
Hendy memacu motornya sekencang-kencangnya ke rumah Rani, berharap Ferdinan masih berada di sana.
Dia menggedor pintu kuat-kuat seperti orang kesetanan. Terlihat si mbok membuka pintu dengan raut wajah kesal namun segera berubah cemas saat melihat wajah kalut Hendy.
"Om Ferdinan masih di rumah mbok?!" dia mengguncang tubuh wanita itu, napas nya memburu.
"I..iya.. tenang dulu den.. Tuan.." belum selesai si mbok bicara, Ferdinan muncul dari balik ruang kerjanya.
"Boy? Hey.. what's wrong?" Ferdinan mendekati cowok itu sambil masih menggunakan piyama. Dia baru saja terbangun dari tidur nya saat mendengar keributan yang di buat Hendy.
Tanpa basa-basi lagi Hendy menceritakan percakapan terakhir nya dengan Rani yang langsung membuat Ferdinan shock.
"What?!" Ferdinan langsung menyambar handphone di meja nya dan menelepon seseorang.
"Morgan?! Apa yang terjadi di sana?!"
"Tuan.. tiba-tiba terjadi gempa bumi di sini! Getaran nya kuat sekali! Sebentar nanti aku telepon lagi!" pria muda itu langsung menutup telepon nya.
"Astaga.. ****! Come on boy, kita ke Perancis sekarang!"
Mereka berdua langsung mengambil penerbangan tercepat pagi itu. Rani, hanya itu yang ada di pikiran Hendy sekarang. Bangunan mulai roboh, itulah yang di lihat nya sebelum video call terputus.
Keduanya kini terdiam sepanjang perjalanan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
**
Mereka sampai di Perancis setelah 16 jam perjalanan. Ferdinan melihat ke luar jendela. Bandara yang mereka tuju bukan lah bandara internasional yang biasanya.
Kring kring..
"Morgan?! Bagaimana? Dimana posisimu sekarang?!"
Ferdinan semakin takut sesuatu terjadi pada keluarga nya begitu melihat banyak sekali bangunan roboh di sana sini. Sosok tenang itu berubah tak karuan sekarang.
"Tuan, nyonya besar dan bibi berhasil selamat. Mereka di tempat aman sekarang."
"Dan Rani?"
"Saya masih mencari informasi tuan. Segeralah menuju bandara internasional."
(Rani.. Ya Tuhan.. semoga kamu baik-baik saja sayang..)
**
Semua sudah terlambat. Ferdinan dan Hendy terperanjat begitu melihat bandara itu rata dengan tanah.
Morgan tergopoh-gopoh menghampiri Ferdinan dengan wajah pucat. Dia menyerahkan benda kotak yang sudah pecah di beberapa bagian ke Ferdinan.
__ADS_1
Pria paruh baya itu tak bisa mengucap apapun saat menerima handphone Rani.
Ferdinan menatap Morgan dengan pandangan tak percaya. Morgan hanya tertunduk dan mengangguk pelan.
"Gak mungkin.."
Ferdinan terduduk lemas dan mulai menangis. Hendy menatap handphone yang rusak itu. Dia masih mencoba berpikir positif dan membuang jauh-jauh prasangka buruknya. Morgan lalu melempar pandangannya ke Hendy sekarang.
Morgan tahu pria muda itu pasti lah teman dekat Rani. Dia memanggil salah satu anak buahnya untuk menenangkan Hendy sementara dia mengurus Ferdinan.
Perlahan Morgan membimbing tuan nya menuju ke suatu tempat diikuti anak buah nya dan Hendy. Segera pemandangan mengerikan yang mereka lihat di sana.
Banyak tubuh terbaring di tanah dengan kain putih menutupi seluruh badan mereka. Morgan menunjuk salah satunya dengan masih tertunduk.
Hendy maju perlahan ke salah satu jasad, dari balik kain putih terlihat jaket berwarna biru yang sangat familiar bagi nya karena dia lah yang memberikan jaket itu untuk Rani.
Air mata berlinang dari kedua mata nya yang putus asa. Kakinya tidak mampu lagi berpijak, dia pun berlutut menangisi jasad itu.
Dia membuka kain itu dan melihat luka-luka di sekujur tubuh gadis itu dengan luka parah di wajah nya sampai tak bisa dikenali.
"Sayang.. kenapa kamu tiduran di sini.. Bangun lah.. lihat aku datang sama ayah kamu. Bangun sayang, kamu gak kangen sama aku?"
Hendy menangis sejadi-jadinya sambil menggenggam tangan dingin itu. Anak buah Morgan segera menutup kain kembali dan menarik Hendy menjauh dari sana.
__ADS_1
Hendy memberontak berusaha melepaskan diri. Ferdinan segera memeluk nya, dia pun berat menerima kenyataan ini.
"Sssttt.. Calm down.." dia memeluk Hendy erat seperti putranya sendiri, membiarkan cowok itu meraung-raung di dadanya. Sebagai seorang ayah, dia juga merasakan kehilangan yang sama.