Sang Gitaris

Sang Gitaris
Kangen


__ADS_3

Seluruh penghuni SMAN Nusa Dua gempar pagi ini. Bagaimana tidak, Tya akhirnya di drop out dari sekolah karena insiden antara dia dan Oliv kemarin.


Pak Zainal ayah nya, sudah berusaha meminta permohonan untuk mencabut keputusan Pak Arya. Dia bahkan mencoba melakukan cara kotor agar putri nya tetap bisa melanjutkan pendidikan. Tapi Pak Arya sudah tidak bisa mentolerir perbuatan Tya dan ini yang paling parah karena sudah ada kekerasan fisik. Kabar itu pun sampai ke telinga Hendy.


"Serius?" tanya Hendy sambil menyeruput air dingin.


"Hu'um.. Tapi gue kagak ngerti apa masalah nya sama Oliv. Lo tanya Rani aja, kan sahabat nya."


(Pasti tujuan sebenernya bukan Oliv)


Dia enggan menanyakan hal ini pada Rani mengingat dia punya pengalaman yang lebih parah dengan Tya.


**


Sudah sebulan berlalu. Kabar tentang Tya pun mulai mereda dan tidak ada yang membicarakan nya lagi. Di sisi lain semakin hari jadwal manggung Stars pun semakin banyak.


Apalagi dengan ketampanan dan bakat Hendy, mudah bagi Stars untuk mengembangkan sayap di luar sekolah. Selain itu ujian nasional kurang 2 bulan lagi yang artinya personil Stars harus pintar membagi waktu.


Stars baru saja menyelesaikan penampilan nya malam itu di sebuah cafe. Mereka sudah menjadi guest star tetap di cafe X sejak 4 bulan yang lalu.


Hendy berkali-kali melihat handphone berharap ada pesan masuk dari pacar nya. Wajar saja beberapa hari belakangan ini mereka semakin jarang bertemu. Hendy sibuk dengan Stars sedangkan Rani juga sibuk dengan kelas paduan suara nya, membuat Hendy kesal dan ingin merobohkan dinding kelas nya agar bisa melihat Rani. Dia sangat merindukan pacar nya.


"Ya udah lah sob, ngapel aja ke rumah nya." ucap Leo menghampiri Hendy yang tengah menatap jus jambu di meja tanpa meminum nya.


"Gue gak tahu rumah nya." jawab Hendy singkat dan membuat Leo terbatuk-batuk mendengar nya.


"Astaga Hen... Lo polos apa beg* sih?! Dari dulu lo gak pernah ngapel ke rumah Rani?"

__ADS_1


"Kagak.. Tiap hari gue udah ketemu dia, jadi gak kepikiran."


"Kalau bukan temen gue dah gue tampol nih bocah, pinter nya kebangetan dah." Leo menggerutu sendiri dan tak habis pikir dengan Hendy.


Karena kerinduan yang sudah tidak bisa ditahan, dia memutuskan ke rumah Rani malam itu. Waktu menunjukkan pukul 20.00 seharusnya masih ada waktu sebelum ronda malam dimulai. Dia meminta bantuan Oliv untuk menemukan rumah Rani.


**


(Kayaknya bener ini rumahnya*)*


Hendy sampai di rumah yang cukup besar dengan gerbang tinggi berwarna hitam. Dia membunyikan bel dan terlihat seorang wanita separuh baya membuka gerbang.


"Iya den? Nyari siapa?" tanya wanita itu. Dia memperhatikan Hendy dari atas ke bawah.


Hendy sangat tampan malam itu. Dia memakai kaos oblong berwarna putih yang dipadukan dengan jaket dan celana jeans warna biru.


"Rani ada bu?" tanya Hendy dengan sedikit menundukkan kepala.


Sejenak cowok itu memperhatikan ruangan tempat dia duduk dan melihat sebuah foto keluarga sampai terdengar suara lembut cewek yang dikenalnya.


"Hendy?" Rani kaget melihat tamu nya.


Tanpa menunggu lagi Hendy menghamburkan diri memeluk cewek yang sangat dia cintai. Membuat Rani semakin kaget dan tidak sempat melakukan perlawanan seperti biasa. Dia hanya bisa merasakan dada Hendy yang berdetak cepat dan napas nya yang memburu.


Perlahan Rani mengusap lembut punggung Hendy yang membuat cowok itu semakin mengencangkan pelukan nya.


"Aku kangen." bisiknya. Dia ingin menghentikan waktu sekarang. Baru beberapa hari mereka tidak bertemu, tapi bagi Hendy terasa sangat lama. Rani pun tertawa kecil, di dalam hati nya dia pun merindukan Hendy.

__ADS_1


"Lepasin dulu.. Kamu ingin kita di grebek Pak RT?" goda Rani seraya menggelitik pinggang sang pacar.


"Biarin aja."


"Hendy.."


"Aku masih kangen." jawab Hendy lembut. Rani hanya pasrah dengan tingkah pacar nya yang kadang seperti anak kecil.


"Ehem.." si mbok berdehem saat memasuki ruang tamu dengan membawa camilan dan teh.


"Lepasin dulu atuh den.. Ntar non Rani nya sesak napas lho." goda si mbok yang sukses membebaskan Rani. Wajah Hendypun memerah menahan malu dan dia tertawa canggung.


"Ahaha.. Bu.. Sejak kapan disini?" tanya nya garing.


Si mbok tertawa kecil melihat Hendy yang salah tingkah.


"Hah.. masa muda memang masa yang paling indah.." gumam si mbok lalu meninggalkan mereka berdua.


Rani memperhatikan Hendy yang duduk di samping nya dan membuat cowok tampan itu mematung. Seperti biasa dia lemah terhadap cara Rani memandang nya. Rani menyentuh pipi Hendy, membelainya lembut dengan jari-jarinya yang lentik.


"Kamu kok kurusan? Lihat, bahkan sampai punya mata panda juga. Apa kamu kurang tidur? Jaga kesehatan kamu, jangan sampai kamu kecapekan."


Rani menyadari dengan segudang kegiatan Hendy yang padat itu bisa saja Hendy jatuh sakit. Dia mengambil vitamin dan meminta Hendy untuk meminum nya.


Hendy merangkul bahu Rani yang mungil dan mencium dahi nya. Dia benar-benar rindu dengan perhatian yang diberikan Rani. Apalagi dia harus selalu menjaga sikap jika sedang berada di sekolah. Berusaha untuk tidak memeluk dan mencium nya setiap kali mereka bertemu dan itu tidak mudah.


"Aku.." Hendy menghentikan ucapan nya sejenak. Dia bersusah payah mengontrol jantung nya.

__ADS_1


Sudah lama mereka tidak pernah berada dalam jarak sedekat ini sejak awal pacaran. Rani seakan tahu apa yang dipikirkan pacar nya. Dia pun mengecup mesra leher Hendy.


"I love you.." bisik Rani lembut.


__ADS_2