Sang Gitaris

Sang Gitaris
Penantian yang Terbayarkan


__ADS_3

Hendy memarkir motornya tak jauh dari pintu basemen. Dia segera membuka helm nya yang membuat beberapa cewek yang melintas menoleh mengagumi makhluk tampan ciptaan Tuhan itu.


"Semoga masih keburu." ucapnya sambil melihat arloji. Dia bergegas menuju bioskop di lantai 3.


"Hen!" panggil Mega dari kejauhan sambil melambaikan tangan.


"Hai.. Sorry ya tadi macet banget. Belum dimulai kan filmnya?"


"Belum, tapi mau dimulai sekarang. Buruan!" Mega menarik tangan Hendy.


Cowok itu sudah terbiasa dengan sikap Mega yang spontan. Sudah 7 bulan mereka berdua menjalin kedekatan.


Mega cewek yang cenderung ramai, penuh spontanitas, dan agak kekanakan. Entah kenapa Hendy seperti ikut arus yang dibuat Mega. Benih-benih cinta mulai tumbuh untuk gadis itu.


Hendy dan Mega duduk bersebelahan melihat film horor yang sudah lama ingin dilihat Mega.


Sepanjang film Mega sering berteriak saat hantu muncul. Tak jarang dia memeluk Hendy kuat-kuat. Hendy pun hanya tertawa melihat kekonyolan gadis itu.


Setelah 2 jam mereka pun keluar dari bioskop. Mega menggandeng tangan Hendy tanpa sungkan, namun di dalam hatinya dia sedikit was-was. Takut kalau Hendy menepis tangannya. Tapi di luar dugaan Hendy membiarkan tangan itu bergelayut manja lengannya.


Mereka duduk di salah satu food court.


"Em.. Hendy.. Aku.." Mega gelagapan saat Hendy menatapnya dari seberang meja sambil tersenyum.


(Ya ampun.. ganteng banget..)


"Apa?" tanya Hendy.

__ADS_1


Mega menarik napas dalam sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Aku suka kamu Hen.. Aku ingin jadi pacar mu."


(Gila lo Meg.. berani banget!)


Hendy masih diam, dia hanya melihat wajah Mega yang mulai memerah. Senyum simpul tersungging dari bibirnya. Mega pun melirik ke arah Hendy.


"Aku suka kamu sejak pandangan pertama Hen, sejak kamu acuhkan aku waktu itu."


"Apa yang buat kamu suka sama aku?"


"Aku gak bisa jelasin. Ada kelembutan di balik sikap dingin kamu, itu yang membuat aku nyaman. Aku gak bisa berhenti mikirin kamu."


Hendy tersenyum mendengar jawaban Mega. Dia meraih tangan cewek itu dan menggenggamnya.


"Oke.. Mulai sekarang kita pacaran."


Pergerakan kecil dari tangan mungil itu membuat Artur tersentak kaget. Dia memandangi wajah pucat itu dengan harapan yang muncul kembali setelah sekian lama.


"Kamu tahu nona? Dokter tua itu memarahi ku lagi. Aku heran kenapa dia selalu seperti itu, padahal aku sudah melakukan yang dia perintahkan. Menurut mu apa aku perlu menyembunyikan buku catatan pasien nya?" Artur tersenyum. Dia membelai rambut cewek yang tengah berbaring di samping nya.


Tanpa disangka cewek itu membuka matanya perlahan. Artur sontak berdiri kegirangan. Sudah hampir 2 tahun sejak cewek ini koma akibat sebelah ginjalnya terkoyak. Walau sempat putus asa, dokter muda itu tetap bersikukuh merawatnya dan hasilnya.. Penantian itu terbayarkan sekarang.


"Nona? Apa yang kau rasakan? Bagian mana yang sakit?" Artur lebih mendekatkan wajah ke pasien kesayangan nya. Segera dia terpesona oleh keindahan sorot mata yang masih terlihat lemah itu.


(Cantik..)

__ADS_1


"Dokter?" cewek itu menyadari ada balutan perban di perut rampingnya. Dia menoleh ke arah dokter muda yang selama ini merawatnya. Artur mencoba tersenyum. Dia mulai menjelaskan apa yang terjadi.


"Kamu.. harus merelakan sebelah ginjal mu nona."


"Ginjal?" tanya gadis itu lemah.


"Iya.. Aku menemukan kamu di antara reruntuhan bangunan dengan kondisi berlumuran darah. Aku tidak menemukan identitas apapun di sekitar mu jadi aku memutuskan membawamu kesini. Saat aku periksa lagi ada bongkahan kayu menancap tepat di salah satu ginjal kamu dan sedikit menyerempet ginjal yang lain. Aku terpaksa mengangkat bagian yang rusak."


Gadis itu hanya menghela napas sambil mengelus perban di perutnya.


"Jadi.. aku cuma punya 1 ginjal sekarang.." ucapnya sambil tersenyum.


Artur memandang takjub ke arahnya. Dokter muda itu menyadari pasiennya adalah orang istimewa. Dia begitu tenang untuk seorang pasien yang kehilangan salah satu organ tubuh. Tidak seperti pasien lain yang akan langsung histeris mendengar kabar buruk ini.


"Jadi dokter.. sudah berapa lama aku koma?" dia menoleh ke arah Artur yang masih menggenggam tangannya.


"Hampir 2 tahun."


Dia kembali mengangguk.


(Sudah selama itu rupanya..)


Artur tak bisa memungkiri kecantikan gadis ini, apalagi dengan ketenangan seperti itu mana mungkin hatinya tidak luluh.


"Terima kasih dokter. Aku berhutang nyawa padamu." senyum simpul kembali tersungging di bibir manisnya.


"Panggil aku Artur." dokter muda itu pun ikut tersenyum.

__ADS_1


"Lalu siapa namamu?"


"Rani." ucapnya lirih.


__ADS_2