
Dion memacu motor nya dengan kecepatan tinggi. Mererobos 3 lampu merah yang di lewati nya sampai membuat banyak pengendara memaki tingkah gila nya itu.
Dia memarkir motor nya dengan sembarangan sesampai nya di rumah lantas langsung naik menuju kamar.
"Bangs*t!!" suaranya berdengung keras saat dia meninju meja belajarnya.
Para pembantu nya mendengar hal itu tapi tak ada satu pun yang berani menegur Dion. Mereka tahu itu adalah ide buruk jika mengusik nya dalam keadaan marah seperti ini.
Dia menghempaskan tubuh nya di tempat tidur. Pikiran nya menerawang jauh ke kejadian yang baru saja terjadi.
(*Tolong jangan menatapku sedingin itu Ran, jangan membenciku. Kamu gak tahu seberapa berharganya kamu buat aku*).
**
Di tempat lain, Hendy baru sampai di rumah Rani untuk mengantar nya pulang.
"Psstt.. den bagus kenapa tuh mbok, kok wajah nya surem gitu?" bisik Mang Asep. Si mbok menepuk bahu nya dan mengisyaratkan untuk diam.
__ADS_1
"Urusan anak muda."
Rani duduk di samping Hendy setelah membuat segelas teh hangat di dapur. Dia memandang wajah Hendy yang masih terlihat kesal.
Banyak pertanyaan di kepala nya sekarang terutama tentang kakek Hendy. Dia ingin bertanya langsung tapi segera diurungkan. Rani memilih menunggu sampai Hendy sendiri yang bercerita.
"Sorry.." Hendy mulai buka suara.
"Untuk? Pertengkaran kamu sama Dion atau karena udah diemin aku dari tadi?" Rani tersenyum mencoba mencairkan suasana.
"Dulu aku dan Dion berteman baik. Ayah nya adalah kolega bisnis ayah ku. Tak sulit bagi kami untuk jadi akrab karena Dion anak nya emang gampang bergaul sejak kecil. Semua nya baik-baik aja sampai sebuah kejadian mengubah segala nya."
Hendy menarik napas sejenak. Wajah nya kembali menegang dan dia mulai berkeringat. Rani tahu perubahan sikap Hendy. Dia menggenggam tangan cowok yang mulai gemetar di samping nya.
"Ayah nya membuka bisnis baru dan berusaha menjatuh kan ayah ku. Keluarga ku mulai terpuruk karena perekonomian kami menurun, membuat ayah ku stres dan masuk rumah sakit. Aku yang waktu itu emosi, mendatangi rumah Dion untuk meminta penjelasan. Saat aku sampai di sana, terlihat dia dan para pembantu nya baru saja mendapatkan kiriman mobil baru yang mungkin dibeli ayah nya dari hasil perbuatan nya pada ayah ku. Membuat ku semakin naik pitam dan memukul nya. Kami pun berkelahi sampai kakek datang mencoba melerai. Namun aku yang sudah terlanjur marah, tidak menggubris nya dan mendorong kakek sampai.. arghhh!"
Hendy memegang kepala nya yang mulai terasa sakit. Rani kaget dan langsung memeluk Hendy.
__ADS_1
"Stop! Gak usah diterusin!" Rani mengelus lembut punggung Hendy. Membiarkan cowok itu tenggelam dalam pelukan nya. Tubuh nya bergetar hebat dan terasa dingin. Rani masih memeluk nya, dia tidak mau penyakit Hendy kambuh lagi.
Setelah beberapa menit, Hendy pun mulai tenang. Dia mendekap Rani saat cewek cantik itu mau melepaskan pelukan nya. Dia tidak ingin Rani melihat nya dalam keadaan buruk seperti ini.
"Aku menyedihkan banget ya.." bisik Hendy, dia tersenyum getir.
"Kalau kejadian waktu itu sangat menyakitkan, kamu gak perlu ceritain ke aku." balas Rani.
Hendy menahan diri agar tidak menangis. Dia pun melanjutkan.
"Sebuah mobil menabrak tubuh renta kakek ku yang terjatuh, membuat nya terpental beberapa meter. Aku masih ingat saat darah segar mengucur dari kepala nya. Saat itu dia masih bernapas dan menyunggingkan senyum hangat yang biasa dia berikan untuk ku. 'Kakek sayang kamu..' itulah kata-kata terakhir nya.. Bener kata Dion Ran, aku udah membunuh kakek ku.."
Dada Hendy sesak saat menceritakan semua itu. Air mata yang sudah ditahan nya, mengalir begitu saja saat Rani membisikkan sesuatu.
"Gak apa-apa.. menangis lah."
Rani hanya bisa diam saat Hendy terisak pelan. Dia tahu bagaimana rasa nya kehilangan orang yang paling disayangi. Tak mudah memendam kesedihan seorang diri bahkan untuk orang yang sangat kuat seperti Hendy.
__ADS_1