Sang Gitaris

Sang Gitaris
Ancaman


__ADS_3

"Wuah... bagus banget view nya..!!" Oliv merentangkan tubuhnya dan menghirup napas dalam-dalam. Mereka sampai di Danau Beratan Bedugul.


Udara di sana memang masih segar, sangat berbeda dengan udara di kota yang pastinya sudah tercemar berbagai macam polusi. Rani tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu, namun dia menirunya.


Kring..kring..


Rani melihat foto kakak nya muncul di layar handphone. Dia segera menerima panggilan video itu. Namun belum sempat mengucap salam..


"Dek! Kenapa gak bilang lagi ada di Bali sih! Pantesan Abang nyariin keliling rumah 4x kali gak ketemu!" Terlihat wajah serius kakaknya yang membuat Rani menahan tawa.


"Lagian abang kenapa gak tanya si mbok dulu sih. Selalu langsung action duluan."


"M.. Ehem.. Gimana ya.. Udah kebiasaan dari dulu sih. Lagian siapa suruh punya hobby kok ngilang gak pamit abang pula!" Aldo berusaha berkelit sambil memalingkan wajahnya karena malu.


Kakak beradik itu asyik ngobrol tanpa tahu sesuatu yang mengejutkan akan terjadi.


Jrroosshhh..


Sebuah jet sky meluncur terlalu dekat dengan bibir danau sehingga membuat Rani, Oliv, dan beberapa orang lainnya yang sedang berdiri di pinggir danau basah kuyup.


"Wooii!! Hati-hati dong!!" teriak Oliv dan orang-orang tersebut nyaris bersamaan. Oliv bahkan sudah melipat celana jeansnya dan bersiap melangkah ke perahu terdekat. Untung saja Rani menariknya kembali untuk mengamankan nyawa orang itu.


"Yah Ran, harus dikejar dong biar tahu adab!"


"Udahlah.. kan bisa ganti baju. Gak usah marah-marah gitu, cepet tua."


Seperti biasa Rani selalu santai menghadapi masalah apapun selama itu belum membahayakan nyawanya.


"Kamu gak apa-apa sayang."


Rani menoleh ke sumber suara. Di lihat nya pemandangan langka yang selama ini belum pernah dilihat sebelumnya.

__ADS_1


Hendy sedang berdiri di samping nya dengan badan basah kuyup dan tengah memandangnya dengan tatapan kuatir. Dia juga berada di bibir danau saat jet sky tadi melintas.


Sejak pengumuman kelulusan dia sudah tidak ragu lagi mendekati Rani di tempat umum. Seakan dia ingin memberitahu semua orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


Saat ini Hendy memakai kaos oblong tipis warna hitam degan celana pendek selutut. Air telah berhasil memperlihatkan perut sixpack sempurnanya. Membuat Rani malu dan memalingkan wajahnya yang memerah.


Hendy mengerutkan dahinya, dia bingung kenapa Rani tidak mau melihatnya.


"Sayang.. lihat aku dong." Hendy menyentuh pipi Rani, memaksa nya untuk melihat badan seksi nya sekali lagi. Namun Rani masih tidak mau melihat nya, pipi nya pun semakin memerah.


Hendy semakin bingung dengan ekspresi Rani yang menggemaskan. Perlahan dia melihat badannya dan mulai mengerti apa penyebab Rani merona seperti itu.


"M.. Jadi apa kamu malu lihat badanku yang basah ini sayang?" goda Hendy.


"M.. Ya.. Sebaiknya kamu ganti baju sebelum masuk angin." jawab Rani sambil berusaha melihat ke arah lain sambil sesekali melirik perut kotak-kotak itu. Dia hanya berharap Hendy segera pergi atau minimal ganti baju agar pikirannya tetap bersih.


Namun bukan Hendy namanya kalau tidak semakin menggoda Rani. Dia membuka bajunya begitu saja di depan Rani, membuat cewek itu spontan berbalik menutupi wajahnya.


"Yah.. kok balik badan sih? Kamu gak suka sama badan atletis ku sayang?"


Hendy berbisik ke telinga Rani dan semakin gencar menggoda pacarnya. Membuat Oliv yang berada di sebelahnya hanya melotot tak bisa berkata apapun.


(Fix.. Nih cowok edan!)


"Pakai baju gak sekarang!" ucap Rani sambil masih menutup wajahnya. Hendy terkekeh puas lalu mengambil jaket Rani yang melingkar di pinggangnya.


Rani melirik sesaat. Setidaknya bagian yang membuat histeris itu sudah tertutupi jaket meskipun tidak tertutup sempurna karena ukuran tubuh Hendy yang lebih besar darinya. Dia memukul dada Hendy dengan gemas.


"Awas ya kalau kamu buka baju lagi di depan umum!"


"Emang kenapa sayang?" Hendy mendekatkan wajahnya dan menatap Rani nakal.

__ADS_1


"Aku bakal cubit put*ng kamu sampai gosong."


"Dek kamu kenapa?! Terus siapa itu yang panggil sayang-sayang?!"


Astaga! Rani baru ingat kakaknya masih melakukan panggilan video dengannya.


(Mamp*s gue!)


"S.. siapa sih bang? Abang salah denger kali.. Dari tadi aku sama Oliv kok."


Rani memaksakan tawa dari bibirnya, membuat ekspresinya menjadi aneh. Dia mencoba menyembunyikan Hendy agar tak terlihat Aldo. Mengenalkan Hendy ke kakaknya yang saat ini emosi nya sedang tidak menentu adalah ide bodoh.


Aldo menatapnya tajam, mungkin dia tahu Rani tengah berbohong.


"Dek, kamu tahu kan gimana sikap abang ke temen cowok kamu? Abang gak akan segan-segan kalau ada cowok yang nyakitin kamu."


Ancaman Aldo membuat Rani sedikit kuatir. Dia tahu kakaknya akan lebih protektif saat tahu dia punya pacar. Karena itu dia belum mengenalkan mereka berdua.


Tanpa di duga Hendy mengambil handphone Rani dan mulai menyapa Aldo.


"Halo bang.. Maaf kenalin gue Hendy, pacar Rani."


Ekspresi Aldo berubah semakin dingin dan mencekam,.


"Gue gak suka basa-basi. Kalau sampai lo buat dia nangis sekali aja, gue bakal nyari lo."


Aldo mengucapkan semua itu dengan ekspresi datar namun tak membuat Hendy takut sedikitpun.


"Lo bisa langsung bunuh gue bang." kata-kata itu spontan keluar dari mulut Hendy. Aldo sedikit takjub dengan keberanian pemuda itu. Dia meneliti setiap bagian wajah Hendy dengan mata tajamnya.


"M.. menarik." ucapnya sambil tersenyum jahat.

__ADS_1


__ADS_2