Sang Gitaris

Sang Gitaris
Kelembutan Hati Seorang Prajurit


__ADS_3

Rani sedang duduk di perpustakaan siang itu dan menutupi wajah nya dengan buku. Beberapa kali dia menurunkan buku nya lalu menaikkan nya lagi. Begitu berulang-ulang sampai dia lelah.


"Come on Hen.. Sampai kapan kamu ngeliatin aku kayak gitu?"


Rani meletakkan buku nya begitu saja. Dia sedikit salah tingkat karena Hendy yang duduk di depan nya sudah menatap Rani sejak 10 menit yang lalu tanpa mengucapkan satu kata pun.


Hendy menghela napas panjang. Dia melihat ke arah bibir Rani yang lebam. Hendy lalu menyentuh pipi Rani yang juga tergores kuku Tya dengan lembut.


"Ini masih sakit?" tanyanya penuh perhatian.


Rani menjauhkan tangan Hendy dari nya. Dia sadar seisi ruangan sedang memperhatikan mereka berdua.


"Enggak.. Kamu gak perlu kuatir." jawab Rani.


"Sorry.. Gara-gara aku.." Hendy tertunduk, dia bahkan tidak sanggup menatap mata pujaan hati nya kali ini.


"Ini bukan salah kamu kok. M.. kalau dipikir lagi, mungkin sebaiknya kamu operasi plastik. Atau bisa gak kamu jadi sedikit bodoh? Jadi aku gak perlu berhadapan dengan cewek anarkis lain nya yang ngejar-ngejar kamu." Rani menggodanya dengan tertawa lirih berharap bisa mengurangi rasa bersalah Hendy.


"Oke kalau itu mau kamu." jawabnya datar.


"Hendy!" tanpa sadar Rani berteriak membuat seisi perpustakaan menoleh ke arah mereka. Cepat-cepat dia kembali duduk.


(Hah.. dia mengiyakan dengan mudah perkataan ku tanpa berpikir)


Tanpa sengaja Rani melihat Tya berjalan di depan perpustakaan. Hendy yang tahu akan hal itu segera pamit dengan alasan ingin ke toilet.


Cowok itu berjalan cepat melewati beberapa siswa dan berhasil meraih tangan Tya dan menarik nya ke belakang kelas. Tya yang terkejut pun memberontak karena sikap kasar Hendy.


"Aww.. sakit Hen." ujar nya setelah lepas dari Hendy.


Hendy menatap tajam. Dia mendekat ke arah Tya dan meletakkan satu tangan nya di samping wajah Tya yang bersandar di tembok.


"Kalau kamu mencoba menyakiti nya lagi, kamu akan tahu akibat nya." Hendy menahan amarah saat mengatakan kata-kata itu. Terpancar aura mengerikan keluar dari wajah nya yang membuat Tya semakin bergidik ngeri. Dia tidak pernah melihat Hendy semarah ini.

__ADS_1


"Ap.. apa maksud kamu Hen? Ak.. aku gak ngerti." Tya berusaha menyembunyikan rasa takut nya. Dia mencoba menyentuh dada Hendy.


"Jangan sentuh aku."


Tya yang tidak bisa lagi menahan kecewa karena tengah diancam cowok yang dia cintai akhirnya menangis.


"Kenapa Hen.. Aku yang duluan mencintai kamu. Tapi kenapa kamu malah tertarik sama dia?!"


Hendy tidak menjawab pertanyaan itu. Bagi nya tak perlu alasan apapun untuk mencintai Rani dan dia tak perlu menjelaskan pada cewek ini.


"Aku tekankan sekali lagi, jangan nekat dan berusaha mencelakai Rani." Hendy berbalik dan melangkah pergi, "Dan jangan pernah muncul lagi di depan ku." lanjutnya.


Tya semakin menangis mendengar ucapan Hendy. Dia semakin membenci Rani dan berharap ayah nya memberikan pelajaran untuk nya.


**


Di ruang tamu lobby..


