Sang Gitaris

Sang Gitaris
Terjebak Bayangan Masa Lalu


__ADS_3

Seluruh teman-teman Rani datang mengelilingi pusara gadis cantik itu setelah proses pemakaman selesai. Jasad Rani sengaja dibawa pulang ke Indonesia atas permintaan Ferdinan sendiri.


Oliv menangis histeris di atas gundukan tanah yang masih merah itu. Dia tidak menyangka Rani pergi begitu cepat.


Tak ada yang bicara sepatah kata pun. Hendy berdiri mematung, hanya air mata yang menggambarkan perasaannya saat ini. Aldo bahkan tidak bisa menangis lagi, pandangan nya kosong menatap nanar batu nisan yang bertuliskan nama adik kesayangan nya.


Dion pun turut hadir di pemakaman. Dia juga sama terpukulnya dengan Hendy. Bahkan dia belum sempat mengutarakan rasa cintanya untuk gadis itu.


Mereka memang langsung memakamkan Rani begitu tiba di Indonesia. Ferdinan telah menolak melakukan proses autopsi terhadap jasad putrinya di Perancis.


Dia tidak mau jasad yang banyak luka-luka itu semakin dilukai lagi. Sudah cukup melihat putrinya dalam keadaan tak menyenangkan dengan berbagai luka di tubuhnya.


Kini semuanya tampak berbeda, tak akan ada canda tawa dari gadis cantik itu lagi. Tak akan ada yang bisa melihat mata indahnya sekarang.


"Hen.." Leo merangkul bahu sahabatnya.


Hendy tak menjawab, dia membelai batu nisan di sampingnya.


"Lo tahu gak, dia seneng banget waktu sampai di bandara kemarin? Dia bilang hanya sebentar, dia bilang akan kembali lagi. Tapi lihat dia sekarang.." tenggorokannya tercekat.


"Hen.. lo harus kuat. Gue masih ada disini." Leo tahu betul sedalam apa rasa cintanya untuk Rani. Tidak akan mudah menghapus cintanya, apalagi Rani pergi dengan cara seperti ini.

__ADS_1


**


Setahun berlalu. Hendy lebih sering mengurung diri di kamar sekarang, membuat banyak tulisan cinta tentang Rani. Apalagi yang bisa dilakukannya selain itu. Bahkan dia belum sanggup untuk perform bersama Stars.


CPTSD nya juga mulai sering kambuh setiap kali dia teringat tentang Rani. Dia jadi sering keluar masuk rumah sakit.


Hati Bi Laila hancur setiap kali Hendy masuk rumah sakit. Rasa nyeri di kepala Hendy bahkan lebih parah sejak Rani meninggal dunia.


Namun begitu, orang tuanya seakan acuh dengan kondisi putra mereka. Hal yang membuat Ferdinan terheran-heran saat Bi Laila menceritakan semua padanya saat menemani Hendy di rumah sakit.


"Kenapa mereka tega sekali dengan putranya sendiri?" tanya Ferdinan. Dia sudah lebih tenang sekarang. Selama setahun ini dia lebih memperdalam agama untuk membuang rasa bersalahnya.


"Begitu lah tuan.. sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Den Hendy selalu sendirian sejak kecil, seperti tidak punya orang tua." ucap Bi Laila sambil menatap Hendy dari luar ICU.


"Apa tidak merepotkan anda tuan?" tanya Bi Laila lagi.


"Tidak. Putriku sudah tiada sedangkan putraku memilih menyibukkan diri di militer. Dia menolak pulang karena selalu teringat adik dan semua kenangan mereka. Jadi aku pun sendirian di rumah." Ferdinan tersenyum, senyum yang berhasil menenangkan hati Bi Laila.


**


Hendy duduk di bangsal nya, memandang kosong ke arah jendela saat Oliv dan Leo masuk. Mereka berdua saling pandang sebelum Leo memanggil cowok itu.

__ADS_1


"Hai sob? Gimana udah mendingan?" dia tersenyum seceria mungkin berharap sahabatnya juga tersenyum.


"Lo tau gak dia bilang apa waktu gue masuk rumah sakit?"


Oliv dan Leo saling pandang. Mereka tahu siapa yang dibicarakan Hendy.


"Dia tanya apa cita-cita gue ingin jadi dokter karena sering masuk rumah sakit."


Hendy tersenyum pandangan nya menerawang jauh. Sulit dan lebih ke arah mustahil untuk menghapus kenangan tentang Rani dari kepalanya.


"Sob.. Lo gak bisa kayak gini terus. Gak baik buat kesehatan lo."


"Lo nyuruh gue ngelupain dia?" Hendy langsung menatap tajam ke arahnya.


"Enggak gitu Hen.. Maksud Leo lo harus kuat. Emang mustahil ngelupain Rani, gue pun sama." Oliv duduk di depan cowok itu sambil terus memberikan pengertian agar dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


"Kamu lebih tahu Rani dari pada siapa pun. Dia pasti sedih lihat kamu terus-terusan kayak gini. Bahagiain diri kamu Hen, kamu bisa bahagia tanpa harus menghapus kenangan Rani. Aku yakin dengan begitu dia akan tenang di sana."


Hendy seperti terpelatuk mendengar kata-kata Oliv. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


(Gimana aku bisa ngelupain kamu Ran.. Terlalu banyak kenangan tentang kamu)

__ADS_1


Leo lalu menepuk bahu Hendy.


"Come on bro. Gue, Oliv dan temen-temen yang lain akan bantu lo, lo gak akan sendirian ngelewatin semua ini."


__ADS_2