Sang Gitaris

Sang Gitaris
Insting Leo


__ADS_3

Artur melihat ke enam owok di atas panggung itu. Dia menatap tajam ke arah sang gitaris ber hoodie.


Entah karena insting atau apa, Hendy tak sengaja bertautan mata dengan Artur. Keduanya saling memandang sengit. Leo pun melirik ke arah sahabatnya. Siapa gerangan yang sedang dilihatnya sekarang.


Mata Leo melihat ke arah Artur. Namun dia tersentak kaget saat melihat cewek di sebelah nya yang tengah asyik memakan kentang goreng.


Dia familiar dengan postur tubuh itu. Dia semakin tersentak saat gadis itu menaikkan wajah nya. Leo yakin melihat hazel di balik kacamata itu. Cewek itu pun tersenyum ke arahnya.


Permainan bass-nya terhenti beberapa ketukan. Hendy segera menyadari dan menyenggol bahu Leo. Dia bertanya dengan isyarat mata, apa yang membuat Leo terpaku seperti itu.


Sementara itu Rani merasa Leo sudah mengenalinya setelah melihat reaksinya di atas panggung.


Rani tak mau Hendy menyadarinya juga. Biar lah cowok itu bahagia dengan cewek yang berkali-kali memberikan isyarat ciuman padanya.


"Artur, sebaiknya kita pergi sekarang."


Cowok itu tak bertanya lebih lanjut. Dia memakaikan topi gunung ke kepala Rani dan menggandeng nya keluar dari tempat itu.


Leo spontan melepas bass-nya dan bergegas mengejar mereka berdua. Teman-temannya yang melihat tentu saja keheranan dengan sikap tak biasa itu.


Terlambat. Kedua orang itu sudah menghilang entah kemana saat Leo berhasil keluar dari cafe dengan napas nya yang memburu karena berlari tergopoh-gopoh dari panggung.


"****!!"


Bletak! Bletak!


Beberapa pukulan mendarat mulus dari teman-temannya tepat di lengan dan punggung Leo. Tampak Hendy berada di barisan paling depan dengan begitu kesal, Mega pun segera menyusul di belakang nya.


"Gila lo bro, ngapain sih?! Kita lagi di tengah show beg*!" ucap Hendy.

__ADS_1


"Lo tuh yang beg*!" balas Leo.


Hendy pun semain bingung dibuatnya. Apa yang sedang merasuki sahabatnya itu hingga bersikap seperti ini?


"Lo bisa ngerasain ada cowok yang lagi menatap lo dengan tajam, tapi lo sama sekali gak peka sama cewek yang ada di sebelah nya!" Leo marah-marah tak jelas membuat Hendy semakin bingung.


"Gue udah punya cewek, ngapain gue lihat cewek lain?"


"Tenang dulu Leo.. Kan bisa diomongin baik-baik." seloroh Mega.


Leo menatap sinis ke cewek itu. Memang dari awal dia tidak begitu setuju Hendy berpacaran dengan Mega, Hendy pun sudah tahu akan hal itu.


"Gue gak ngerti maksud lo, ayo Meg." Hendy merangkul bahu Mega dan mengajak cewek itu masuk ke dalam sebelum sahabatnya memuntahkan amarah tak beralasan itu pada Mega.


Leo tak bisa membendung lagi amarah nya. Dia membalikkan badan Hendy dan melayangkan bogem mentah di wajahnya.


"Leo! Apa-apaan sih lo!" teman-temannya yang lain memegangi tangan dan tubuhnya yang akan menyerang Hendy sekali lagi.


"Lo tuh yang gila! Baru 2 tahun Hen.. Tapi lo udah bisa ngelupain wajah Rani dengan gampang nya! Sedangkan gue.. gue masih hapal betul wajah cantik cewek lo karena Oliv tiap hari nunjukin foto mereka berdua ke gue!"


"Lo kenapa jadi bawa-bawa Rani?!" bentak Hendy.


Mega tersentak kaget dengan suara lantang itu. Ternyata Hendy masih sangat sensitif jika membicarakan Rani. Dia tak bisa berbuat banyak saat Hendy marah seperti ini dan memilih diam.


"Tenang dulu bro, kita bicarakan ini baik-baik." ucap Candra sambil menepuk dada Leo berulang kali.


"Gimana gue bisa tenang kalau barusan gue lihat Rani di sini!"


Hendy langsung menarik kerah baju Leo.

__ADS_1


"Apa lo bilang?!" sorot mata itu begitu menakutkan.


**


"Kamu gak apa-apa melihat si hoodie itu dengan cewek lain?"


Rani terkesima Artur bisa menebak siapa orang yang tengah dipandangnya di cafe tadi.


"Gak apa-apa kok." dia tersenyum.


Namun ekspresi berbeda justru ditunjukkan oleh Artur, dia terlihat kuatir.


"Aku beneran gak apa-apa.." Rani dengan gemas mencubit pipi cowok itu. Dia pun menghela napas dan melanjutkan bicaranya.


"Seperti yang udah kamu dengar sebelum nya tentang percakapanku dengan si cermin mungil. Aku udah menyiapkan hati untuk melihat kejadian tadi dan aku merelakannya."


Rani kembali menoleh ke arah Artur yang tengah memandangnya.


"Berhenti ngeliatin aku kayak gitu. Aku gak tanggung jawab ya kalau kamu jatuh cinta." goda Rani.


(Terlambat.. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu)


**


"Ayah, Rani minta kita semua pindah ke rumah yang ada kota A sekarang juga."pinta Rani sesaat setelah tiba di rumahnya.


Ferdinan hanya terpaku dengan permintaan tiba-tiba ini. Dia menoleh ke Artur untuk meminta penjelasan. Cowok itu hanya tersenyum geli.


"Nanti saya jelaskan om."

__ADS_1


Langsung saja semua orang di rumah itu yang terdiri dari Ferdinan, si mbok, Mang Asep, Rani dan juga Artur mengemasi barang mereka secepat mungkin. Ferdinan hanya mengutus seorang satpam untuk menjaga rumah selama mereka pergi. 30 menit kemudian mereka berangkat menuju rumah kedua mereka di kota A.


__ADS_2