
Rani menatap wajah tampan yang kini masih belum sadarkan diri itu. Terlihat Hendy begitu pucat dan lemah.
"Kenapa kamu gak pernah cerita soal ini? Apa yang kamu takut kan? Apa sakit kamu ini ada hubungan nya dengan cerita ku? Apa masih ada lagi kejutan dari kamu yang belum aku tahu?" Rani bergumam pelan.
Begitu banyak pertanyaan di kepala nya sekarang. Sedikit demi sedikit dia semakin tahu siapa Hendy. Untuk beberapa saat dia termenung sampai seseorang membuyarkan lamunan nya.
"Dek sebaiknya kamu pulang, istirahat. Ini sudah larut." ucap dokter sambil mengecek suhu tubuh Hendy.
"Tapi dok.."
"Jangan kuatir saya sudah menghubungi orang-orang di rumah Hendy. Lagi pula saya juga masih disini."
Rani pun mengangguk, dia menoleh sebentar untuk melihat wajah pacar nya sekali lagi lalu beranjak pulang.
**
Keesokan hari nya Rani melihat Mang Asep mondar mandir seperti memikirkan sesuatu. Rani pun menghampiri lelaki yang mulai beruban itu.
"Ada apa sih mang? Dari tadi mondar mandir terus?"
"M.. ini non.. itu.." Mang Asep ragu-ragu mengucapkan nya.
"Ini itu gimana mang? Rani gak paham." tanya Rani sambil tertawa. Sejenak dia bisa sedikit terhibur dengan tingkah penjaga rumahnya itu.
"M.. ada masalah non." raut wajah nya berubah serius.
"Masalah apa sih mang? Jangan buat Rani takut ah." tanya Rani tak kalah serius.
"Itu." Mang Asep menunjuk seonggok motor yang terparkir di halaman rumah.
"Emang kenapa sama motor Hendy?"
"Bukan nya harus dibalikin ke yang punya ya non? Ntar dikiranya kita maling non.. Amit-amit!"
Rani baru sadar jika motor Hendy masih di rumah nya. Dia pun segera menelpon Oliv untuk menanyakan rumah Hendy melalui Leo.
"Nih mang alamat nya. Mamang tolong anterin sekarang ya." ucap Rani sambil menyodorkan secarik kertas.
__ADS_1
"Tapi non.."
"Kenapa lagi.. Tadi katanya takut disangka maling. Gimana sih mamang."
"Masalah nya mamang gak bisa naik motor cowok non." jawab Mang Asep malu-malu.
Rani pun tertawa mendengar ucapan Mang Asep.
"Ya udah Rani aja yang anter." dia meminta kunci motor Hendy dan pergi ke alamat yang sudah dicatat nya.
**
Ting tong..
Terdengar bunyi bel di kediaman Ardinata. Beberapa saat kemudian muncul Bi Laila dari balik pintu, dia baru akan ke rumah sakit untuk menjenguk Hendy menggantikan Pak Suroso yang semalaman menjaga nya.
Bi Laila segera terperangah melihat seorang gadis cantik berbaju biru dipadukan dengan rok pendek selutut. Sebuah jaket kulit hitam melingkar di pinggangnya. Gadis itu tengah berdiri di depan pintu.
(*Ratu Elizabeth*..)
"Selamat pagi bu.. Saya Rani. Saya mau mengantar motor Hendy." Rani tersenyum sambil membungkuk kan badan nya untuk menghormati Bi Laila.
"Non Rani ke sini sama siapa?"
"Sendirian bu."
"Panggil bibi aja non biar akrab." Bi Laila tersenyum lebar, "Eh tunggu, non sendirian?"
"Iya bi.."
"Naik itu?" tanya Bi Laila sambil menunjuk motor Hendy.
"I...ya, naik itu." Rani mencoba tersenyum. Dia bingung bagaimana untuk berekspresi.
Bi Laila semakin takjub mendengar jawaban Rani.
(Ini mah bukan Ratu Elizabeth, tapi Ratu Cleopatra)
__ADS_1
Sekitar 20 menit kemudian, Rani bersama dengan Bi Laila tiba di rumah sakit tempat Hendy dirawat. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu jadi Rani tak perlu izin ke sekolah untuk menjenguk Hendy.
Perlahan Bi Laila membuka pintu dan melihat Hendy sudah sadar. Dia segera memeluk Hendy yang masih lemah.
"Gimana keadaan aden? Kepala nya masih sakit?" Bi Laila sangat kuatir dengan kondisi Hendy.
"Udah gak apa-apa kok bi.." jawab Hendy dengan suara lemah. Samar-samar dia melihat bayangan seseorang dibelakang pengasuhnya. Orang itu mendekat dan membuat jantung Hendy berdetak cepat.
"Udah makan belum?" suara lembut gadis cantik itu meluluhkan hati Hendy dan membuat nya berkaca-kaca. Rani bingung melihat pacar nya seperti itu.
"Kenapa sayang? Bagian mana yang sakit? Bentar aku panggilin dokter." Rani sudah akan beranjak ke luar ruangan saat tangan Hendy menahan nya.
"Tetaplah disini."
Bi Laila dan Pak Suroso mengerti saat ini Rani lah yang paling Hendy butuhkan. Mereka pun keluar dan memberikan waktu untuk kedua sejoli itu.
Untuk beberapa saat Hendy hanya diam memperhatikan Rani. Dia menggenggam tangan nya seolah tak ingin jauh-jauh darinya.
"Maafin aku." ucap Hendy.
"Maaf kenapa.." Rani dengan lembut membelai rambut nya.
"Apa kamu bakal ninggalin aku setelah tahu ini?"
Rani mengernyitkan dahinya.
"Kenapa aku harus ninggalin kamu?"
"Karena aku gak sekuat yang kamu lihat. Kenyataan nya aku cuma cowok lemah yang masih dihantui masa lalu yang entah sampai kapan bakal berhenti. Mungkin lebih baik kamu ninggalin aku." kata-kata Hendy tertahan. Dia sangat mencintai Rani, tapi dia juga tidak mau membebani nya.
"Stop. Setiap orang punya masa lalu, entah manis atau pahit. Mungkin kamu hanya salah satu orang yang kurang beruntung karena mendapatkan masa lalu yang pahit. Gak ada manusia yang sempurna Hen.. Kalau kamu punya kelemahan seperti ini, sudah jadi tugas ku buat menguatkan kamu lagi. Aku nerima kamu apa adanya apapun kondisi kamu. Jadi berhenti nyuruh aku buat ninggalin kamu atau aku bakar rumah sakit ini." Rani cemberut dan memalingkan wajah nya.
"Kalau gitu tetap lah di samping ku." pinta Hendy.
Tangan nya menggenggam Rani lebih kuat. Di dalam hati nya dia pun tidak sanggup kalau Rani meninggalkan nya. Cinta nya sudah terlalu dalam untuk Rani. Entah apa jadi nya jika itu sampai terjadi. Mungkin dia akan jadi gila.
Rani tersenyum dan mendekatkan wajah nya ke telinga Hendy.
__ADS_1
"Cepat sembuh sayang.. Kalau gak aku bakal gigit telinga kamu dan mencium leher seksi kamu sampai kamu gak bisa bangun." bisik nya nakal diikuti tawa Hendy lirih.
"Mungkin itu yang aku mau." ucap nya sambil menarik Rani ke dalam pelukan nya.