Sang Gitaris

Sang Gitaris
Perpisahan


__ADS_3

"Perancis?" sontak Hendy terbelalak. Baru saja mereka berdua berbaikan, tapi sekarang Rani akan meninggalkannya lagi dan kali ini dalam jangka waktu yang lama.


"Dengerin dulu sayang.." Rani mencoba menenangkan pacarnya yang saat ini mungkin seperti terkena petir di siang bolong.


"Aku udah bilang kan kemarin. Kalau kamu ingin bunuh aku, langsung aja tancapin pisau dalam-dalam ke jantung ku jadi aku bisa langsung mati. Apa kamu lebih suka nyiksa aku sayang?" tanya Hendy dengan wajah suram. Tersenyum tapi senyum itu sama sekali bukan senyum bahagia.


Rani membelai pipi nya. Dia pun berat untuk mengatakan semua ini. Tapi bagaimana pun dia sudah memutuskan akan tetap pergi ke sana karena ada alasan kuat dibalik kepergiannya.


"Sayang.. Aku masih punya nenek di Perancis. Beliau hidup seorang diri dan hanya di temani seorang pembantu setianya. Dia butuh aku.."


"Terus aku gak?" tanya Hendy. Kesedihan terlihat jelas di kedua bola matanya.


Rani menghela napas. Dia harus ekstra hati-hati dalam memilih kata-kata.


"Sayang.. Nenek adalah orang yang paling berjasa buat ku. Saat mere meninggal, beliau lah yang mengasuh ku sampai aku cukup kuat menerima kenyataan pahit itu. Beliau sudah berumur 94 tahun, sudah saatnya aku berbakti dan menemani masa senjanya. Umur manusia rahasia Tuhan kan.."


Rani sejenak menghentikan bicara nya, dia berharap pacar nya ini mengerti.


"Just four years honey.. Please.."


Hendy tidak bisa lagi mempertahankan egonya. Gesture dan intonasi suara Rani apalagi dengan hati yang begitu mulia tentu saja berhasil meluluhkan cowok keras kepala ini.


Dia pun akhirnya mengerti walaupun pasti berat sekali baginya menjalani hari-hari nya tanpa Rani.


**

__ADS_1


Akhir pekan pun tiba. Hari ini adalah perayaan kelulusan SMAN Nusa Dua. Stars diminta tampil untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka berkarier di dunia luar.


Seluruh personil tampil maksimal dengan bakat nya masing-masing termasuk Hendy. Permainan gitar nya menghipnotis seluruh penonton yang menghadiri acara tersebut.


Lima cover lagu melankolis dibawakan Stars dengan epik hari ini. Di sela-sela acara para siswa dan guru pun saling bersalaman.


Fans Stars pun terisak melepaskan idola mereka. Semuanya maju ke depan panggung untuk sekedar ikut bernyanyi dan mengambil foto.


Rani menyilang kan tangannya di depan dada. Dia memperhatikan penampilan Stars dari samping panggung sambil bersandar pada sebuah pohon.


"Gue bakal kangen lo." Oliv tiba-tiba muncul dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.


"Ya ampun Liv.. Lo kenapa cengeng gini sih.." Rani tak bisa menahan tawanya saat melihat Oliv yang seperti itu.


"Gue bakal kesepian Ran.." tangis Oliv semakin keras. Rani spontan membekap mulut gadis itu dengan kedua tangannya.


"Ssttt.. Malu dilihat temen-temen! Diem ah! Dikiranya lo gue apain." Rani melotot gemas ke sahabatnya itu. Mereka pun berpelukan dan Oliv masih meneruskan tangisan nya.


Hendy melirik adegan itu dari atas panggung. Entah kenapa hatinya tidak tenang, seperti ada sesuatu yang buruk sedang mengintai.


Dia pun bergegas mendatangi Rani saat selesai manggung dan tiba-tiba memeluknya.


"Wow.. ada apa sayang?"


"Gak.. aku cuma ingin meluk kamu." dia mencoba menyembunyikan ketakutannya dari Rani.

__ADS_1


"Aku janji akan ngabarin kamu setiap hari." ucap Rani di dada cowok tampan itu yang hanya dijawab dengan anggukan kepala.


Beberapa jam kemudian Rani dan Hendy tiba di bandara di susul Leo dan Oliv. Sebelum masuk ke gerbang terakhir, Rani menoleh memperlihatkan senyum terbaiknya untuk mereka semua terutama untuk Hendy yang terlihat berkaca-kaca.


**


Keesokan harinya..


"Hai sayang.. Aku baru sampai nih!" Rani tersenyum cerah di layar handphone. Dia baru saja tiba di bandara Perancis dan berjalan keluar menunggu taksi yang dipesannya.


"M.. Senengnya yang mau ketemu nenek.." goda Hendy. Dia sudah bisa menerima kenyataan setelah Leo dan Oliv memberinya petuah-petuah panjang tentang cinta.


"Ahaha.. iya dong.. Eh sayang.." ucapan Rani terputus. Dia melihat sekeliling dengan raut wajah bingung.


"Sayang? Kenapa?" Hendy tahu ekspresi Rani berubah. Rani tidak menjawab pertanyaannya.


Layar handphone nya mulai bergetar dan menyorot ke arah yang tidak tentu. Hendy bingung, hatinya semakin kacau melihat pemandangan itu.


"Ran! Sayang! Kenapa? Apa yang terjadi?!"


Rani masih melihat sekeliling dengan ekspresi was-was. Namun samar-samar Hendy bisa membaca apa yang dikatakan Rani.


"Earthquake.."


Seketika semuanya menjadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2