
Suasana tampak hening di kelas XII-A3. Siang itu tengah berlangsung pelajaran kimia seputar senyawa turunan alkana.
Sepanjang pelajaran Rani sudah berusaha fokus mengikuti setiap penjelasan yang dijabarkan guru nya, tapi tak ada satu pun yang dia pahami.
Bagaimana dia bisa paham jika pada dasarnya dia benci kimia. Bagi nya kimia lebih menakutkan daripada bertemu hantu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 yang artinya pelajaran hari ini sudah selesai. Ada selang 15 menit untuk para siswa kelas XII beristirahat sebelum melanjutkan lagi pelajaran tambahan untuk menguatkan ilmu mereka saat menghadapi ujian nasional.
"Yuk ke kantin." ucap Oliv mendekati meja Rani.
"Duluan aja."
"Yaelah.. Wajah lo kusut amat neng." goda Oliv sambil mencubit hidung Rani.
"Gak usah dipikir berat-berat, botak baru tahu rasa lo." terdengar tawa renyah Oliv yang semakin menggoda Rani. Rani mengernyitkan dahi seraya melemparkan penghapus ke arah Oliv yang sudah berlari lebih dulu keluar kelas.
"Rese.." gumam Rani sambil tertawa lirih.
Rani memainkan bulpoint sambil membaca catatan nya. Semakin dibaca, diapun semakin bingung. Definisi, rumus kimia, tak ada satu pun yang masuk ke kepala nya. Dia memandang catatan itu sambil menahan tangis.
(Huaa.. gimana nih.. bisa hancur nilai kimia gue..)
Tok tok..
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk kaca jendela di sebelah nya.
"Hendy?" Rani terkejut melihat Hendy di luar jendela. Dia tersenyum dan memberi isyarat untuk membuka jendela.
__ADS_1
"Lagi ngapain sih? Kayak nya serius banget?" tanya Hendy sambil melongokkan kepala ke dalam jendela.
Saat itu Rani di dalam kelas sendirian karena semua teman sekelas nya termasuk Oliv sedang istirahat.
Rani menatap Hendy, dia merasa tidak enak hati dengan kejadian kapan hari di studio. Diam-diam dia berpikir kenapa Hendy bersikap biasa saja sedangkan di hari itu Hendy terlihat kecewa dengan penolakan Rani.
Tanpa disadari, Rani memandang Hendy cukup lama. Dari dekat Hendy terlihat sangat menawan, mata nya yang tajam dipadukan dengan senyum yang mendalam pantas saja banyak yang tergila-gila pada cowok itu.
Di sisi lain sebenarnya Hendy tahu Rani tengah memandangi nya dan Hendy suka akan hal itu. Dia berharap Rani mulai tertarik pada nya. Lagipula dia sudah memutuskan tetap mengejar Rani sampai dia jatuh cinta pada nya, hanya pada Hendy.
Beberapa saat kemudian Rani tersadar dan memalingkan wajah nya yang memerah. Hendy pun tersenyum kecil melihat ekspresi Rani.
"M.. ini nih, kimia." Rani sedikit salah tingkah saat menjawab pertanyaan Hendy.
"Oh.. kamu suka kimia?"
"So, ada apa dengan kimia?" tanya Hendy sambil tertawa.
"Aku gak ngerti sama sekali tentang ini." Rani menunjuk catatan di buku nya. Hendy pun membaca sekilas cacatan Rani.
"Tuh lihatkan! Kenapa gugus turunan nya kayak gitu? Trus ini asal nya darimana juga?" Rani mulai berceloteh penuh semangat yang hanya direspon anggukan kepala oleh Hendy.
"Kamu paham?" tanya Rani lagi dengan ekspresi lucu.
"Paham.. Yang itu rumus alkohol, bisa ditulis sebagai R-OH atau CnH2n+1OH dimana R itu gugus alkil CnH2n+1. Nama Trivial alkohol yaitu alkil alkohol, diambil dari nama gugus alkil yang mengikat gugus -OH." ucap Hendy santai sambil menunjuk catatan yang dimaksud Rani.
Rani takjub mendengar penjelasan Hendy yang di luar kepala. Selain tampan dan berbakat, ternyata dia juga cerdas di pelajaran kimia. Kejutan apalagi yang akan dia ketahui tentang Hendy selanjutnya?
__ADS_1
"Kalau yang itu nama nya Eter, senyawa turunan alkana yang memiliki gugus alkoksi -OR'. Rumus umum nya CnH2n+2O." lanjut Hendy.
Rani yang hanya bisa memperhatikan seakan melihat guru kimia junior tengah menjelaskan pelajaran kepada nya. Selesai menjelaskan panjang lebar, Hendy menoleh ke arah Rani lalu bertanya dengan ekspresi serius.
"Gimana? Udah jelas?"
"O..ke.." jawab Rani ragu-ragu.
"Udah jelas belum?" tanya Hendy lagi yang gemas mendengar jawaban Rani.
"Ha ha.. belum.." tawa cewek cantik itu pun pecah. Matanya yang sipit membentuk bulan sabit saat tertawa dan Hendy semakin terpesona pada mahluk cantik itu. Dia senang bisa melihat tawa indah Rani.
.
"I love you." tanpa sadar Hendy bergumam lirih. Ingin rasanya dia menghentikan waktu saat ini. Untung saja kali ini Rani tak mendengar ucapan nya.
"Nih minum dulu." Hendy pun lalu menyodorkan minuman dingin untuk Rani dengan masih melongok dari luar jendela.
"Makasih. Harus nya kamu gak perlu repot-repot kayak gini."
"Aku ngelakuin ini karena aku suka kok." suara Hendy terdengar penuh arti. Rani menerima minuman yang dibawa Hendy dan menyadari ada lebam di punggung tangannya.
"Tangan kamu kenapa?" Rani spontan bertanya, memang begitulah dia.
"Gak apa-apa." Hendy menarik tangan nya agar Rani tidak melihat lebam itu. Tapi bagaimana pun Rani sudah melihat nya. Dia kekeuh menanyakan penyebab tangan Hendy kenapa sampai bisa seperti itu.
Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi dari kejauhan dengan sangat kesal. Diam-diam sosok itu memikirkan sesuatu yang licik.
__ADS_1