
"Come on Ran.. please angkat telpon nya."
Entah sudah berapa kali Hendy menelepon Rani. Dia bahkan mengirim puluhan pesan yang jangankan dibalas, dibaca pun tidak.
"Hendy.. Lo tolol banget! Bisa-bisanya hati lo goyah padahal udah ada Rani!" dia marah pada dirinya sendiri, memukul rangka besi bus yang dinaikinya berkali-kali.
"Kendaliin diri lo!" Leo dan Candra bersusah payah menahan tangan Hendy yang mulai berdarah.
Hendy pun akhirnya tertunduk lesu. Senyum kecut menghiasi bibirnya sekarang. Seandainya dia tidak bertemu Maria, seandainya dia lebih tegas dengan cewek itu, seandainya hatinya tidak larut dalam masa lalu, semua ini tidak akan terjadi. Dia putus asa. Di kepalanya hanya ada bayangan Rani yang semakin menjauh.
Leo dan Candra tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya saling memandang. Cewek mana pun pasti kecewa jika mengalami apa yang Rani rasakan.
***
Rani hanya diam melihat pemandangan yang didominasi air. Dia dan Oliv baru saja naik kapal penyeberangan untuk kembali ke pulau Jawa.
"Ran.." Oliv menepuk bahu Rani untuk menyadarkan lamunannya.
Mimik wajah sahabatnya terlihat sedih, "Mungkin Hendy punya alasan kenapa dia gak berontak tadi."
"Iya aku ngerti Liv.. Aku hanya.." sejenak dia ragu untuk mengatakan apa isi kepalanya pada Oliv
"Cemburu?"
Rani menggelengkan kepala.
"Aku hanya ngerasa perasaan Hendy gak cukup dalam buatku. Itu sedikit mengecewakan. Mungkin hanya aku yang mencintainya begitu dalam. Kamu tahu Liv, rasanya seperti tidak dihargai."
Rani menopang dagu nya dengan kedua tangan. Mata cantiknya berkaca-kaca namun dia menahan nya untuk tidak menangis.
Beberapa jam kemudian Rani tiba di rumahnya. Dia melemparkan tubuhnya sesaat setelah masuk ke kamar.
__ADS_1
Tubuh dan hatinya sangat lelah dengan semua yang telah terjadi. Dia bahkan mengabaikan masakan si mbok yang sudah terhidang di atas meja.
Raut wajah Maria masih tergambar jelas di ingatan nya. Setelah Tya sekarang muncul Maria dan keduanya sama-sama gila. Rani melihat handphone yang sejak kemarin tak disentuh nya.
134 panggilan tak terjawab dan 78 pesan yang semuanya dari Hendy. Sebenarnya dia tidak ingin mengabaikan Hendy, hanya saja dia ingin menenangkan pikirannya sekarang.
Baru saja dia meletakkan handphonenya, benda kotak itu berbunyi lagi. Dia mengerutkan dahi saat nomor tak dikenal menelponnya.
"Halo?" suara laki-laki yang terdengar kuatir tak asing di telinganya.
"Kamu udah di rumah?"
"Kamu dapat nomorku darimana?"
"Gak penting. Yang terpenting kamu sampai di rumah dengan selamat."
?Dion selalu muncul disaat yang tepat. Salahkah jika hatinya kini sedikit berbeda pada cowok ini? Mereka berdua ngobrol beberapa menit sebelum akhirnya Rani pamit untuk tidur.
**
?
Maria pun kembali muncul dihadapan Hendy yang tengah berdiri sendirian di tepi kolam. Entah kenapa dia selalu tahu dimana cowok itu berada. Hendy menatap nya dingin yang membuat hati Maria sakit.
"Sampai kapan kamu mau menghantuiku? Please stop!"
"Aku gak bisa berhenti Hen.. Mengertilah. Cobalah membuka hati kamu sedikit aja. Aku tulus cinta sama kamu. Aku ingin bahagia sama kamu."
"Dengan ngehancurin hubunganku dengannya?"
"Aku terpaksa karena kamu gak pernah menganggap keberadaan ku baik dulu atau sekarang."
__ADS_1
Maria tiba-tiba menyingkap rok mini nya. Terlihat sebuah tato bertuliskan nama Hendy terukir di paha kanannya. Hendy spontan melepas jaket untuk menutupi aurat cewek itu.
"Kamu udah gila!"
"Emang! Dan itu karena kamu! Ini bukti kalau aku bener-bener cinta sama kamu."
"Itu hanya obsesi, bukan cinta." Hendy masih mencoba meredam emosi menghadapi cewek gila di hadapannya.
"Gak! Ini cinta Hen! Lihat, aku punya satu lagi di tengkukku." Maria menyingkapkan rambut panjangnya. Tato yang sama pun juga terukir di sana.
"Astaga.. Please berhenti ngelakuin tindakan bodoh gak guna kayak gini!" Hendy semakin marah. Wajah tampannya tampak mengerikan sekarang.
Maria mulai putus asa dan kehilangan akal sehat.
"So.. Kamu tetap gak bisa cinta sama aku setelah tahu semua ini?" ucap Maria sambil memandang Hendy dengan tatapan aneh.
"Sorry.."
Maria tersenyum getir. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Jlleebb!
Sebuah pisau menancap dalam-dalam di dada Hendy. Cowok itu tertegun, darah segar menyembul dari balik bajunya. Dia pun meraba dadanya.
Cairan merah kental membuat kepalanya berputar-putar. Maria menarik pisaunya dan kembali menusukkan ke dada Hendy sambil menangis.
"Kalau kamu gak bisa jadi milikku, maka orang lain pun gak bisa." bisik nya sebelum pergi.
"Oh Hen! Di situ lo rupanya." Leo dan Rudy berjalan menghampiri Hendy yang mulai pucat. Mata kedua cowok itu terperanjat saat tubuh Hendy tiba-tiba jatuh ke tanah dengan bersimbah darah.
"Hen!!"
__ADS_1