Sang Gitaris

Sang Gitaris
Seseorang dari Masa Lalu


__ADS_3

Sudah 3x Hendy berusaha mendekati Rani hari ini, 3x pula Rani mendorong pelan tubuh pacarnya agar menjauh.


Dia berpikir keras, kenapa sesampainya di Tanah Lot Rani sama sekali tidak mau didekati. Membuat pemuda tampan itu penasaran dan semakin ingin mendekat.


Saat dia berusaha mendekat untuk yang keempat kalinya, Leo langsung menyambar lehernya dan menariknya ke tempat lain.


"Uhuk..uhuk.. Gue gak bisa napas kampret!" protes Hendy berusaha melepaskan lengan Leo yang entah sejak kapan menjadi lebih berotot.


"Ya lo tuh beg* banget! Lo ingin putus sama Rani?!"


"Enggak lah!" ucap Hendy sambil memegangi lehernya.


"Kalau gitu ngapain lo deketin dia di sini?"


"Emang kenapa.. pacar gue sendiri kok."


"What!" Leo tidak habis pikir dengan jawaban santai sahabatnya itu. Segera dia menjitak kepala Hendy keras-keras, tapi meleset.


"Lo dengerin penjelasan guide gak sih?"


"M..denger sih.." Hendy memalingkan wajahnya dari Leo yang semakin curiga. Bagaimana dia bisa mendengarkan penjelasan guide jika isi kepalanya hanya ada Rani.


"Lo tuh.. astaga nih anak.." Leo menepuk dahinya, "Hah.. kenapa sohib gue jadi bolot gini sih kalau jatuh cinta." dia menggerutu seperti ibu yang sedang memarahi anaknya.


Leo pun mulai bicara panjang lebar tentang apa yang sudah dijelaskan guide sehingga Hendy mulai mengerti kenapa Rani tidak mau didekati.


Untuk sekitar 20 menit, semua siswa SMAN Nusa Dua menghabiskan waktu mereka menikmati pemandangan yang disuguhkan di sana.


Suasana semakin indah saat matahari mulai terbenam, membuat mereka terkagum-kagum tak terkecuali Hendy. Sungguh indah ciptaan Tuhan..

__ADS_1


Suasana sudah mulai gelap. Mereka menuju restoran untuk makam malam. Tampak di salah satu sudut ruangan ada 6 orang pemuda yang sepertinya membahas sesuatu yang serius, mereka lah Stars dengan personil lengkap.


"So, gimana Can? Ini masalah karir kita juga buat ke depan nya." tanya Akbar yang menempati posisi rhythm.


"Gimana menurut lo Rud?" Candra melemparkan pertanyaan pada drummer nya, Rudy.


"Apa gak sebaiknya kita tetap pakai nama Stars aja? Bukan tanpa alasan sih, tapi selama ini kita dikenal dengan nama itu." ucap Rudy sambil memakan kentang goreng.


Candra berpikir sejenak. Memang benar yang dikatakan Rudy.


"Lo Hen?"


"Gue ngikut aja." jawabannya disertai anggukan kepala Leo dan Zein, pianis.


"Oke kalau gitu kita tetap pakai nama Stars walaupun kita udah lulus. Tapi kita perlu izin dulu ke pembina."


"Gue aja yang urus." ucap Hendy sambil beranjak dari kursinya. Kebetulan Pak Arya adalah pembina mereka.


Hendy tersenyum lebar dan berjalan kembali menuju ke tempat duduknya. Tapi langkahnya terhenti saat seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"M.. tumben nih nyerang duluan? Biasanya juga aku yang agresif." Hendy tersenyum sambil mengusap lembut tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Wah.. jadi kamu udah bisa agresif sekarang?"


Hendy langsung membalikkan badannya saat mendengar suara cewek yang tengah memeluknya. Dia baru menyadari itu bukanlah suara Rani. Segera matanya terbelalak kaget melihat sosok yang sedang tersenyum memandangnya.


"Maria?!"


Seorang cewek berambut hitam panjang berdiri sambil terus memeluknya, membuat seisi restoran kaget dan bertanya-tanya siapa cewek itu.

__ADS_1


Pertanyaan yang sama juga hinggap di kepala Rani. Cewek cantik itu menatap tajam ke arah pacarnya yang berada di pelukan cewek lain sekarang.


Hendy tidak menyadari jika dia masih di pelukan Maria sampai tanpa sengaja matanya dan Rani bertemu. Dia segera melepaskan Maria.


"Kamu kok bisa ada disini?"


"Sekolah ku juga rekreasi ke Bali tahun ini Hen." dia menghentikan ucapannya, "jadi siapa cewek yang kamu bilang agresif tadi?" tanyanya menyelidik. Tampak dari raut wajahnya dia tidak begitu suka.


"Pacarku." jawab Hendy singkat.


"What? Pacar? Kamu punya pacar?"


"Yup."


"T..tapi.. Hen aku gak terima ya! Dulu kamu nolak aku dengan alasan ingin fokus, tapi sekarang kamu pacaran sama cewek lain!" emosi Maria meledak. Suaranya kini memenuhi restoran.


Sama seperti Tya, dia mencintai Hendy sejak lama, sejak mereka duduk di bangku SMP. Tapi sekalipun Hendy tak membalas cintanya.


"Mana cewek itu! Aku yakin dia gak lebih cantik dari aku!" Maria menyapukan pandangan ke seisi restoran.


Pandangannya berhenti saat seseorang mendekat dan menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Hendy.


"Ini siapa sayang?" Rani muncul dengan tersenyum simpul. Dia menatap Maria yang kaget dengan apa yang baru dia lakukan.


Hendy balas tersenyum. Dia tahu Rani cemburu, tapi dia tidak menyangka Rani bisa semanis ini.


"Sayang, kenalin ini Maria. Temen SMP ku."


Rani menjulurkan tangannya yang segera ditepis Maria. Sebenarnya Maria ingin melabrak pacar Hendy, namun setelah melihat Rani entah kenapa kata-katanya tertahan. Dia tidak bisa memungkiri pesona Rani walaupun mereka sama-sama perempuan.

__ADS_1


(****! Nih cewek cantik banget! Gimana bisa gue melabrak dia kalau penampakan nya kayak gini!)


__ADS_2