Sang Gitaris

Sang Gitaris
Seperti Opium


__ADS_3

Tiga hari berlalu. Rani kembali ke aktivitas nya di sekolah seperti hari ini, olahraga. Di pelajaran hari ini guru olahraga nya sudah membagi kelas Rani menjadi beberapa tim. Mereka diminta untuk menciptakan gerakan senam kreatif sebagai syarat ujian praktek minggu depan.


"Yah.. kita gak 1 grup." ucap Oliv. Dia murung karena beda grup dengan sahabat nya.


"Semangat dong.. Tuh kamu 1 tim sama Fifi, dia kan pinter olahraga." timpal Rani.


Mereka pun berunding dengan tim masing-masing untuk menentukan gerakan, musik, leader, dan lain sebagai nya.


Beberapa menit kemudian pelajaran olahraga telah usai. Rani memilih kembali ke kelas lebih dulu meninggalkan Oliv yang dengan semangat masih ngobrol dengan grup senam nya. Cuaca hari ini memang sangat panas sehingga tubuh nya sedikit dehidrasi.


Saat asyik meminum air mineral, tiba-tiba Hendy muncul begitu saja di luar jendela dengan raut wajah serius.


Bruusshh!!


Rani yang kaget spontan menyemburkan air yang diminum nya tepat ke wajah Hendy.


"Uhuk..uhuk. Hendy! Bisa gak sih kalau muncul itu gak ngagetin!" omel Rani sambil menepuk-nepuk dada nya.


Hendy belum mau bicara. Dia seolah mengabaikan apa yang sudah menimpa dirinya. Wajah nya yang basah masih menunjuk kan ekspresi serius.


Rani mengambil tissu dari tas nya lalu mengelap wajah Hendy. Dia menghela napas, kali ini apa yang membuat pacar nya menjadi heboh?


"Bener apa yang di bilang bibi?" tanya Hendy.


"Tentang apa?"

__ADS_1


"Yang kemarin itu?"


"Kemarin kapan? Bibi bilang apa sih?!" Rani mulai kesal dengan pertanyaan Hendy.


"Motor Ran.. Beneran kamu yang nganterin motor aku?!"


"Yup." jawab Rani santai.


"Kamu naik itu?! Serius?!" Hendy semakin heboh.


Rani pun memandang tajam pacar nya. Dia mencubit pipi Hendy karena gemas dengan ekspresi lucu nya.


"Iya sayang.. Aku yang balikin motor kamu, aku naikin. Soalnya Mang Asep gak bisa naik motor cowok dan beliau kuatir disangka maling. Udah? Ada lagi yang mau kamu tanyain?"


Hendy takjub mendengar jawaban Rani. Cantik, lembut, pinter nyanyi, dan dibalik kelembutan nya ternyata dia bisa mengendarai motor sport. Memang bener apa yang dikatakan Bi Laila, Ratu Cleopatra.


Siang nya sepulang sekolah, Candra meminta anak Stars berkumpul di studio. Dia memutuskan Stars untuk vacum sampai ujian nasional selesai. Dia meminta semua teman-teman nya tidak melakukan kegiatan apapun yang mengatasnamakan Stars baik itu di dalam atau di luar sekolah. Setelah melalui diskusi panjang , akhirnya semua sepakat.


Rani dan Oliv memasuki studio saat rapat sudah selesai. Hendy memang meminta Rani untuk menemuinya karena kepala nya masih sedikit sakit sekaligus kangen. Sedangkan Oliv? Tidak biasanya dia ke studio. Mereka duduk di kursi paling belakang, menunggu sampai urusan Stars selesai.


"Tumben lo main kesini Liv?" tanya Rani penasaran.


"Ahaha.. Gue.." Oliv tertawa canggung, ekspresi nya pun menjadi aneh. Rani menyipitkan mata nya, dia tahu sahabat nya menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa? Jangan coba-coba bohong ya. Atau Gue bilangin Om Jon kalau kamu masih gaul sama anak karate." ancam Rani santai. Jonatan memang sudah melarang Oliv untuk ikut karate. Dia ingin putri semata wayang nya jadi lebih feminim.

__ADS_1


"Ih main nya curang!" Oliv kesal dan memonyongkan bibir. Rani tertawa puas berhasil menggoda sahabat nya itu.


Beberapa saat kemudian Hendy dan Leo datang menghampiri. Leo langsung menarik tangan Oliv dan mengajak nya duduk sedikit jauh dari mereka berdua. Rani semakin bingung dengan pemandangan itu.


"Mereka baru jadian kemarin." ucap Hendy sambil duduk di samping Rani.


"Hah? Jadian? Serius?!"


"He'em. Leo bilang dia kesengsem sama pesona Oliv. Yah walaupun aku sangsi juga sih beneran kesengsem apa mau jadiin Oliv tameng biar gak ditagih bayar utang sama ibu-ibu kantin. Lagian jadi orang ganas amat kalau lihat gorengan." Hendy tertawa saat menceritakan kekonyolan sahabat nya.


Rani memandang wajah tampan itu. Aura ketampanan nya benar-benar terpancar saat dia tertawa. Berbanding terbalik saat dia jatuh sakit beberapa hari lalu sampai membuat Rani takut sesuatu yang buruk terjadi pada Hendy.


Hendy menggenggam tangan Rani saat tahu sedang diperhatikan.


"Jangan terus-terusan ngeliatin aku dengan mata yang penuh magic itu. Kamu tahu kan aku gak selalu bisa menahan diri."


"Emang kamu berani?" goda Rani.


"Kamu nantang aku?" Hendy semakin mendekat kan wajah nya dan seketika dihadang sebungkus snack yang dibawa Rani.


"Crazy.." wajah Rani memerah menahan malu.


Hendy tersenyum bangga. Makhluk cantik ini semakin menggemaskan. Bagi Hendy dia adalah opium, bunga cantik yang mematikan. Sekali mendekat, tidak akan mungkin bisa lepas darinya.


Sehari saja tidak bertemu, maka mustahil untuk bisa menjaga kewarasan otak nya dan itu sangat menyiksa. Bagi Hendy dia bisa menahan sakit di tubuh nya, tapi dia tidak akan sanggup jika harus menahan rindu.

__ADS_1


Setiap kali bersama Rani, dia selalu sulit untuk membiarkan nya pergi.


(Ya Tuhan.. kenapa Kau membuat ku candu untuk selalu ingin bersamanya?)


__ADS_2