Sang Gitaris

Sang Gitaris
Curhat


__ADS_3

Ting tong.. Ting tong..


"Diberitahukan kepada seluruh siswa dan siswi kelas X, XI, dan XII, pameran buku akan segera di buka 5 menit dari sekarang. Harap seluruh ketua kelas mengkoordinir kelas masing-masing untuk ikut berpartisipasi. Terima kasih."


Semua siswa dan siswi mulai keluar menuju lapangan upacara tempat pameran berlangsung.


"Yaelah.. kebangetan nih Pak Kepsek. Panas-panas gini buka pameran, di lapangan pula." gerutu Oliv.


Pluk! Rani mendaratkan sebuah topi ke kepala Oliv.


"Tuh.. udah gak panas kan." Rani tampak bersemangat menuju lapangan. Sudah lama sekali sekolah tidak mengadakan pameran buku dan ini merupakan kesempatan bagi Rani untuk memuaskan kesenangan nya pada buku.


"Nih Ran." kata Oliv sambil menyerahkan kembali topi yang tadi diberikan oleh Rani.


"Pakai aja. Katanya panas."


"Trus lo sendiri?"


"Gak apa-apa. Gue gak kepanasan kok." kata Rani. Inilah yang membuat Oliv sangat menyayangi Rani sebagai sahabat. Rani tidak akan ragu membantu Oliv walaupun dia tidak meminta nya. Karena itu pula Oliv sudah menganggap nya seperti saudari kandung.


Mereka berdua menuju stand novel. Rani berjongkok di depan stand melihat-lihat buku mana yang akan dia beli.


Saat itu waktu menunjukan pukul 11.15. Waktunya bagi matahari mengeluarkan energi panas nya secara penuh dan membuat Oliv kembali menggerutu.


Rani yang risih mendengar celoteh sahabat nya itu akhirnya menyuruh Oliv berteduh. Oliv pun mengiyakan dan berjanji akan membawakan minuman dingin untuk sang sahabat.


Rani kembali memilah buku yang ada di hadapan nya. Tapi dia merasa ada yang aneh saat suasana di sekitarnya tiba-tiba menjadi teduh. Padahal stand yang dia tuju berada di tengah lapangan yang artinya tidak ada pohon satupun.

__ADS_1


Rani menoleh dan dilihat nya Hendy tengah berdiri di belakang nya. Bayangan tubuh nya yang tinggi dan proporsional yang ternyata telah melindungi Rani dari panas nya matahari.


"Hendy? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Rani sambil tersenyum.


"Sejak kamu ngusir teman kamu tadi."


"Kamu mau lihat-lihat juga? Suka baca novel atau gimana?"


"Aku gak suka novel."


"Trus ngapain ke sini kalau gak suka?" tanya Rani yang semakin bingung.


"Karena aku lihat kamu kepanasan." jawaban Hendy membuat Rani kehilangan kata-kata. Kenapa Hendy sampai mau melakukan hal seperti itu?


Hendy tetap berdiri di belakang Rani. Dia kekeuh berada di sana walaupun Rani sudah meminta nya untuk tidak melakukan itu. Akhirnya Rani membiarkan Hendy melakukan apa yang dia inginkan.


"Totalnya berapa mas?"


"Gak usah mbak, udah dibayar semua."


"Lho, dibayar siapa mas?"


"Itu mas-mas yang ngobrol sama mbak tadi." Rani kaget mendengar ucapan penjaga stand. Dia tidak bicara dengan cowok lain selain dengan Hendy. Artinya dia lah yang telah membayar buku-buku Rani.


**


Rani kembali ke kelas 30 menit kemudian. Tapi dia masih teringat kejadian di lapangan. Dia mulai berpikir apakah Hendy berusaha mendekati nya? Namun dia segera menepis pikiran itu. Tidak mungkin cowok populer seperti Hendy mendekati nya. Pasti Hendy hanya ingin berbuat baik karena dia teman Candra.

__ADS_1


"So, udah dapat buku nya?" Oliv muncul dengan membawa minuman dingin yang dijanjikan.


Rani mengangguk. Sebenarnya Oliv tahu apa yang telah terjadi di lapangan karena sewaktu dia kembali ke stand tadi untuk menemui Rani, si penjaga menceritakan semuanya. Tapi dia memilih seakan tak tahu karena itu urusan pribadi Rani. Dia tidak akan bertanya sampai Rani sendiri yang bercerita.


"Liv, lo tahu Hendy kan?" tanya Rani


"Yup. Why?"


"Kira-kira dia udah punya pacar belum?"


"Emang kenapa? Lo suka sama dia?" tanya Oliv menyelidik.


"Bukan nya gitu.. Jadi gini.." Rani pun menceritakan apa yang terjadi di lapangan. Dia bingung dengan sikap Hendy. Dia takut salah mengartikan perlakuan Hendy padanya.


Oliv mendengarkan Rani dengan seksama. Dari pertemuan nya dengan Hendy dan Leo waktu itu, Oliv sudah bisa menebak kalau Hendy memang jatuh cinta pada Rani. Tapi Oliv tidak mungkin mengatakan nya, biarlah cowok itu sendiri yang beraksi.


Sebenarnya di dalam hatinya dia mendukung penuh jika Hendy ingin berpacaran dengan Rani. Sudah terlalu lama sahabat nya menderita karena kehilangan Evan dan seperti nya Hendy tulus. Tapi mungkinkah? Sampai saat ini Rani masih mencintai Evan.


"M.. kalau misalnya dia emang suka sama lo gimana?" Oliv mencoba memancing nya, dia ingin tahu pendapat Rani.


"Gak mungkin."


"Kenapa gak mungkin Ran? Nothing is impossible."


"Karena dia populer. Mayoritas cewek di sini suka sama dia dan dia bisa dengan mudah milih siapa pun. Lagian apa yang dia suka dari gue?"


"Terkadang apa yang kita pikir gak berarti, justru sangat berarti bagi orang lain dan seringkali kita gak sadar tentang itu."

__ADS_1


Ucapan Oliv seperti menyadarkan Rani dari sesuatu. Dulu dia mengawali hubungan dengan Evan juga karena alasan yang sederhana, sama-sama suka membaca novel. Mungkin Hendy pun juga memiliki alasan yang sederhana. Tanpa disadari perlakuan nya pada Rani hari ini telah membuat Rani sedikit menoleh ke arah nya.


__ADS_2