
Hendy tengah memandangi layar handphone nya dengan senyum mengembang.
"Hah.. semakin lama aku semakin sayang sama kamu." dia mencium foto Rani, foto satu-satunya di handphone nya yang bahkan dia dapatkan setelah menempuh perjuangan yang amat panjang.
Maklum saja makhluk cantik itu tidak suka difoto ataupun selfie. Lama dia memandang langsung ke mata hazel cantik yang menatapnya dari layar handphone. Mata yang telah mengalihkan dunianya.
"Udah cantik, kalem, cerdas, dewasa lagi.. Kenapa kita gak ketemu dari dulu aja sih Ran?"
Hendy masih mengagumi ciptaan Yang Maha Kuasa itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Hanya dia cewek satu-satunya yang membuatnya nyaman dan tak ragu untuk menangis di hadapannya. Memperlihatkan sisi lemah dirinya.
Kring..kring..
Tiba-tiba handphone Hendy berbunyi. Dia tidak mengenal nomor yang tercantum di sana dan mengabaikannya.
Kring..kring..
Kring..kring..
"Halo! Siapa sih malem-malem gini telepon?!" Hendy akhirnya mengangkat telepon dengan nada kesal setelah Handphone nya berbunyi lebih dari 7x.
"Kamu tetap dingin dan galak ya."
Dahi Hendy berkerut, siapa cewek ini? Dia pun hanya diam mendengarkan.
"Gak nyangka kamu udah ngelupain suaraku padahal kita baru ketemu tadi sore."
__ADS_1
"Oh, Maria. Ada apa?" jawab Hendy acuh hingga membuat Maria kesal mendengarnya.
"Selera kamu tinggi juga ya soal cewek."Maria mencemooh dari seberang telepon, "Pasti wajahnya polesan."
"Udah? Kamu cuma mau ngomong hal gak penting ini?" jawab Hendy dingin. Sebenarnya dia tidak suka mendengar celoteh Maria tentang Rani.
"Aku juga bisa kayak gitu kalau perawatan terus Hen!"
"Oh ya? Terus hubungan nya sama aku apaan?"
Maria semakin kesal dengan jawaban Hendy. Yang dia tidak tahu adalah Rani memang memiliki paras seperti itu dari lahir dan dia tidak bisa memakai make up. Hanya bedak tabur tipis yang dia sapu kan ke wajahnya. Maria mengira semua cewek cantik adalah hasil make up seperti dia.
"Udah ya, aku sibuk."
Tut..tut..
"Aku gak akan nyerah semudah ini Hen, lihat aja."
**
Di kamar hotel, Rani sedang santai sambil menonton streaming film saat Oliv tiba-tiba melompat ke kasur dan membuat Rani sedikit terpental dari tempatnya.
Postur tubuh Oliv lebih tinggi dan gempal yang memang didapatnya dari hasil latihan karate. Dengan tubuh seperti itu Oliv tentu bisa dengan mudah mementalkan tubuh mungil Rani.
"Kenapa sih Liv.. Leo ngasih kamu apa?" tanya Rani tanpa menoleh.
__ADS_1
"Ih, bukan Ran.. Lihat deh gue nemu ini pas scroll sosmed Leo." Oliv menunjukan handphonenya dengan antusias.
"Halah palingan dia posting foto pas latihan atau promo Stars."
"Lihat dulu kenapa.."
Rani melihat layar handphone Oliv dengan malas dan masih sambil tiduran. Tapi dia segera tersenyum waktu melihat wajah rupawan pacarnya muncul di sana.
Dilihat dari sudut pandang manapun Hendy memang tampan.
"Tadi manyun, sekarang senyum." goda Oliv. Pipi Rani mulai memerah, dia hanya memandang foto Hendy tanpa bersuara.
(Pantes cewek-cewek pada gila kalau lihat dia)
"Ini.. kayaknya foto baru deh kalau lihat model rambutnya." ucap Rani sambil menahan senyum.
"Kalau dari caption nya sih tadi pas di resto fotonya."
"Kirimin ke gue." Rani pun antusias bangun dari kasur empuknya.
"Lo bisa minta sendiri ke orangnya, kan dia pacar lo. Atau selfie berdua gitu kek." Oliv memanyunkan bibir dan kembali menjelajahi sosmed Leo.
"Gue malu Liv.. Gue minta ini aja buruan!" Rani tidak sabar dan menyambar handphone Oliv.
"Haish.. kalian berdua itu emang pasangan aneh. Yang satu minta alamat rumah ceweknya karena gak kepikiran bakal ngapel. Sekarang yang satunya lagi minta foto cowoknya ke gue karena malu minta ke orangnya langsung. Gimana sih.." omel Oliv yang mulai tak terkendali.
__ADS_1
Rani acuh seakan tak mendengar Oliv. Dia segera mengirim foto itu ke handphone nya. Di dalam hatinya dia bersyukur mendapat pacar seperti Hendy yang didambakan hampir semua cewek di sekolahnya. Diam-diam diapun memuji kelebihan pacarnya itu di dalam hati agar tak di dengar Oliv.