Sang Gitaris

Sang Gitaris
Menghindar


__ADS_3

Hujan turun dengan deras nya sore itu. Hendy memandang keluar jendela kantornya. Tangan kanan nya masih setia menggenggam mouse, namun otaknya sama sekali tidak bisa berpikir.


Sudah seminggu berlalu sejak pertengkaran nya dengan Leo. Sampai sekarang mereka belum bicara satu sama lain.


Candra bahkan sampai memutuskan bahwa Stars tidak boleh manggung dulu di cafe x selama seminggu ini agar hubungan Hendy dan Leo tidak memanas dan mempengaruhi profesionalisme Stars di atas panggung.


Sejak saat itu, Leo sama sekali tidak tampak batang hidung nya. Jangankan muncul, membaca pesan Hendy saja tidak. Hendy mengira Leo masih marah padanya, padahal tanpa dia tahu Leo dan Oliv tengah sibuk mencari keberadaan Ferdinan dan Rani.


Sedangkan Mega, sifat kekanakan nya muncul. Dia ngambek berhari-hari dan tidak mau bicara pada Hendy walau pun cowok itu sudah berulang kali minta maaf padanya.


Hendy tak bisa berpikir lagi dan memutuskan berjalan-jalan di sekitar kantor untuk mencari udara segar setelah meminta ijin dari Aris.


**


Rani terjebak di sebuah apotek saat hujan deras itu turun.


Kring kring..


"Halo Ran, kamu gak lupa minum vitamin lagi kan hari ini?" tanya Artur dari seberang telepon.


"Gak kok.. ih bawel deh.. Ini aku baru beli lagi." tawa manis tersungging dari bibir mungil nya membuat Artur meleleh hanya dengan mendengar nya saja.


(Baru denger ketawanya aja jantung gue udah kayak gini, gimana kalau lihat orangnya langsung!)


"Eh tunggu, emang nya kamu dimana sekarang?"


"Di apotek, tapi jadi nyangkut di sini karena hujan."

__ADS_1


"Ya ampun Ran.. kamu bisa telepon aku kan. Biar aku bawain ke rumah kamu. Sama siapa belinya?"


"Sendirian. Lagian masak beli vitamin aja ngajak orang sekampung." Rani kembali tertawa. Entah kenapa dia sangat suka menggoda Artur dengan humor konyol nya.


"Kamu itu.. cckk." Artur semakin kuatir mengetahui Rani bepergian sendirian.


"Ya udah kamu di apotek mana? Aku jemput sekarang!" ucap cowok ganteng itu seraya merapikan dokumen di mejanya.


"Gak usah Artur.. Kamu lagi kerja juga kan. Aku bisa, ought.." Rani memegangi bekas luka nya yang terasa sakit.


"Ran? Rani? Kamu kenapa?" cowok itu semakin mencemaskan kondisi cewek yang dicintai nya. Pikirannya sudah tidak bisa tenang lagi sekarang mendengar rintihan kecil Rani.


Rani menghela napas berkali-kali dan meminum sebotol air mineral yang tadi dibelinya.


"Gak apa-apa.. Aku hanya.. keselek."


Rani hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah Artur yang dirasa berlebihan. Dia keluar apotek bermaksud menunggu Artur di luar setelah mengirimkan lokasinya ke dokter muda itu.


Deg!


Rani terbelalak mendapati pemandangan mengejutkan di depan matanya. Di seberang jalan Hendy tengah berjalan-jalan dengan memakai sebuah payung.


Cewek itu langsung menutupkan hoodie di kepalanya dan berbalik. Dia berharap semoga Hendy tak menyadari keberadaannya.


Disisi lain Hendy yang terlanjur sudah melihat Rani seketika menghentikan langkah nya. Dia memandang cewek yang berdiri di seberang jalan.


"Apa gue berhalusinasi?" dia mengucek matanya untuk memastikan tidak salah lihat. Dia yakin cewek itu pernah dilihatnya di suatu tempat, tapi dimana?

__ADS_1


Tanpa basa basi lagi, Hendy menyeberang jalan bermaksud menghampiri cewek itu.


"****!" Rani yang sadar Hendy semakin mendekat sontak berlari menjauh.


"Tunggu, hei!"


Rani berlari tanpa arah menerobos hujan. Dia tidak tahu harus kemana, yang penting bisa kabur dulu dari Hendy.


Dia melihat ke belakang dan benar saja Hendy masih mengejar nya dengan tubuh basah kuyup. Sepertinya cowok itu telah melemparkan payungnya entah kemana.


"Astaga.. Kenapa dia masih aja keras kepala!" Rani kembali berlari sambil menahan sakit yang menjalar di sekitar perut dan punggung nya.


Jantung Hendy berdetak cepat. Dia yakin baru saja melihat hazel di mata cewek itu saat dia menoleh.


"Gak mungkin.."


Dia semakin penasaran dan mempercepat larinya.


"Tunggu! Aku cuma ingin mastiin sesuatu!"


Kalimat itu lantas membuat langkah Rani semakin cepat. Ke mana pun itu, asal kan bisa lepas dari kejaran Hendy saat ini.


Rani berbelok menuju perumahan dan melihat deretan American Holly tak jauh di depan nya. Tanpa pikir panjang dia langsung menyelinap di antara pohon rimbun itu.


"Sial! Cepet banget larinya!" gerutu Hendy sambil celingukan mencari keberadaan Rani. Dia tak tahu Rani berjongkok beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Pohon itu berhasil menyembunyikan tubuh mungil Rani dengan sempurna.


(Ayolah Hen.. Jangan keras kepala dan berbalik lah!)

__ADS_1


Cewek cantik itu melihat handphone dan.. perfect. Benda kecil itu mati karena terkena air hujan.


__ADS_2