
Ferdinan sontak langsung berlari. Dia memeluk Rani erat-erat sambil terus menangis.
"Sayang.. Ini beneran kamu?" dia mencium dahi putri kesayangan nya berulang-ulang.
"Em.. Ayah.. lepasin dulu.. Rani gak bisa napas."
Ferdinan segera melepas pelukannya. Dia melihat Rani dari ujung rambut sampai ujung kaki, memastikan bahwa gadis di depannya benar-benar putri kandungnya.
Si mbok pun menangis sejadi-jadinya yang membuat Rani berkaca-kaca dan memeluk wanita yang telah mengasuh nya selama ini.
"Ya Allah non.. Non Rani kesayangan si mbok.." dia mengecup pipi Rani. Mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Kedua orang itu tidak menyangka orang yang selama ini mereka pikir sudah meninggal ternyata masih hidup.
Saat suasana mulai tenang, Rani memperkenalkan cowok yang sedari tadi hanya berdiri diam memandang pertemuan keluarga yang mengharukan itu. Ferdinan sedikit terkesima dengan anak muda gagah di depannya.
"Ayah.. Kenalin ini Artur, dokter yang udah nyelamatin Rani."
Artur membungkuk dan tersenyum. Ferdinan langsung memeluk cowok itu dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.
Artur sedikit mengatur napasnya saat terlepas dari pelukan Ferdinan.
(Beliau sekuat kelihatannya!)
Rani melirik ke ayah nya. Sambil berbisik dia berkata.
"Ayah.. kayaknya ayah harus berbenah dulu ke kamar."
"Why honey? Ayah sudah mandi dari shubuh."
"Sarung ayah lepas.."
__ADS_1
**
Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Si mbok pamit ke dapur untuk menyiapkan cemilan dan memasak makanan kesukaan Rani.
"Biar Rani bantu mbok.." ucap Rani sambil melangkah memasuki dapur.
"Gak usah non.. Non Rani istirahat aja, biar si mbok yang siapin semua."
"Ya udah.. Tapi Rani temenin ya, Rani kangen si mbok."
Si mbok kembali memeluk cewek itu.
(Terima kasih gusti.. Engkau telah mengembalikan putri kecilku)
Mereka berdua tenggelam dalam obrolan hangat di dapur. Bagi si mbok Rani sudah seperti putri kandung nya sendiri. Karena itu dia sempat stres waktu mendengar kabar kematian Rani.
"Lalu apakah itu bisa membahayakan hidup nya nak?"
"Tidak om. Selama Rani rutin berolahraga, menjaga asupan makanan, dan yang lebih penting banyak minum air putih."
Ferdinan mengangguk mendengar penjelasan Artur. Dia benar-benar bersyukur ada orang sebaik Artur di dunia ini.
"Nak, aku sangat berterima kasih kamu sudah mau merawat Rani selama ini."
"Sama-sama om. Itu sudah menjadi tugas saya." Artur terdiam sejenak.
Ada hal yang perlu di tanyakan nya lebih lanjut tapi dia ragu untuk mengatakannya.
Beberapa saat kemudian Rani bergabung dengan mereka berdua setelah puas bermanja-manja dengan si mbok. Dia melihat kedua wajah pria di depannya sambil memakan snack.
__ADS_1
"Maaf om kalau saya lancang. Kenapa om tidak mencari Rani selama ini?"
Pertanyaan Artur tentu sama dengan yang dipikirkan Rani. Ferdinan menghela napas, dia membelai rambut Rani yang duduk di samping nya.
"Saat aku dan seseorang tiba di bandara, semua nya sudah rata dengan tanah. Kebetulan ada ajudan keluarga ku di Perancis yang sampai duluan di sana dan menemukan handphone kamu sayang."
Rani dan Artur hanya diam mendengarkan dengan seksama.
"Dia mengajak kami ke tempat dimana banyak korban tak bernyawa berjejer. Salah satunya memakai jaket kamu."
Kini Rani mengerti kenapa keluarga nya tidak mencarinya selama ini.
"Oh, sayang. Kenapa jaket kamu bisa dipakai orang lain?" Ferdinan baru sadar tentang jaket itu.
"Rani kasih ke cewek jalanan sih yah. Soalnya dia hanya pakai kaos tipis waktu itu" Rani menceritakan semua itu tanpa ekspresi.
"Jadi.. dia meninggal?" tanya Rani lagi.
"Bener sayang.. Dan kami kira dia adalah kamu. I'm so sorry sweet heart.." Ferdinan mengecup lembut kepala Rani.
Rani tersenyum. Dia meyakinkan ayahnya bahwa dia baik-baik saja. Artur menatap wajah cantik itu dengan terkesima.
(Betapa tenang cewek ini)
"M.. Ayah.. Siapa yang datang bersama ayah ke bandara waktu itu?" Rani menanyakan hal yang sebenarnya sudah diketahui jawabannya.
"Hendy."
(Siapa Hendy?)
__ADS_1