Sang Gitaris

Sang Gitaris
Gayung Bersambut


__ADS_3

"Wuah.. Lo bisa bikin program kayak gini Hen? Gue aja yang belajar dari orok belum tentu bisa lho!" Aris terpana dengan kemampuan anak magang di samping nya.


"Ahaha.. kebetulan aja bang.." Hendy masih sibuk meng-klik icon di monitor komputer nya.


"Jangan terlalu jago dong.. Nanti posisi gue terancam nih." timpal Aris dengan tersenyum lebar.


"Apaan sih bang.. Gak lucu."


Aris adalah senior IT di kantor cabang Ferdinan. Sudah 2 bulan dia dan Hendy tergabung dalam satu tim di divisi IT. Tak ada kesulitan yang berarti karena Hendy pada dasarnya memang genius di bidang itu.


Kring kring..


"Hen, entar malem di cafe biasa ya."


"Jam?"


"Jam 8 aja, biar gak malem-malem selesainya." ucap Leo dari seberang telepon. Dia mengajak Hendy manggung malam ini di cafe X.


"Sip." Hendy menutup telepon dengan masih menatap layar monitor.


"Idih yang mau kencan.." goda Aris. Hendy menatap sekilas pria itu.


"Temen aku bang.. Lagian kencan masak sama cowok."


"Mau kemana sih?"


"Nge-band.." jawab Hendy singkat.


Aris mengangguk.

__ADS_1


(Nih anak.. ganteng, pinter, anak band pula. Hah.. Kalau gue cewek pasti klepek-klepek sama nih anak!)


**


"Udah kumpul semua belum?" tanya Hendy sesaat setelah dia sampai di cafe X.


"Belum nih, Leo masih otw katanya." jawab Rudy sambil sibuk mengecek drum nya.


"Oh ya Hen, tuh ada yang ngelihatin dari tadi."


Hendy melihat ke arah yang ditunjuk Rudy. Terlihat seorang cewek yang pernah mengajak nya berkenalan beberapa bulan lalu. Hendy pun kembali menyetel gitarnya.


"Kenalan kali Hen.. Kasian tuh anak tiap hari cuma ngeliatin lo dari jauh. Lumayan seru kok anaknya." celetuk Candra.


"Gue gak tertarik."


"Ya emang, dia nya yang tertarik sama lo. Nama nya Mega."


Di sisi lain Mega bertopang dagu memperhatikan setiap gerak gerik Hendy. Sesekali dia menyeruput jus di gelasnya. Dia teringat saat Leo menceritakan kisah cinta Hendy dan Rani yang amat tragis sampai membuatnya menangis sesenggukan kala itu.


(Aku akan hapus semua luka itu, kalau perlu aku hapus bayangan Rani juga dari ingatan kamu!)


**


Hendy membuka maskernya dan berjalan ke kebun belakang cafe. Entah kenapa begitu panas di dalam sana padahal AC yang terpasang pun masih menyala. Dia menghela napas dalam dan menatap langit gelap di atas sana.


"Hai.." suara halus seseorang membuyarkan lamunan Hendy. Mega sudah ada di belakangnya, memandang Hendy dengan tatapan sayu namun masih terlihat manis.


Hendy hanya tersenyum simpul berusaha terlihat ramah walau sebenarnya dia malas juga ngobrol dengan siapa pun saat ini.

__ADS_1


"Dia pasti cantik banget ya sampai bisa bikin kamu kayak gini?"


Hendy terhentak saat mendengar ucapan cewek itu. Mega sedikit mundur melihat ekspresi Hendy. Benar kata Leo, cowok ini sangat sensitif jika ada yang membicarakan Rani. Mega pun berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Rani.. dia akan seneng kalau kamu.." belum selesai Mega bicara, Hendy sudah mencengkeram pipi Mega.


Wajah nya terlihat marah saat nama Rani disebut oleh orang yang bahkan tidak di kenal nya.


"Tahu apa kamu tentang dia?!" Hendy mengeluarkan aura mengerikan. Wajah tampannya berubah bengis.


"Hen.. sakit.." rintih Mega.


Hendy spontan melepaskan cengkeraman nya. Dia berbalik memunggungi Mega yang mengelus-elus pipinya.


(Sumpah.. Nih cowok mengerikan banget kalau marah!)


"Sorry." ucap Hendy setelah beberapa saat mereka terdiam, "Aku hanya.."


"Gak apa-apa. Aku yang lancang ngomongin hal yang seharusnya gak aku omongin."


Hendy berbalik menatap cewek yang tengah tertunduk di belakangnya. Sejenak dia berpikir dan berusaha menekan emosinya.


"Hendy." ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke arah Mega, dia merasa bersalah sudah bertindak kasar tadi.


Cewek itu sempat melongo beberapa saat sebelum akhirnya menyambut tangan Hendy. Dia tidak menyangka akhirnya Hendy mau berkenalan dengannya setelah penantian yang amat panjang.


"Mega." cewek itu tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Senyum mengembang dari bibir mungilnya.


"So.. aku boleh kan mengenal kamu lebih jauh?"

__ADS_1


Hendy mengangguk dan tersenyum kecil.


(Mungkin sudah saatnya aku buka hati untuk cewek lain)


__ADS_2