
Rani memperhatikan Hendy yang tertidur pulas. Sungguh wajah itu begitu tampan walaupun lingkaran hitam samar-samar mengelilingi kedua matanya.
Rani bertopang dagu memperhatikan setiap lekuk wajah Hendy. Kini hanya selang infus yang masih menancap di tangan pacarnya.
Tok tok..
Masuk lah Pak Arya ke dalam ruangan.
"Rani.. Bagaimana keadaan Hendy?" dia meletakkan sebuah bingkisan di meja dan duduk di samping Rani.
"Sudah lebih baik pak. Tinggal pemulihannya yang membutuhkan waktu lama. Dokter bilang bisa 4-5 bulan sampai Hendy benar-benar sembuh.
"Syukurlah kalau gitu.." Pak Arya lega mendengar anak didiknya sudah melewati masa kritis,
"Rani, ada masalah yang harus bapak sampaikan."
Pak Arya mengajaknya sedikit menjauh agar tidak mengganggu Hendy.
"Anak yang menyerang Hendy sudah di tangkap, tapi orang tuanya tidak bisa menerima dan malah menuduh kamu sebagai awal mula permasalahan ini.
"Hah? Saya bingung pak.. Saya bahkan gak kenal Maria."
"Itu salah satu cara agar anak mereka tidak dijebloskan ke penjara dengan mengkambing hitamkan kamu."
Rani hanya bisa diam. Keluarga Maria lebih gila dari dugaan nya. Dia berpikir bagaimana cara mengatasi semua ini.
Tok tok..
Rani terbelalak melihat orang yang baru masuk. Seorang lelaki memakai kaca mata hitam berdiri dengan gagahnya. Tangan kirinya memegang tas yang amat besar.
__ADS_1
"Ayah?!"
Rani menghambur memeluk ayahnya yang disambut dengan pelukan hangat dan kuat. Aroma parfumnya tetap se harum biasanya.
"Bagaimana kabarmu sayang? Ayah kangen banget.." Ferdinan mengecup lembut kepala putrinya.
"Rani baik-baik aja. Kenapa ayah gak ngabarin dulu kalau mau pulang?"
"Biar kamu kaget dong." senyum mengembang di bibir pria itu. Setelah beberapa saat dia melepaskan pelukannya dan mendekati Hendy yang masih tertidur.
Dia mengusap kepala Hendy dan entah kenapa air mata tiba-tiba menetes dari cowok tampan itu. Dia pun membuka mata. Kerinduan nya akan kasih sayang orang tuanya seakan terobati dengan sentuhan lembut Ferdinan.
"Maafkan saya om.." bisik Hendy.
Ferdinan tertawa renyah, memperlihatkan guratan halus di sekitar matanya.
"Boy.. Apa yang perlu ku maaf kan? Aku sudah mendengar semuanya dari Pak Arya. Kamu sudah berani mencintai putriku dan sudah membuktikan nya."
"Tapi lihatlah luka ini, kenapa tubuh keras seperti ini bisa ditembus sebuah pisau kecil?" seperti biasa Ferdinan melemparkan humor yang bahkan tidak lucu sama sekali.
"Lalu masalah anak bernama Maria itu, Pak Arya saya perlu membicarakan masalah ini lebih lanjut." Ferdinan dan Pak Arya meninggalkan ruangan Hendy.
Rani menatap kepergian kedua orang tua itu dengan masih mematung di pojok ruangan.
"Sayang.."
Suara lirih Hendy membuyarkan lamunan Rani. Dia mendekati pacar tersayang nya. Cowok itu mendengus menahan perih.
"Sakit lagi?" Rani mengusap lembut dada Hendy.
__ADS_1
"Dikit." dia melirik pacarnya dan menarik napas, "Ayah kamu humble ya." Hendy tersenyum.
"Dan susah ditebak. Selera humor nya juga jelek." Rani memanyunkan bibir tipisnya.
Rani membenarkan posisi selimut Hendy, dia teringat ucapan Bi Laila tentang orang tua Hendy. Terlihat jelas dia sangat merindukan pelukan orang tuanya.
"Kamu bisa menganggap ayah ku sebagai ayah kamu juga."
Hendy pun kaget mendengar hal itu.
"Beliau juga pasti tidak keberatan kalau kamu butuh pelukan darinya. Tapi jangan meminta hal yang sama ke Bang Aldo. Dia ada di tahap yang berbeda. Dia bisa langsung melempar kamu ke danau buaya!" Rani mendeskripsikan kakaknya seolah-olah dia makhluk buas dari alam lain.
Hendy tak kuasa melihat ekspresi Rani yang menggemaskan.
"Cium." rengek cowok itu.
Dia menarik Rani untuk lebih mendekat. Segera Rani memposisikan telapak tangannya sebelum bibir nya menyentuh bibir Hendy. Cowok itu tersenyum dan malah menarik Rani ke pelukannya.
Rani menggeliat mencoba melepaskan Hendy yang semakin erat memeluknya. Kekuatannya telah berangsur-angsur pulih. Rani heran dengan perilaku pacarnya ini, dia hanya bisa menurut.
"Kenapa sayang?"
"Ssttt.. Diem dulu. Tetaplah seperti ini sampai aku tertidur." Hendy memejamkan mata dengan Rani yang masih di pelukan nya.
"Lain kali kalau aku bertindak bodoh di depan kamu, pukul aku sekeras-kerasnya."
Rani hanya mengangguk mendengar permintaan Hendy. Tak berapa lama sudah tak ada lagi suara yang terdengar, menandakan bahwa Hendy tertidur.
Rani memandangnya dan memberikan ciuman kecil di bibir Hendy.
__ADS_1
"I love you.."