
Sesekali Rani melirik ke arah Oliv dan Leo yang asyik bercanda. Rani senang melihat Oliv tampak bahagia. Di sisi lain dia juga kuatir Leo akan mempermainkan perasaan nya seperti perlakuan nya ke cewek-cewek lain.
Leo memang terkenal playboy di sekolah. Jika Hendy begitu populer dengan sikap nya yang dingin, maka Leo sebalik nya. Dia terkenal jago merayu dan tak segan mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan cewek yang diincar nya.
Hendy tahu Rani menghawatirkan sahabat nya.
"Leo gak akan nyakitin Oliv kok." Hendy membelai paras cantik yang sedang menatap tajam ke tempat Leo dan Oliv duduk. Rani tetap bergeming.
"Kalau kamu gak percaya dia, kamu bisa percaya sama aku."
Rani masih diam seribu bahasa. Dia masih menatap kedua orang itu seperti pemburu yang tengah mengintai buruan nya. Hendy menghela napas panjang. Tidak mudah bagi nya mengalihkan perhatian Rani yang sudah terlanjur fokus ke sesuatu. Dia pun memalingkan wajah Rani, memaksa cewek itu melihat wajah tampan nya.
"Kok aku di cuekin sih.. Lihat aku."
Rani menatap datar pacar nya, "Kamu yakin Leo tulus?"
"Aku yakin." jawab Hendy singkat. Dia tersenyum berusaha meyakinkan Rani bahwa sahabat nya tidak seburuk rumor yang beredar.
Ranipun menyerah, dia mencoba percaya dengan perkataan Hendy. Tapi bukan Rani nama nya kalau tidak membuat Hendy shock dengan segala tingkah laku dan ucapan nya.
Rani menatap Hendy tajam dan berkata, "Tapi kalau Leo nyakitin Oliv, kamu aku botakin. Aku gak mau ngomong lagi sama kamu."
(Whattt!!)
Beberapa saat kemudian suara hiruk pikuk studio mendadak sunyi saat seseorang masuk.
__ADS_1
"Hai Stars.. Mutusin vacum nih?" dia tertawa lebar seakan mengejek Stars. Dion, cowok yang suka membuat masalah di sekolah. Tidak hanya sering bolos, bahkan ucapan guru pun dia bantah.
Tapi menurut banyak siswi justru itulah daya tarik nya sebagai Bad Boy. Wajah nya cukup tampan dan terlihat maskulin apalagi pandai bergaul semakin membuat nya cukup terkenal apalagi di kelas IPS.
Namun dia sama seperti Hendy, tak pernah terlihat menggandeng seorang cewek. Ditambah lagi dia adalah musuh bebuyutan Hendy.
"Lo mau ngapain di sini?" kata Candra menatap lurus ke arah nya.
"Wuittss.. santai bro. Gue cuma mampir aja. Lagian kalau Stars emang mau vacum, gue mau pinjem itu." Dion menunjuk drum yang berada di belakang Candra.
Hendy tak suka melihat pemandangan itu. Dia menghampiri Dion yang mencoba memancing kemarahan Candra, Leo pun ikut menghampiri. Dia kuatir Hendy lepas kendali mengingat hubungan kedua nya yang tidak baik di masa lalu.
"Cukup. Mending lo pergi dari sini." Hendy berdiri di depan Dion yang langsung menghapus senyum di wajah nya.
"Well.. Liat siapa yang dateng, sang gitaris." Dion menatap tajam ke arah nya.
"Gue rasa lo gak tertarik sama musik. So, ngapain mau pinjem drum?"
"Bukan urusan lo."
"Jelas urusan gue."
"Itu alat musik sekolah, bukan punya lo. Jadi gak usah bertingkah seolah Stars aja yang boleh mainin."
Aura di ruangan itu semakin mencekam. Semua yang ada di sana tidak ada yang berani bicara karena baik Hendy maupun Dion sama-sama menyeramkan saat marah.
__ADS_1
"Lo suka banget ya cari ribut. Gue minta lo pergi dari sini." Hendy tersenyum menyeringai.
"Gimana kalau gue gak mau." Dion terkekeh, "Gue akuin gak gampang ngibulin lo. Emang gue mau pinjem tuh drum, tapi buat gue rusak. Jadi ntar kalian yang bakal disalahin."
Hendy langsung menarik kerah baju Dion, kesabaran nya hampir habis menghadapi cowok di depan nya ini. Dion tersenyum mengejek, dia memang sengaja memancing amarah Hendy.
"Kenapa? Pukul aja.. Apa lo udah jadi cemen sekarang? Seingat gue dulu lo beringas banget sampai bikin kakek lo meninggal." Dion menegaskan ucapannya.
Candra dan Leo yang sedang berada di belakang Hendy pun bersusah payah menahan tangan Hendy agar tidak memukul cowok tak beradap itu.
"Diem lo!" bentak Hendy.
"Ought.. gue jadi takut. Apa jadi nya kalau kakek lo masih hidup dan tahu kelakuan cucu tersayang nya yang masih liar kayak gini."
Hendy pun lepas kendali. Dia mengibaskan tangan Candra dan Leo lalu melayangkan pukulan ke Dion.
Hendy kaget dan terbelalak. Tangan nya berada hanya beberapa senti dari wajah Rani. Ya, beberapa saat yang lalu Rani berlari dan memposisikan tubuh nya di antara Hendy dan Dion. Membuat kedua cowok yang sedang emosi itu terdiam mematung.
Wajah Rani begitu tenang walau sebenarnya dia juga takut terkena pukulan Hendy jika terlambat sedetik saja.
"Cukup." satu kata itu mampu membuat Hendy menurunkan tangan.
Dia mengatur napas, mencoba meredam emosi nya. Dia tidak mau Rani melihat nya dalam kondisi seperti ini. Lalu Rani berbalik menatap Dion yang membuat nya tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Lagi-lagi pesona mata itu mengambil alih.
"Puas?" ucap Rani datar.
__ADS_1
Seharusnya kata itu terdengar biasa saja, tapi entah kenapa hati Dion sakit saat mendengar kata itu keluar dari bibir Rani.