"Jadi.. gimana jagoan?" tampak Pak Ferdinan di layar handphone Aldo sambil memakan snack.


"Tenang nak.. Seorang prajurit harus bisa mengendalikan emosi nya. Untung lah tugas kamu di pedalaman Kalimantan sudah selesai." ucap Pak Ferdinan yang memang sudah tahu karakter anak lelaki nya satu itu.


Ayah dan anak ini akan berubah dari tenang menjadi gahar jika ada yang mengganggu Rani. Maklum saja, ibu Rani sudah meninggal saat dia berusia 2 tahun sehingga ayah dan kakak nya yang menggantikan tugas dan menjelma menjadi ibu pengganti untuk Rani.


"Aku sudah meminta Om Jon menempuh jalur hukum jika cewek barbar dan keluarga nya itu tidak minta maaf dalam waktu 2x 24 jam secara langsung."


"Ayah tahu bisa mengandalkan mu." jawab Pak Ferdinan dan tersenyum hangat disambut Aldo yang juga tersenyum. Emosi nya mulai reda mendengar pujian dari ayah nya.


"Terus kapan ayah pulang?"


"Kayak nya gak dalam waktu dekat karena di sini ada zombie apocalypse."


"Apa? Zombie!" Aldo kaget mendengar ucapan ayah nya.

__ADS_1


"Ha ha.. bercanda boy.." tawa Pak Ferdinan meledak puas melihat ekspresi putra nya yang kebingungan.


"Garing." Aldo kembali memasang wajah datar. Dia heran ayah nya masih saja mempunyai selera humor yang aneh dan bodoh nya Aldo selalu tertipu dengan humor menyebalkan itu.


"Kamu sudah ketemu adik mu?" tanya Pak Ferdinan setelah puas tertawa.


"Belum yah. Dia.." belum selesai dia mengucap kalimat nya, dia sadar Rani sudah berdiri tak jauh di depannya.


Aldo yang memang sudah kangen spontan meletakkan handphone. Dia berjalan cepat dan tanpa sadar memeluk adik nya dengan kuat.


Dia mengelus rambut Rani menumpahkan kerinduan nya kepada adik tercinta. Ekspresi wajah nya yang semula garang langsung berubah kalem saat melihat Rani. Pemandangan itu menggambarkan seberapa besar kasih sayang seorang kakak yang sudah sekian lama tidak bertemu dengan adik satu-satu nya.


"Bang.. aku gak bisa napas." ucap Rani yang tenggelam di dada bidang sang kakak. Aldo langsung melepas pelukan dan menjelajahi wajah adik kecilnya yang cantik.


"Kapan abang pulang?" tanya Rani ceria. Dia juga sangat merindukan sosok yang sedang berdiri di hadapan nya sekarang.


Aldo mengacuhkan pertanyaan Rani dan mengusap ujung bibir nya yang terluka.


"Memang kurang ajar cewek barbar itu! Berani banget bikin wajah kamu kayak gini. Aku akan menculik dia dan menyuruh nya menyelam di kutub utara."


Rani mendengus pelan mendengar ucapan Aldo barusan.


(Gak ayah, gak abang, kenapa semua nya punya selera humor yang aneh?)


**


Di belahan bumi lain, Ferdinan masih menatap layar handphone nya yang sudah mati.


"Ah.. Kayak nya dua kecebong ku sudah bertemu."


Dia memandang foto di atas meja kerja nya. Tampak seorang pria gagah berseragam tengah menggendong putri kecil yang masih bayi. Di sebelah kiri nya berdiri anak lelaki yang memasang muka masam karena tak mau difoto.


Lalu dia mengusap sisi kanan foto yang memperlihatkan seorang wanita cantik berdarah Perancis yang bergelayut manja di lengan nya yang kekar.

__ADS_1


"Lihat lah Elaine, kedua cahaya kita sudah besar sekarang." tak terasa air mata menetes dari pipi pria paruh baya itu.


__ADS_2