
"Wah.. parah banget ini!" ucap Akbar ketika dia melihat dada Hendy yang di bungkus perban. Masih ada sedikit darah yang menempel di sana.
Hari ini personil Stars datang menjenguk nya di rumah sakit. Membuat keributan dengan canda tawa mereka sehingga beberapa kali dimarahi suster karena mengganggu ketenangan pasien lain.
"Sakit gak bro?" pertanyaan polos Zein membuat satu ruangan itu menoleh ke arahnya.
"Tuh ada pisau, coba aja lo rasain sendiri." ucap Hendy ketus.
"Ya kali aja kayak di gigit semut."
"Iya semut yang udah bermutasi segede kucing, semut api pula." sahut Rudy.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Memang diantara mereka Zein adalah yang paling polos.
Hendy menahan perih saat dia tertawa, membuat Leo mulai kuatir. Dia tak pernah melihat Hendy kesakitan dan berwajah seperti itu.
"Kenapa bro? Gue panggilin dokter ya?"
"Gak usah.. cuma perih dikit." Hendy heran melihat sahabatnya se kuatir itu.
"Gue baik-baik aja kok.. gak usah kuatir gitu deh." lanjutnya sambil menepuk bahu Leo.
"Gue cuma.. ah Hen.. lo gak ngerti gimana takutnya gue waktu lihat lo berlumuran darah. Gue takut lo mati." kenang Leo.
Bletak!
__ADS_1
Rudy dan Candra kompak menjitak kepala Leo.
"Sekali-sekali lo kursus in tuh mulut tak beradab! Biar gak asal nyeplos kalau ngomong!" Candra yang sedari tadi menyimak akhirnya buka suara.
"Ya lo gak di TKP sih kemarin! Kalau lo disana pasti juga takut Can!" protes Leo sambil mengelus kepalanya.
"Right! Gue juga ngerasain hal yang sama sampai nyaris nyelakain cewek gila kemarin!" Rudy tak kalah menggebu. Hendy pun tersenyum, dia sangat beruntung dikelilingi sahabat seperti mereka.
"Btw, Rani mana Hen?" Leo celingukan mencari keberadaan pacar Hendy.
"Bentar lagi dia ke sini. Semalem gue suruh pulang biar bisa istirahat."
Tak berapa lama orang yang dibicarakan datang. Rani begitu cantik dengan celana jeans dan kaos out of soulders berwarna peach. Rambut panjangnya dia ikat sekedar nya menyerupai cepol membuatnya sangat manis. Semua mata pun terpana melihatnya.
"Ehem.. lama-lama gue colok juga mata jelalatan lo semua." ancam Hendy yang lantas membuat teman-temannya memalingkan wajah. Cowok normal mana yang bisa menolak pesona Rani.
Hendy memandang hangat pacar cantiknya saat hanya ada mereka berdua di kamar rawat inapnya.
"Sini." ucap nya seraya duduk.
"Mau aku kupasin apel gak?" tanya Rani tersenyum memperlihatkan bulan sabit di kedua matanya.
"Boleh."
Rani mengambil sebuah apel dan duduk di samping Hendy. Cowok itu memandang Rani dengan seksama. Tangan nya membelai lembut kepala Rani, melepaskan cepol yang mengikat rambutnya. Segera rambut Rani tergerai indah.
__ADS_1
"Biarin terurai."
Hendy menyilakan rambut Rani, terlihat leher jenjang indah terpampang di sana. Dia pun tak bisa menahan hasratnya untuk mencium leher Rani.
Entah kenapa semakin lama, rasa cintanya semakin dalam dan dalam. Tapi dia tiba-tiba juga merasakan sepertinya Rani akan pergi jauh.
"Hen..aku lagi pegang pisau nih.." Rani mendorong pacarnya karena aktivitasnya terganggu. Namun Hendy malah meraih tangannya dan kembali mencium leher Rani.
"Aku.. aku gak mau jauh dari kamu, enggak lagi. Itu bener-bener menyiksaku." ucapnya sambil masih bergelayut manja.
Rani menghentikan kegiatan mengupasnya, dia ingin mengatakan sesuatu pada Hendy.
"Hen, apa cinta kamu bakal hanya buat aku walau kita lagi jauh?"
Cowok itu menatap Rani dengan ekspresi bingung.
"Maksud kamu apa sayang?"
Rani menghela napas dalam, dia tahu apa yang akan disampaikannya mungkin akan sulit diterima Hendy. Dia membelai pipi Hendy dan menciumnya. Sejenak dia tampak ragu.
"Sayang.. jelasin maksud ucapan kamu tadi."
"Aku..akan nerusin kuliah di Perancis."
Deg!
__ADS_1
Apa yang ditakutkan Hendy menjadi kenyataan. Perancis? Tak bertemu Rani sehari saja dia seperti orang linglung apalagi ini 4 tahun. Bagaimana dia bisa melewati waktu selama itu tanpa kehadiran Rani di sisi nya?