Sang Gitaris

Sang Gitaris
Penyelesaian Masalah


__ADS_3

"Kenapa putri saya bisa terseret masalah ini?" tanya Ferdinan dengan ekspresi serius.


"Mereka menganggap kalau seandainya Hendy tak berpacaran dengan Rani, Maria tidak akan melakukan hal senekat itu."


"Apa-apaan alasan itu!" Ferdinan sangat marah dengan keluarga Maria. Gadis itu yang membuat masalah, putri kesayangan nya yang kena imbasnya.


Kring kring..


"Ayah, ada keadaan darurat apa?" suara Aldo terdengar kuatir.


"Kamu dimana jagoan?"


"Aldo baru keluar dari pedalaman Kalimantan. Ada apa sih yah?" pemuda itu semakin penasaran karena sang ayah tak kunjung menjelaskan.


Ferdinan menjelaskan semua dengan sangat hati-hati. Dia tahu betul Aldo tak akan mentolerir siapapun yang mengganggu Rani. Dan seperti dugaan, pemuda itu marah besar. Dia bahkan bilang akan membakar kompleks perumahan yang ditempati Maria dan keluarganya.


(Astaga...sudah kuduga sifat gilanya dia peroleh dariku..)


"Tenang boy.."


"Gimana Aldo bisa tenang sih yah! Gimana kalau Rani yang diserang?! Aldo gak bisa ngebiarin ini!"


"Apa kamu ngeraguin kemampuan ayah tua kamu ini jagoan?"


Aldo baru teringat siapa ayahnya. Dia lupa sang ayah mempunyai koneksi yang tak bisa dianggap remeh, mulai dari pejabat terhormat sampai penjahat bajing*n kelas kakap. Beliau punya teman dari berbagai lapisan masyarakat yang ke setia kawanan nya tidak diragukan lagi.


"Serahkan ini padaku nak." Ferdinan menenangkan putranya agar tidak kuatir.


"Tapi Aldo tetap ingin ikut menemui mereka."


"Oke... as your wish.. Pulang lah saat tugas kamu selesai."


Pak Arya mendengar semua percakapan ayah dan anak itu dengan geleng-geleng kepala. Sungguh keduanya pria gila yang begitu menyayangi Rani.


**


Seminggu kemudian..


"Keluarin Maria dari sini pa.. " rengek Maria disela jam besuk di penjara.

__ADS_1


"Papa lagi ngusahain itu sayang." dia menoleh ke arah istrinya.


"Kemungkinan terburuknya kita gak bisa ngelepasin Maria dari hukum yang menjeratnya."


"Kalau gitu seret juga anak yang bernama Rani itu! Dia juga harus dipenjara kalau Maria gak bisa dibebaskan!" pekik ibu Maria.


"Bonjour.."


Suara seorang lelaki membuat keluarga itu menoleh ke arahnya. Dia berdiri dengan senyum hangat, namun entah mengapa auranya mengerikan.


Ferdinan datang ke tempat dimana Maria ditahan, di sampingnya tampak Jonatan juga tersenyum sambil membawa koper besar ciri khas seorang pengacara.


Papa Maria berdiri sambil mengerutkan dahi. Sebelum dia bertanya, Ferdinan sudah lebih dulu buka suara.


"Ought.. apa saya mengganggu reuni keluarga anda?" ucapan nya begitu formal, membuat Jonatan tersenyum geli.


"Siapa anda?"


"Perkenalkan." dia menjabat Papa Maria dengan kuat. Pria itu sedikit terkejut dengan kekuatan tangan Ferdinan,


"Saya Ferdinan, ayah Rani."


Papa Maria merasakan aura yang tidak wajar dari pria yang menjabat tangannya.


Ferdinan menatap tajam wanita itu. Sungguh dia bersusah payah untuk menahan emosinya. Jonatan pun segera mengambil alih.


"Itu tidak mungkin terjadi nyonya. Rani bahkan tidak mengenal putri anda. Lagi pula apa yang telah dilakukan nya memang harus dipertanggung jawabkan."


Kedua orang tua Maria masih bersikeras untuk menyeret Rani dalam masalah ini.


"Maaf atas keterlambatan saya bapak ibu semua. Helikopter saya ada sedikit masalah."


Aldo masuk ke dalam ruang besuk sambil masih memakai seragam kebanggaannya dengan mode penyamaran di wajah. Papa Maria pun memicingkan mata melihat kedatangan pria muda itu.


Aldo mendekati pria itu.


"Oh bukankah anda Pak Joni? Jadi ini putri yang anda banggakan itu? Yang membuat anda jauh-jauh pulang dari Kalimantan hanya untuk membela kesalahannya?" ucapan Aldo membuat pria itu terdiam.


Ferdinan dan Jonatan saling memandang.

__ADS_1


"Kamu kenal bapak ini jagoan?"


"Sangat kenal." tatapnya tajam. Dia tahu betul siapa yang dihadapinya sekarang.


"Oh maaf yah, Aldo lupa." pemuda itu mencium tangan ayah dan paman nya.


"J..jadi.." Pak Joni bicara terbata-bata, keringatnya mulai bercucuran.


Ferdinan tersenyum dan menepuk bahu Pak Joni.


"I see.. Sepertinya saya gak perlu mengenalkan putra kebanggaan ku sekaligus kakak kandung Rani, benar begitu?"


Pak Joni pun terduduk lemas di kursinya setelah mendengar ucapan Ferdinan.


"Pa! Papa gak apa-apa?"


Papa Maria menoleh ke arah istrinya dengan pandangan menyerah. Dia kembali menatap ketiga lelaki dihadapannya.


"Maafkan kami pak. Kami berjanji akan bertanggung jawab dan tidak menyentuh Rani."


Ucapan Pak Joni membuat Maria dan mamanya kaget.


"Apa maksud papa!" tanya mama Maria emosi.


"Memang putri kita yang salah ma."


"T..tapi papa gimana sih!"


Pak Joni menatap tajam istrinya.


"Dari awal kita yang udah salah mendidik dia! Terlalu memanjakannya hingga dia jadi kayak gini!" bentaknya.


Mama Maria malu diperlakukan seperti itu oleh suami nya di depan umum. Dia berdiri dan mengancam akan tetap menyeret Rani.


Pak Joni semakin marah, dia pun menarik tangan istrinya.


"Jaga tingkah laku mu di depan atasanku!"


What?!

__ADS_1


Ferdinan dan Jonatan kompak menoleh ke arah Aldo yang tersenyum sengit memandang Pak Joni dan istrinya. Permasalahan itu selesai begitu saja saat Aldo datang.


"Lalu untuk apa aku disini?" tanya Jonatan yang hanya dijawab tawa jahil Ferdinan.


__ADS_2