
Crip crip.. 🐦🐦
Suara kicauan burung terdengar dari balik jendela kamar Artur. Sinar matahari pun menerobos masuk dari sela-sela tirai.
Cowok itu mengejapkan matanya seraya duduk di ranjang. Rasa pusing pun segera menyerang kepalanya hingga dia harus memijitnya perlahan.
"Astaga.. kepala gue sakit banget.."
Tanpa sengaja pandangan nya tertuju pada sebuah sapu tangan di atas meja. Dia teringat sesuatu dan langsung berdiri. Dengan masih terhuyung-huyung dia mencari keberadaan handphone nya.
Artur menemukannya diantara tumpukan barang di meja. Baru mau memencet beberapa tombol, benda kecil itu berdering.
"Halo.."
"Halo.. Kirain belum bangun."
Jantung Artur seketika berdetak cepat mendengar suara lembut Rani. Dia mengingat sebagian kejadian tadi malam. Sungguh dia sangat malu Rani melihatnya dalam keadaan kacau seperti itu.
"Em.. Ran.. Sorry.."
"Untuk?"
"Kejadian semalem. Aku kacau banget ya, tolong jangan marah. Aku bisa jelasin semuanya."
Rani tak merespon ucapan Artur. Bukan karena marah, tapi saat ini dia sedang tersenyum sendiri jika mengingat kejadian tadi malam.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Artur hanya mengucapkan kata-kata cinta dan sesekali mencium pipi dan leher Rani mulai dari cafe sampai tiba di apartemen.
Sungguh hal tergila yang pernah dilakukan Artur sampai saat ini, itu pun karena pengaruh alkohol. Entah apalagi yang bisa dilakukan dokter tampan itu jika menyangkut tentang Rani.
"Ran.. Please.. Jangan diem aja.." Artur mondar mandir tak tenang. Diam nya Rani bisa membuat cowok itu benar-benar gila.
"Resto X, jam 10.00. Ada yang bilang pizza seafood di sana enak. Jadi ayo kita makan dan jelasin semuanya. Agree?"
Artur hanya bengong mendengar ajakan Rani.
(Is this dating?)
**
"Aku ingin memperbaiki semuanya. Please kasih aku kesempatan kedua." ucap Hendy sambil membelai rambut Mega yang terurai.
"Aku udah gak ada perasaan apapun sama dia." Hendy terpaksa berbohong. Bagaimanapun juga dia masih mencintai Rani sampai detik ini. Tapi penolakan yang diterimanya membuat Hendy harus bertahan dengan Mega.
Mega menghela napas dan memandang ke arah lain. Matanya membulat saat melihat dua sosok yang berjalan memasuki restoran.
Kedatangan dua orang itu mencuri perhatian sebagian besar pengunjung restoran yang mayoritas ABG.
Sungguh pasangan yang sangat mencolok, tampan dan cantik. Hendy pun melihat ke arah yang sama.
Rani dan Artur berjalan beriringan memasuki restoran dan tanpa sengaja cewek itu melihat ke arah dimana Mega dan Hendy duduk. Mega menelan ludah dan mulai gusar dengan kedatangan mereka berdua.
__ADS_1
(Astaga.. kenapa harus ketemu lagi di saat seperti ini!)
"Look.."
Artur kaget saat melihat dua orang yang sangat tak ingin ditemuinya. Dia takut Rani berpaling kembali pada Hendy. Namun dia tak mau egois dan diam adalah cara terbaik untuk menekan emosinya.
Seakan tahu isi hati Artur, Rani segera bergelayut manja.
"Apa ciuman semalam belum cukup meyakinkan kamu? Walau aku lebih suka kamu ngelakuin itu dalam keadaan sadar."
Astaga.. bagaimana Artur tidak luluh dengan tatapan mempesona itu. Rani begitu cantik dengan outfit yang dipakainya hari ini.
Kaos oblong putih dengan jaket beludru berwarna pink serta dipadukan rok pendek selutut dan sepatu boots. Ditambah lagi topi retro berwarna senada semakin membuatnya modis dan elegan.
Sedangkan Artur sendiri, kaos oblong serta jaket dan celana jeans saja sudah cukup membuat pengunjung resto menganga dibuatnya.
"So.. aku boleh cium kamu lagi?" wajah cowok itu memerah saat mengatakannya.
"Maybe, but first.. biarkan aku ngobrol sama makhluk cantik yang duduk di sana."
(Bad idea..)
Namun apa daya Artur di hadapan Rani. Dia mengangguk dan mereka pun berjalan mendekati meja Hendy dan Mega.
"Hai.. boleh gabung?" pertanyaan Rani hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Mega.
__ADS_1
Di sisi lain Hendy menatap tajam tangan Rani yang menggandeng Artur. Cemburu seketika menusuk hatinya.