
Hendy melemparkan tubuhnya di atas kasur. Dia memegang kepalanya yang sedikit sakit, seketika lelah merayap di sekujur tubuh.
Dia memandang foto Rani yang masih disimpan nya di memori handphone. Dia sangat merindukan sosok cantik itu.
Hendy kemudian meraih gitar di samping lemari. Dia memainkan alat musik itu setelah sekian lama membiarkannya teronggok di sana.
Dia mulai memainkan sebuah lagu, memejamkan mata, dan di sana lah Rani muncul dengan senyum yang senantiasa menghiasi bibirnya.
(Aku kangen kamu sayang..)
Dia menahan semua pilu itu sendirian. Ditinggalkan saat rasa cintanya begitu dalam untuk Rani.
**
"Apa kabar bi?" sapa Ferdinan sesaat setelah tiba di rumah Hendy.
"Baik tuan. Mari silahkan duduk." Bi Laila mempersilahkan pria itu duduk dan menyuguhkan secangkir kopi untuk nya.
"Hendy gimana? Dia masih suka mengurung diri di kamar?"
"Betul tuan. Saya sudah mencoba mengalihkan perhatian aden. Tapi gimana ya tuan.. Tuan tahu sendiri gimana kelanjutan nya." Bi Laila masih berdiri sambil membawa nampan di tangan nya.
"Duduk lah bi.. Jangan berdiri aja di situ. Kan bibi tuan rumah nya." tawa Ferdinan pecah. Bi Laila dengan sungkan akhirnya duduk di depan Ferdinan.
Ferdinan meminum kopi yang telah dihidangkan untuknya. Dia mengerti bagaimana perasaan Hendy. Dia pun pernah di posisi itu saat ditinggal istri tersayang nya dan itu menyakitkan.
"Dia dimana sekarang?"
"Di kamarnya tuan. Biar saya panggilkan."
"Gak usah bi, biar saya yang ke sana." Ferdinan tersenyum dan melangkah ke kamar Hendy.
Ferdinan mendengar sayup-sayup alunan gitar yang menyatu dengan suara Hendy. Keduanya menciptakan suara yang selaras.
Tok tok..
__ADS_1
Ceklik!
"Om.." Hendy tersenyum dan mencium tangan Ferdinan.
"Bagaimana kabar kamu boy?" ucapnya sambil mengusap lembut kepala Hendy.
"Saya baik-baik saja om. Om sendiri?"
"Perfect."
Hendy mempersilahkan Ferdinan masuk ke kamarnya.
Pria setengah baya itu berjalan melihat-lihat kamar Hendy. Beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja menarik perhatiannya. Dia mengambil salah satu diantara berlembar-lembar kertas itu.
Sejauh apapun aku memandang, aku hanya melihat mu
Setiap kali mata ini terpejam, kamu selalu hadir di sana
Tak pernah se detik pun aku melupakan mu
Semuanya masih utuh hanya untuk mu
Sayang..
Kamu pergi terlalu cepat
Bagaimana bisa aku melewati hari-hari tanpa mu?
Kamu membunuh ku perlahan dan begitu menyakitkan
Tahukah kamu jika cinta ini membuatku gila?
Tunggu lah sayang..
Jika tubuhku sudah mencapai batasnya
__ADS_1
Aku akan segera menyusul mu ke sana..
I love you..
Air mata sudah menggenang di mata Ferdinan. Dia baru membaca satu lembar, masih ada lembaran lain yang mungkin akan membuat nya menangis. Dia melirik Hendy yang kembali memetik gitar nya.
(Bocah ini .. aku seperti melihat masa muda ku di dirinya)
"Bagaimana kuliah mu boy?" tanya Ferdinan setelah berhasil menahan air matanya. Dia tersenyum lembut.
"Lancar om. Bagaimana bisnis om?"
"Ya begitu lah.. Nama nya bisnis pasti ada pasang surut nya."
"Bang Aldo gimana?"
"Hah.. Anak itu.. Masih tetap keras kepala seperti biasanya. Dia belum mau pulang. Biarkan saja, nanti juga pulang sendiri kalau hatinya udah melunak."
Hendy hanya mengangguk.
Ferdinan duduk di samping Hendy. Sejenak dia memperhatikan cowok itu.
"Kamu kuliah di jurusan teknik komputer kan? Gimana kalau kamu magang di kantor cabang om?"
Pertanyaan Ferdinan spontan membuat Hendy berhenti memainkan gitarnya.
"Emang gak apa-apa om? Kan masih semester awal juga kuliah nya."
"Why not? Om ingin tahu talenta kamu. Lagi pula kantor sebesar itu hanya punya 1 staf IT. Kalau kamu mau, kamu bisa langsung magang di sana besok. Dan kalau emang kamu berbakat, om pastikan kamu akan bergabung menjadi pegawai tetap di sana. Gimana?"
Hendy tersenyum lebar. Tidak mungkin dia menolak tawaran emas seperti itu. Tanpa ragu dia setuju dan dengan girang nya turun ke bawah untuk mengabarkan hal bagus ini ke Bi Laila dan Pak Suroso.
Ferdinan hanya tertawa melihat tingkahnya.
"Good.. dengan begini luka di hatinya akan sembuh perlahan-lahan." gumamnya.
__ADS_1