Sang Gitaris

Sang Gitaris
Frustasi


__ADS_3

Rani melihat gitar yang biasa dimainkan oleh Hendy dari luar studio. Hari ini Stars tidak ada jadwal latihan yang membuat studio kosong melompong.


Dia teringat wajah Hendy yang sangat serius ketika memainkan gitar. Entah apa yang terjadi, Hendy tidak pernah mengunjungi nya lagi. Di perpus, kantin, bahkan di jendela seperti yang biasa dia lakukan.


"Kenapa rasa nya aneh banget? Kayak ada yang menghilang." gumam nya. Tanpa disadari Hendy telah menerobos benteng pertahanan Rani dan sedikit demi sedikit menghapus bayangan Evan.


Sejenak dia termenung sampai akhirnya Oliv membuyarkan lamunan nya.


"Bang Aldo udah pergi lagi Ran?" tanyanya sambil memberikan gorengan.


Rani hanya menganggukan kepala. Aldo memang langsung kembali ke tugas nya setelah menerima permintaan maaf dari keluarga Tya dan Vanda tadi malam.


"Kok lo gak pulang ke rumah gue? Dicariin ayah tuh.."


"Gue kangen si mbok Liv. Gak apa-apa gue pulang ke rumah gue aja."


"Ya udah ntar gue sampaikan ke ayah. Terus ngapain lo di sini? Gak ada orang juga di dalam." Oliv celingukan melihat isi studio. Mata nya tertuju pada stick drum yang patah.


"Kayak nya drumer Stars lagi on fire kemarin. Tuh lihat, stick nya patah." kata Oliv sambil menunjuk benda yang dimaksud.

__ADS_1


Rani tak tertarik dan hanya melihat sesaat. Dia menyadari ada sedikit darah di benda yang patah itu. Lalu dia mengajak Oliv berjalan-jalan sebentar mencari udara segar.


Mereka berdua berjalan di pinggir lapangan basket. Di sana ada beberapa siswa dari ekskul basket yang sedang berlatih dengan semangat.


Tiba-tiba..


"Awas kepala!" teriak salah satu pemain ke mereka. Saat itu bola mengarah tepat ke arah Rani. Dia tidak sempat menghindar dan menutup mata.


Bukk!!


(Eh, kok gak sakit?)


"Kamu gak apa-apa?" tanya Hendy tanpa menoleh. Suara nya sangat dingin seolah mereka tak pernah saling mengenal sebelum nya.


"Enggak. Thanks.." Rani baru sadar betapa lebar bahu cowok ini saat melihatnya dari belakang. Hendy pun langsung beranjak pergi setelah mendengar Rani baik-baik saja. Hal itu membuat Rani dan Oliv keheranan dengan perubahan sikap nya yang drastis.


"Kenapa tuh cowok? Kok sekarang cuek banget sama lo?" tanya Oliv bingung.


"Gak tahu. Yang pasti dada nya sekarang pasti sakit banget" Rani menatap kepergian Hendy dengan penuh tanda tanya dan kecewa.

__ADS_1


**


Sore itu Rani pergi menuju apotek yang jarak nya cukup jauh untuk membeli perlengkapan P3K sebagai stok di rumah nya. Dia memacu motor matic dengan santai sambil melihat pemandangan disekitar, padahal saat itu hujan turun dengan lebat.


Rani berhenti di sebuah toko yang berseberangan dengan lapangan basket yang biasa digunakan warga sekitar untuk berolahraga. Dia sadar ada seseorang yang tengah bermain basket di tengah hujan, seseorang yang dikenal nya.


Di saat yang bersamaan Hendy yang berusaha menenangkan pikiran nya berkali-kali membidik bola basket agar masuk ke ring, tapi tak ada satu pun yang mengenai sasaran.


Cowok itu terduduk di tengah lapangan dengan putus asa dan memejamkan mata. Ingatan nya kembali di hari itu, hari dimana dia melihat Rani dipelukan cowok lain di lobby sekolah.


Rasa cemburu menjalar di hati nya, cinta telah membuat Hendy begitu frustasi seperti sekarang. Dia bahkan mematahkan stick drum dan tanpa sengaja menggoreskan luka yang cukup dalam di telapak tangan nya.


Hendy sama sekali tidak peduli dengan keadaan di sekeliling nya sampai tidak menyadari tubuh nya telah basah kuyup karena hujan.


(Begitu dalam perasaanku buat kamu Ran. Apa kamu gak bisa ngerasain itu?)


Hendy tetap duduk di sana selama 30 menit dan tubuh nya mulai menggigil. Tak berapa lama dia pun membuka mata dan baru menyadari ada seseorang di sebelah nya. Dilihat nya Rani sedang berjongkok sambil memegang payung untuk melindungi tubuh Hendy dari hujan.


"Bisa gak kita pindah ke tempat lain yang lebih teduh? Kaki ku mulai kesemutan." ucap nya lembut pada cowok yang telah mencuri hatinya.

__ADS_1


__ADS_2