Sang Gitaris

Sang Gitaris
Bioskop


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Hendy menelepon Leo. Namun sahabat nya itu seperti hilang ditelan bumi. Bahkan saat Hendy berkunjung ke rumahnya pun, cowok itu selalu tidak berada di rumah.


"Masak iya nih anak diculik?" ucapnya sambil mengerutkan dahi.


"Siapa yang diculik?" tanya Mega yang baru kembali dari kamar mandi.


"Ah.. bukan siapa-siapa kok. Udah? Yuk masuk.." ucap Hendy lantas menggandeng tangan Mega memasuki gedung bioskop.


Terlihat sudah banyak orang yang mengantri membeli tiket. Mega dan Hendy berjalan perlahan menyusuri poster-poster film yang akan dimainkan hari ini. Ada 5 studio yang masing-masing memutar film yang berbeda.


"Yang ini aja gimana?" tunjuk Mega. Hendy melihat poster itu dan seketika menggeleng. Bagaimana tidak, pacarnya itu menunjuk film animasi yang Hendy rasa tidak cocok untuk orang seusia mereka.


"Kalau yang ini?"


"Nanti yang ada aku ketiduran di dalam. Pilih yang bener kenapa sih.." ucap Hendy sambil mencubit pipi Mega. Cewek itu hanya tertawa. Dia memang suka menggoda Hendy yang anti dengan film-film dokumenter.


Hendy melihat poster paling pojok dan dia langsung menunjuknya dengan antusias.


"Itu aja ya?" senyum lebar mengembang di bibirnya.


Glek..


"Ahaha.. T-terserah kamu aja deh.." Mega pun memaksakan tawa di bibirnya.


(Mamp*s gue! Dia milih film gore dong!)

__ADS_1


**


"Mas mau duduk di kursi mana?" tanya mbak penjual tiket.


"Sebentar.." Artur dengan serius memperhatikan monitor di meja cewek itu. Dia ingin memilih tempat duduk yang benar-benar pas.


"Gimana kalau duduk di kursi pelaminan sama saya."


Bletak!


Petugas yang ada di sebelah nya yang merupakan kepala divisi menjitak mbak penjual tiket itu yang dengan segera mendapatkan senyuman garing dari mbak-mbak gombal di depan Artur.


"Kerja yang bener Siska.." ucap sang kepala divisi sambil melotot.


"Maafin anak buah saya mas. Biasa kalau sabtu otak nya memang agak terkikis. Maklum kelamaan jomblo."


Artur hanya tertawa kecil yang disambut permintaan maaf sang kepala divisi yang diucapkan nya berkali-kali. Setelah itu dia menunjuk kursi yang diinginkannya dan memberikan beberapa uang untuk membeli 2 tiket bioskop.


Dia berbalik dan hampir menabrak cowok yang berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Hendy dan Artur sama-sama tercengang sesaat saat hampir bertabrakan. Namun keduanya memilih melanjutkan perjalanan mereka masing-masing.


(Sebuah kebetulan yang menyebalkan.)


Artur duduk terdiam di depan timezone. Banyak gedung bioskop di kota itu, tapi kenapa dia harus bertemu dengan Hendy di gedung yang sama.


"Hayo! Ngelamun aja!"

__ADS_1


Artur tersentak kaget saat sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Rani tertawa puas dan menyodorkan minuman dingin yang dipegangnya untuk Artur. Cowok itu memandang Rani dengan pandangan takjub.


Sudah berkali-kali dia melihat Rani hari ini dan dia masih saja dibuat terpesona oleh cewek cantik itu. Padahal Rani hanya memakai kaos oblong dan celana jeans, outfit simple yang jauh dari kata glamour. Tapi kenapa telihat begitu mempesona.


"Beautiful.."


"Apa kamu demam lagi? Kamu udah bilang itu berkali-kali sejak pagi."


"How can I do.. Hanya itu yang ada di pikiran ku tiap kali lihat kamu."


"Hemm.. udah pinter ngegombal ya sekarang." Rani memalingkan wajahnya yang mulai memerah.


(Gue bisa beneran jatuh cinta kalau kamu kayak gini terus Artur!)


Ting tong..


Suara tanda pintu bioskop telah dibuka berbunyi. Artur mengajak Rani segera memasuki studio dan tanpa diduga Rani bergelayut manja di lengan Artur. Cowok itu langsung merasa jantungnya seakan akan meloncat keluar dari dadanya.


Artur menoleh ke arah Rani dengan wajah yang memerah, begitu pun dengan Rani.


"M.. ehem.. maaf Artur. Aku takut nyasar.."


Kata-kata Rani spontan membuatnya tertawa.


(Jadi kamu meremas lengan aku karena takut kesasar? How cute you are..)

__ADS_1


__ADS_2