
Hendy menatap langit-langit kamar nya. Beban yang selama ini dipendam sedirian, jauh berkurang setelah menumpah kan semua nya ke pujaan hati nya. Walau dia juga malu kenapa dia bisa sampai menangis di hadapan Rani.
"Sial.. Malu banget rasa nya.." Hendy menyembunyikan wajah nya dibalik bantal.
Ping!
Sebuah pesan dari Rani membuatnya beranjak dari kasur empuk miliknya.
Jika kamu bersedih karena dunia yang begitu kejam padamu
Jika kamu tidak yakin dengan dirimu sendiri
Jika seluruh dunia bahkan menghakimi mu
Ingat lah ada satu sosok yang akan selalu di samping mu
Aku..
Hendy mengusap layar handphone nya dan memejamkan mata. Terlihat wajah cantik Rani yang sedang tersenyum, selalu dan selalu muncul di pikiran nya bahkan saat dia tertidur.
Pesan cinta itu begitu berkesan. Dia sangat beruntung mendapatkan pacar seperti Rani.
**
Beberapa minggu berlalu. Kini semua siswa kelas XII harus menghadapi momok mengerikan yang disebut ujian nasional. Selama 10 hari mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk bisa dinyatakan lulus dan melanjutkan studi mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
Baik Hendy maupun Rani sama-sama sudah berkomitmen untuk tidak bertemu sampai ujian selesai. Akhirnya setelah melewati perjuangan panjang, mereka dinyatakan lulus 100% dan akan merayakan nya dengan berekreasi ke pulau Bali.
__ADS_1
"Ingat ya anak-anak. Tujuan kita untuk refreshing dan merayakan kelulusan kalian. Bapak tidak mau ada masalah selama kita disana."
Pak Arya memberikan pidato singkat sebelum bus berangkat menuju Bali. Setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan, mereka pun sampai dan langsung menuju hotel yang sudah dipesan sekolah.
"Kita satu kamar Liv?" tanya Rani setelah check in.
"Yup.. kita berempat sama Gina dan Eren."
Oliv celingukan mencari 2 roomate nya. Dari jauh Gina dan Eren berlari kecil menghampiri. Mereka pun berjalan beriringan menuju lantai 4.
"Dapat kamar di lantai berapa?" tanya Hendy di seberang telepon. Hotel cowok memang terpisah dengan cewek dan jarak nya agak jauh satu sama lain.
"Di lantai 4, paling pojok."
"Teman sekamar kamu gimana? Asyik gak?"
"Aku kangen."
"Ya ampun Hen.. bentar lagi juga ketemu kan." Rani gemas mendengar pacar nya yang sedang dilanda rindu.
Ting ting ting
Terdengar suara gelas yang saling beradu dari speaker di lorong hotel, menandakan waktu makan sudah tiba. Semua siswa menuju restoran di lantai 1 untuk makan siang.
Tak disangka di sela-sela makan, ada alunan musik akustik. Ternyata restoran hotel mempunyai panggung kecil untuk pertunjukan band dan tentu saja hal itu dimanfaatkan Stars.
Terdengar suara gitar klasik mendayu-dayu mengiringi suara lembut Candra. Semua mata tertuju ke sumber suara. Apalagi kalau bukan untuk melihat Hendy dengan permainan gitar nya yang mempesona.
__ADS_1
Tepuk tangan penonton pun riuh. Cewek-cewek banyak yang maju ke depan panggung untuk memotret Hendy atau sekedar ikut bernyanyi.
"Lo gak panas Ran?" tanya Oliv sambil sibuk menyantap spagetti.
"Gak. Kan ada AC-nya."
"Yaelah... Maksud gue lo gak cemburu lihat Hendy dikerubungin cewek-cewek?"
"M.. enggak. Emang lo bakal cemburu kalau Leo di posisi itu?" Rani balik bertanya.
"Enggak sih. Soal nya sebelum sama gue, dia udah biasa kayak gitu. Jadi gue gak heran lagi."
"Nah, itu lo tahu. Kenapa masih tanya." jawab Rani ketus.
"Ya kali aja Ran.. Kan ada tuh cewek posesif yang gak ingin cowok nya dilihatin cewek lain."
Rani hanya tertawa. Dia memang bukan tipe pencemburu hingga Hendy sering dibuat nya kesal. Sebagai cowok dia juga ingin melihat ekspresi Rani jika cemburu. Tapi sekali pun Rani tak pernah menunjukan nya.
"Kamu sayang gak sih sama aku?"
"Sayang dong Hen.. Kok tanya nya gitu sih?"
"Ya kamu gak pernah cemburu kalau ada cewek yang deketin aku."
"Buat apa cemburu kalau aku tahu hati kamu udah jadi milik ku."
Rani tersenyum setiap kali mengingat wajah merah Hendy yang tersipu jika mereka membahas hal itu.
__ADS_1