
Pak Arya baru saja selesai menghisap rokok yang kedua saat Maria berjalan melewatinya. Cewek itu berjalan gontai dengan tatapan kosong.
"Aneh sekali anak itu." gumamnya.
Pak Arya masih menatap cewek itu sampai menyadari sebuah pisau dengan darah segar masih menetes dari ujungnya yang tajam.
Baru saja dia akan menghentikan cewek itu saat Rudy berlari melewatinya dan menjatuhkan tubuh Maria dengan satu tangan. Di belakang nya ada beberapa siswa lain yang juga ikut mengamankan Maria.
Pak Arya terbelalak melihat anak didiknya bertindak seperti itu pada seorang gadis.
"Rudy! Apa-apaan kamu!"
"Pak jangan peduliin saya! Hendy butuh pertolongan karena perbuatan cewek ini! Cepetan pak! Darah nya banyak banget!"
"Hendy? Darah? Apa maksudnya?"
Saat dia berusaha mencerna kata-kata Rudy, sebuah ambulance berhenti di pintu masuk restoran. Tampak segerombolan siswa dibantu beberapa staf restoran membopong tubuh Hendy masuk ke dalam.
"Hendy!"
Pak Arya berlari ikut masuk ke dalam ambulance. Di depannya Hendy berbaring lemah tak sadarkan diri. Di samping kiri dan kanannya para petugas sibuk memberikan pertolongan pertama.
Takut dan bingung menyerang lelaki paruh baya itu. Dia bertanya ke Leo yang tampak juga ketakutan sambil menahan tangis.
"Leo kenapa Hendy bisa kayak gini!" Pak Arya mengguncang bahu Leo.
"Dia.. dia.." tubuhnya bergetar.
"Tenang nak!" Pak Arya kembali mengguncang Leo yang dilanda shock. Leo tak kuasa menahan tangis, dia menumpahkan air mata nya sambil menceritakan apa yang terjadi.
__ADS_1
***
"Aww!" Rani tak sengaja menyayat jarinya saat memotong bawang. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang sejak tadi.
Dia menarik napas dalam dan menepuk dadanya berkali-kali tapi hal itu sama sekali tak membantu. Dia melihat bayangan Hendy di mana pun.
(Ada apa ini sebenarnya? Kenapa wajah tampannya selalu muncul? Kenapa hatiku merasa gak tenang?)
Ting tong..
Bel rumah Rani berbunyi. Oliv langsung berlari masuk saat si mbok membuka pintu. Tanpa mengatakan apapun dia pun menarik tangan Rani.
"Oliv! Tunggu ini ada apa sih?" Rani mencoba menanyakan tingkah aneh sahabatnya.
"Gak ada waktu buat jelasin Ran! Kita harus cepet ke RS Setya Sentosa sekarang!"
"T..tapi."
***
Bi Laila menangis sejadi-jadinya di luar UGD. Bagaimana bisa tuan mudanya mengalami hal mengerikan seperti ini. Pak Suroso pun hanya bisa memeluk istrinya yang begitu terpukul. Tak jauh dari mereka Pak Arya dan Leo juga sangat kuatir.
Tak berapa lama, Rani muncul dengan berlari di ikuti Oliv dibelakangnya. Ekspresi marah dan kuatir menjadi satu. Dia berdiri terengah-engah menyapukan pandangannya ke semua orang di sana.
Air matanya menetes saat melihat darah yang begitu banyak di baju Leo. Rani menghampiri Leo dan menarik kerah bajunya.
"Jelasin." suara Rani terdengar parau. Mata indahnya memerah dengan air yang menggenang di sana.
Leo mengusap bahu Rani. Dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Leo jelasin ke aku apa yang terjadi!"
Pak Arya dan Oliv berusaha melepaskan cengkeraman Rani. Oliv bahkan ikut menangis. Rani kembali melihat baju Leo dan kini kekuatannya lumpuh. Dia menangis tersedu-sedu di pelukan Oliv.
6 jam telah berlalu. Mereka berenam masih menunggu kabar dari dokter yang mengoperasi Hendy.
Beberapa saat kemudian sang dokter keluar dan mengabarkan bahwa operasi Hendy berhasil. Dia hanya mengijinkan satu orang saja untuk menjenguk Hendy sekarang.
Bi Laila memandang Rani yang dijawab dengan anggukan kepala cewek itu. Saat ini pengasuh Hendy lebih berhak menemaninya daripada Rani.
**
Hendy masih belum sadar setelah 15 jam berlalu. Kini hanya tinggal Rani dan Bi Laila yang masih bertahan di sana. Pak Arya dan Leo pergi mengurus kasus ini ke kantor polisi setelah mendapat telepon dari Rudy, sedangkan Pak Suroso mengantar Oliv pulang ke rumah.
"Non.. Makan dulu." Bi Laila menyodorkan sebungkus nasi untuk Rani.
"Untuk bibi aja. Bibi juga belum makan kan?" Rani menolak halus sambil tersenyum. Senyum yang bahkan masih terlihat cantik dibalik kesedihan di wajahnya.
Bi Laila menarik napas. Dia sudah mendengar semua cerita Leo sampai akhir. Dia pun menggenggam tangan Rani.
"Den Hendy tumbuh sendirian sejak kecil. Tuan dan Nyonya selalu sibuk sama pekerjaan masing-masing hingga membuatnya kurang kasih sayang. Hanya bibi dan bapak yang menemani aden saat senang dan sedih menggantikan orang tua kandungnya. Tapi walau bagaimana pun dia tetap haus kasih sayang dan dia tumbuh jadi sosok yang dingin."
Ada sedikit jeda sebelum Bi Laila meneruskan ceritanya.
"Sejak aden kenal Non Rani, bibi bisa ngerasain aden mulai berubah. Sedikit demi sedikit sosok dingin itu mencair menjadi hangat dan ceria. Bibi masih ingat betul betapa senangnya aden saat Non Rani menerima cintanya."
Rani mendengar cerita Bi Laila tanpa berkomentar.
"Percayalah non, aden bukan tipe laki-laki yang bisa mempermainkan hati perempuan. Dia hanya sanggup mencintai satu orang dan orang itu adalah Non Rani."
__ADS_1
Hati Rani tersentuh mendengar semua itu. Dia hanya bisa berdoa semoga Hendy cepat sadar hingga dia bisa kembali melihat senyum di wajah tampan itu.