Sang Gitaris

Sang Gitaris
Curhat 2


__ADS_3

"Hen.." suara lirih cewek yang dinanti Hendy akhirnya terdengar di seberang telepon.


"Udah gak marah nih?" goda Hendy.


"Maaf.. aku kekanakan ya?" Mega memainkan bolpoin di tangannya menunggu jawaban sang pacar.


"Banget.." cowok itu tertawa, membuat Mega semakin salah tingkah di buat nya. Untung saja Hendy tak bisa melihat wajah nya yang memerah sekarang.


"Aku kangen kamu.. Bisa enggak jangan ngelakuin hal kayak gini lagi?"


Ucapan Hendy langsung membuat jantung Mega berdetak cepat. Untuk pertama kalinya sejak mereka pacaran 3 bulan lalu Hendy menyatakan rindu padanya.


Salah kah jika cewek itu menganggap Hendy telah mencintainya seutuhnya sekarang?


"Aku juga kangen kamu.."


"Tapi kamu betah banget ya kalau ngambek. Seminggu lho! Ditelepon gak diangkat, pesan pun gak di balas." protes Hendy.


(Aku betah-betahin ini.. Dasar gak peka!)


"Iya deh.. Sebagai permintaan maaf ku gimana kalau malam minggu besok kita nonton?" Mega mengalihkan pembicaraan agar dia tak kembali kesal pada pacarnya itu.


"Boleh.. Kamu pilih aja filmnya. Aku ngikut.."

__ADS_1


"Oke.. M.. aku lanjutin ngerjain tugas dulu ya." Mega ragu sejenak untuk melanjutkan ucapan nya.


"Hen?"


"Ya?"


"I love you.."


Mega langsung menutup teleponnya setelah mengucapkan kalimat itu. Butuh keberanian untuk mengucapkan 3 kata itu.


Sebenarnya dia takut Hendy menganggap nya terlalu agresif, namun dia tak tahan memendam rindu yang sudah memuncak di hatinya.


**


"Biar bibi aja den." seloroh Bi Laila yang muncul dari belakang punggung Hendy dan langsung mengambil alih teh celup yang dipegang cowok itu.


Hendy kemudian duduk di meja makan dan mengamati Bi Laila sambil bertopang dagu. Matanya memang melihat wanita itu, tapi pikiran nya menerawang jauh ke kejadian siang tadi.


(Kenapa aku selalu kebayang-bayang cewek itu. Siapa dia sebenarnya?)


"Den.. Awas kesambet lho! Ngelamun terus daritadi." Bi Laila melambaikan tangannya di depan wajah Hendy.


"Ahaha.. siapa yang ngelamun sih bi." Hendy langsung menyeruput teh hangat yang dipegang Bi Laila.

__ADS_1


Wanita itu memperhatikan setiap detil gerak gerik Hendy. Sebagai seorang pengasuh yang dari kecil sudah merawat Hendy, tentu dengan mudahnya dia tahu ada yang sedang mengganggu pikiran tuan muda kesayangan nya itu.


"Aden ada masalah?" ucap Bi Laila sambil membelai lembut kepala Hendy.


Cowok itu langsung menjatuhkan kepala di atas kedua tangannya yang terlipat di meja.


"Bi.. salah gak sih kalau aku masih ingat Rani sampai sekarang? Padahal sudah ada Mega." tanya Hendy dengan masih menyembunyikan wajahnya.


"Salah atau benar itu aden sendiri yang bisa menentukan. Kalau aden masih ingat Non Rani, bibi rasa itu gak ada salahnya karena dia cinta pertama aden. Tapi aden juga harus menjaga perasaan Non Mega."


Hendy menghela napas, diapun melanjutkan.


"Aku bingung bi.. Sebenarnya aku udah bisa ngelupain Rani. Aku juga mulai sayang ke Mega. Tapi ucapan Leo seminggu yang lalu membangkitkan kenangan ku sama Rani. Ditambah lagi tadi siang aku lihat ada cewek yang postur tubuhnya mirip banget sama dia. Aku sampai berpikir dia masih hidup dan ngejar dia kayak orang gila di tengah hujan."


Bi Laila mengangguk, dia mendengarkan curhat Hendy tanpa berusaha menyela sedikit pun.


(Oh jadi karena ngejar cewek yang mirip Non Rani toh makanya pulang ke rumah kayak habis kecebur di kali)


Sedetik kemudian wanita paruh baya itu seperti teringat sesuatu. Seminggu yang lalu saat Leo bertengkar hebat dengan Hendy, beberapa menit setelahnya di tempat lain Bi Laila melihat seorang laki-laki dan perempuan muda melintas di depannya. Saat itu dia sedang menunggu dijemput Pak Suroso di persimpangan jalan tak jauh dari cafe x.


Bi Laila sekilas melihat mobil yang melintas itu dan sempat terperanjat karena dia yakin itu adalah Rani.


(Mungkinkah Non Rani masih hidup?)

__ADS_1


__ADS_2