Sang Gitaris

Sang Gitaris
Rasa yang Tak Terbendung


__ADS_3

"I love you.."


Kata-kata itu kembali terucap dari bibir Artur. Rani diam mematung dengan ekspresi lucu. Dia tahu betul orang yang sedang mengigau di tengah sakitnya tidak mungkin berbohong.


Hal yang ditakutkan nya benar-benar terjadi. Bagaimana dia harus menghadapi situasi ini? Apakah sudah saatnya dia membuka hati untuk Artur?


Tok tok..


"Non, ini obatnya." Mang Asep sudah membawa sekantong obat dan bahan makanan pesanan Rani.


"Makasih mang. Oya mang,Rani malam ini mau nemenin Artur di sini. Mamang ikut nemenin juga ya." pinta Rani.


Mang Asep pun setuju. Dia juga tidak mau ada berita burung yang kurang enak didengar jika membiarkan Rani menginap sendirian di apartemen seorang cowok.


Pria itu memilih berjaga di ruang tamu ditemani secangkir kopi yang di beli nya di minimart tadi.


Rani dengan telaten merawat dokter muda itu. Mulai dari memberikan obat, mengompres dahinya, dan mengukur suhu tubuhnya setiap satu jam. Cowok itu masih saja mengigau dan hanya menyebutkan nama Rani.


"Akhirnya turun juga.." ucap Rani sambil melihat termometer.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan jam 5 pagi dan dia terus terjaga semalaman karena takut demam Artur semakin parah. Alhasil ada lingkaran hitam di sekitar kedua matanya.


Rani melongok ke ruang tamu dan melihat Mang Asep yang sudah ber senam ria dengan lincahnya. Dia tersenyum dan kembali melangkah ke dapur untuk membuat sarapan. Cewek itu berkutat kurang lebih satu jam di sana.


"Ran.."


Rani menoleh ke sumber suara. Di lihat nya Artur sudah berdiri di pintu dapur dengan kompres yang masih menempel di dahinya.


"Kamu kok udah bangun sih? Istirahat aja.. Kamu masih belum fit lho.."


Rani meletakkan punggung tangan nya di dahi dan pipi Artur. Cowok itu melihat lingkaran hitam yang samar-samar di sekeliling mata Rani dan itu membuat hatinya sedih.


Rani terlihat ceria dan tidak begitu memperhatikan perubahan ekspresi di wajah cowok di hadapannya.


Rani berbalik untuk menyelesaikan memasak nya namun seketika tangan Artur melingkar di bahu dan pinggang cewek itu. Menarik tubuh mungilnya ke dalam pelukan Artur yang terasa hangat.


"Maaf Ran.. aku udah gak bisa nahan ini lebih lama." ucap Artur sambil memejamkan mata.


Rani hanya diam menunggu, namun hati nya pun tak bisa berbohong. Pelukan Artur membuatnya nyaman dan senang.

__ADS_1


Bagaimana ini? Dia masih mencintai Hendy tapi semua perlakuan Artur padanya selama ini telah menumbuhkan perasaan yang sama untuk cowok tampan yang tengah memeluknya sekarang, walaupun sedikit.


(Sepertinya cinta ini mulai tumbuh buat kamu Artur)


"Aku sayang kamu, aku cinta kamu." Artur mencium bahu Rani dengan lembut.


"Artur..aku.."


"Aku ngerti.. Gak apa-apa kalau kamu masih mencintai dia. Aku hanya butuh sedikit perhatian dari kamu. Bahkan kalau kamu nerima cinta aku karena kasihan atau balas budi pun, aku juga gak keberatan. Asal kan kamu mau berada di samping ku walau sebentar. Izinkan aku tetap mencintai kamu, itu aja udah cukup."


Kata-kata Artur begitu menyakitkan bagi Rani. Dia merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia karena membuat cowok ini terluka dengan perasaannya. Bahkan dia tak keberatan untuk menjadi kekasih bayangan Rani.


Rani berbalik menatap Artur dan kedua mata mereka bertemu. Sungguh Artur benar-benar telah dimabuk cinta. Dia sudah terlanjur tenggelam oleh rasa cintanya kepada pemilik mata hazel itu.


"Kasih aku sedikit waktu untuk menata kembali hatiku, bisa?"


Tanpa berkata apapun cowok itu menarik Rani ke pelukannya sekali lagi dan dia mengangguk.


"I'll be waiting.."

__ADS_1


Inilah salah satu hal yang membuat Rani kagum pada sosok itu, kedewasaan nya dalam bertindak yang belum dimiliki Hendy.


__ADS_2