Sang Gitaris

Sang Gitaris
Hati yang Teriris


__ADS_3

Sudah semalaman Mega menangis sampai matanya membengkak seperti kodok. Sosok Rani masih tergambar dengan jelas di ingatannya.


(Cewek yang bahkan gak bisa gue jangkau. Ciut banget gue dibandingkan dia dan Hendy..)


Mega kembali menyembunyikan wajahnya di bantal empuknya. Dia melirik handphone yang teronggok di meja. Tak ada notifikasi satupun sejak semalam.


(Kayaknya kamu udah ngelupain aku disini Hen..)


**


"Good.. Hasilnya bagus semua." ucap Artur sambil melihat hasil check up Rani. Cewek itu pun tersenyum lega. Artur melirik sesaat dan langsung mencubit pipi Rani.


"Tapi tetap harus rutin minum vitamin ya.."


"Aww.. Iya pak dokter.." Rani mengerutkan dahi sambil memegang pipinya. Dia lalu mengusap bekas luka di perutnya dan mengenang kejadian nahas 2 tahun lalu.


"Gak usah di ingat lagi." ucapan Artur sontak membuat Rani heran, dari mana cowok ini tahu isi pikirannya?


"Kamu bisa baca pikiran? Atau jangan-jangan kamu mantan dukun?!"


Tentu saja Artur membelalakkan mata mendengar hal yang menggelikan itu. Ingin sekali dia merengkuh tubuh mungil di hadapannya itu lalu mencium bibirnya agar cewek itu diam dan tak menggodanya lagi.


Namun tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi sedih. Rani pun segera menyadari akan hal itu.


Artur beranjak memandang keluar jendela dan pikirannya menerawang jauh. Setelah pertemuan mereka dengan Hendy, dia merasa Rani akan semakin jauh darinya. Ditambah lagi Rani belum memberikan kejelasan tentang perasaannya untuk Artur.


Hatinya bimbang sekarang. Memang dia bilang pada Rani bahwa dia tak mengharap balasan, tapi sesuatu di dirinya juga ingin memiliki Rani seutuhnya.


Rani memandang dokter muda itu dari tempat duduknya. Dia sadar sudah mempunyai rasa cinta untuk Artur, tapi ada hal lain yang menahannya untuk berlari ke pelukan cowok itu.


Lama dia memikirkan ini, antara Artur dan Hendy dan dia memutuskan akan mengambil tindakan.

__ADS_1


"Pak dokter, aku pulang dulu ya."


Artur tersadar dari lamunan nya dan berbalik menghampiri Rani.


"Biar aku anter." ucapnya sambil menanggalkan baju dinasnya.


Tok tok..


"Dokter, pasien A datang untuk kontrol."


"See.. Kamu lagi banyak pasien. Aku bisa pulang sendiri."


"Langsung pulang ya! Gak usah mampir-mampir!"


"Iya pak dokter.. bawel deh." Rani mengacak-acak rambut Artur dan membuat wajah cowok di hadapannya memerah.


(Stop it or I'll be kiss you..)


Beberapa meter di depan nya Hendy tengah berdiri. Wajahnya kelihatan lusuh. Kesedihan terpancar jelas dari matanya.


Dia berjalan mendekat ke arah Rani. Hati Rani tercabik melihat orang yang di sayangi nya seperti itu. Ingin rasanya dia memeluk Hendy tapi itu tidak mungkin dia lakukan.


Rani menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Kamu kenapa ada disini?" tanyanya basa-basi.


"Is that hurt?" Hendy menunjuk perut Rani. Cewek itu tahu apa maksud ucapan hendy. Pertanyaan nya adalah bagaimana dia bisa tahu?


"No." jawab Rani sambil masih tersenyum.


"Kenapa kamu gak bilang tentang itu? 2 tahun.. 2 tahun Ran kamu menahan sakit itu sendirian. Dan aku.. Aku malah dengan bodoh nya ngomong hal yang gak masuk akal kemarin."

__ADS_1


"Kamu bahkan gak marah. Aku udah ngelukain orang yang paling berharga buatku, jantung kehidupanku." suara Hendy tercekat saat mengatakan semuanya.


"Hen.."


"Pukul aku Ran.. Pukul aku keras-keras biar otakku gak selalu berpikiran negatif tentang kamu."


"Cukup Hen.." Rani menyentuh dada bidang Hendy dengan lembut. Badan cowok itu terasa sedikit gemetar.


(Ya Tuhan.. Kuatkan hamba untuk tidak memeluknya..)


"Aku jantung kehidupan kamu?"


Hendy mengangguk pelan. Guratan kesedihan itu semakin jelas di wajahnya.


"Hen.. bagiku hidup dengan satu ginjal itu mudah. Tapi buat kamu hidup tanpa jantung, mustahil. Aku gak nyalahin kamu, mungkin sudah kayak gini yang di garis kan yang maha kuasa. Gak ada yang perlu disesali."


Rani membelai lembut pipi Hendy yang lantas di genggam oleh cowok itu.


Tak jauh dari mereka, Artur berdiri sambil bersandar di pintu bagian dalam lobby. Hatinya begitu terluka melihat pemandangan itu. Dia langsung keluar dari pintu belakang dengan langkah gontai.


"Apa kita bisa kembali kayak dulu lagi?"


"That's impossible.. Udah ada pengganti aku di samping kamu. Di lihat dari sorot matanya kayaknya dia sayang banget sama kamu."


"Ran.. I'm still loving you."


"Aku pun sama. Tapi aku gak mau menyakiti hati orang lain Hen. Please.. mengertilah. Kalau selama ini kamu bisa jalani hidup yang bahagia sama dia, kenapa sekarang enggak."


Cowok itu tak bisa menyanggah lagi. Semua yang dikatakan Rani memang benar. Mau tak mau, suka atau tidak kenyataannya Mega lah yang menjadi pacarnya sekarang.


"Aku ngerti.. Tapi sampai kapan pun perasaanku akan selalu sama buat kamu, I love you.."

__ADS_1


Setelah mengucapkan semuanya Hendy pun pergi dengan segudang rasa perih yang mengiris hatinya.


__ADS_2