindak!)
Rani tidak mau membalas Tya. Bukan karena dia takut, tapi dia tidak mau mencari masalah. Dia ingin menyelesaikan sekolah nya dengan tenang. Lagipula Rani tahu Tya melupakan sesuatu. Vanda yang melihat Rani berdarah pun mulai panik.
__ADS_1
"U..udahan yuk Tya." bujuk Vanda dengan menarik lengan Tya agar menjauhi Rani.
"Berisik!" Tya yang terlanjur marah sudah akan melayangkan tangan nya lagi, tapi dia berhenti saat terdengar suara pintu terbuka.
"Tya Oktafia, Vanda Putri, ke ruangan saya sekarang." ucap seseorang dengan ekspresi dingin dan lantang. Dia adalah Pak Arya, kepala sekolah SMAN Nusa Dua.
Tya dan Vanda terbelalak melihat orang yang berdiri dengan tegap dan menatap mereka dengan tajam. Bagaimana beliau tahu dia di sini? Tidak mungkin Rani yang melapor.
Dia menoleh ke arah Rani yang masih terduduk di lantai. Rani memberi isyarat dengan mengarahkan pandangan ke langit-langit sambil tersenyum.
Tya mendongak dan baru menyadari di ruangan itu ada cctv. Pantas saja Rani tidak membalas nya. Kenapa dia sangat teledor dan lupa kalau sekolahnya mempunyai beberapa cctv yang diawasi 24 jam oleh petugas IT dan bisa diakses langsung oleh kepala sekolah? Dia juga tidak menyangka Pak Arya masih berada di sekolah di jam-jam seperti ini.
"Kenapa masih di sini? Ke ruangan saya sekarang. Bu Vega tolong bawa Rani ke ruang kesehatan untuk mendapat mengobatan. Setelah itu antarkan ke ruangan saya." perintah Pak Arya seraya pergi menuju ruangan nya.
Tya dan Vanda pucat dan tidak berani mengatakan apapun. Sekilas dia melihat Rani yang tersenyum penuh kemenangan.
Di tempat lain Leo sedang menyelesaikan beberapa keperluan di ruang TU yang bersebelahan dengan ruangan Pak Arya saat dia melihat sang kepala sekolah diikuti Tya dan Vanda di belakang nya memasuki ruangan. Terlihat raut wajah kedua cewek itu begitu ketakutan.
Selang beberapa menit, Rani pun masuk ke ruangan yang sama. Leo yang melihat kondisi Rani pun kaget. Dia tahu sesuatu telah terjadi diantara mereka bertiga. Langsung saja dia mengambil handphone dan menelpon Hendy.
"Hen lo dimana?"
__ADS_1