
Rani tersenyum, namun Mega bisa merasakan ancaman di setiap kata-kata yang terucap dari bibirnya.
"Apa kamu.. bermaksud merebut Hendy suatu hari nanti?"
Rani tidak menjawab pertanyaan itu. Dia meminum jus yang ada di depannya.
"Hanya jika kamu memberi pengaruh buruk untuk dia." jawabnya santai.
"Lalu Artur?"
"Apa kamu tertarik sama dia?" tanya Rani sambil menatap tajam cewek di hadapannya.
Tatapan Rani terasa sangat mengintimidasi. Apalagi bagi cewek yang bermental lemah seperti Mega. Dia hanya bisa menunduk.
Sebenarnya Rani tak berniat sedikit pun untuk merebut Hendy atau semacamnya. Dia hanya ingin menguji perasaan Mega. Lagi pula tak mungkin dia melakukan hal itu di saat dia sudah memiliki Artur.
"Oh come on Meg.. Be strong.." ucap Rani sambil tertawa.
(Wait.. dimana Artur? Kenapa sampai sekarang masih belum kembali? Dan dimana juga Hendy?)
**
Artur menghela napas sambil melihat cermin.
"Astaga.. kenapa gue sulit banget buat gak cemburu sama tuh cowok sih.."
Dia melangkah keluar dan mendapati Hendy bersandar di dinding tak jauh dari pintu toilet. Pandangan cowok itu seperti seorang pembunuh yang siap menyerang korbannya.
Artur mengacuhkan Hendy dan berjalan melewatinya.
"Wait.." Hendy langsung menghentikan cowok itu. Artur hanya tersenyum menanggapinya.
"Kenapa lo panggil Rani sayang?" tanyanya.
__ADS_1
"Ada yang salah?"
"Jawab aja pertanyaan gue."
"Bukan urusan lo."
Hendy mengepalkan tangannya, namun sebisa mungkin dia menahan agar tidak memukul Artur.
"Dia itu milik gue."
"Dulu. Sekarang dia milik gue." seringai Artur.
Serta merta mata Hendy memerah. Dia sadar tidak sepantasnya cemburu, tapi entah kenapa perasaan itu muncul begitu saja.
"Hei.. Gue gak ngerti jalan pikiran lo. Lo udah punya Mega, tapi lo masih ingin memiliki Rani. Serakah."
Artur tersenyum garang. Rani adalah milik nya dan dia tak ragu lagi mempertahankan cewek itu, cewek yang sudah memiliki hatinya.
"Gue saranin lo jangan mengusik cewek gue lagi. Next time mungkin gue gak akan bisa se sabar sekarang."
Hendy langsung mencengkeram kerah jaket Artur.
"Stop it."
Suara lembut itu membuat keduanya menoleh. Rani sudah berdiri tak jauh dari mereka. Kedua tangannya saling bersilang di dada menandakan dia tidak senang melihat hal ini.
"Ada yang bisa jelasin apa yang terjadi?"
Hendy melepaskan Artur, mundur beberapa langkah. Artur mendekati Rani dan mengecup dahinya. Sungguh hal yang di luar dugaan bagi Rani. Dia memeluk pinggang ramping Rani dan berdiri membelakangi Hendy.
Tentu saja hal itu semakin membuat Hendy panas. Artur benar-benar menguji kesabarannya.
"Hei.." Hendy baru akan melangkah mendekati pasangan itu. Namun pandangan sayu Rani menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"I'm so sorry.." bisik Artur.
"It's okay.. " Rani melingkarkan tangannya di lengan Artur yang memeluk pinggangnya.
"Bisa kasih aku waktu ngobrol sebentar sama dia?"
Permintaan Rani tentu membuat mata Artur membulat. Ekspresinya menandakan bahwa dia tidak setuju dengan permintaan itu.
"Please.. aku hanya ingin menyelesaikan semuanya. Kamu percaya kan sama aku?"
Artur tersenyum dan mengangguk. Rani adalah kelemahan nya. Dia pun meninggalkan Rani dan Hendy untuk ngobrol walau dengan berat hati.
"Hah.. Hen.. sampai kapan kamu kayak gini terus?" ucap Rani saat Artur sudah menjauh. Dia kecewa kenapa Hendy masih bersikap kekanakan.
"Bukannya kita udah bicarain ini tempo hari?"
Hendy tak sanggup menatap mata itu. Dia hanya memalingkan pandangannya ke arah lain. Hatinya terluka jika Rani menatapnya dengan kecewa seperti saat ini.
"Apa aku harus pindah dari kota ini biar kamu tenang sama Mega?" lanjut cewek itu.
"Enggak.. Sorry.. Aku hanya.. menganggap kamu masih milik ku." dia pun tersenyum kecut.
"Relakan aku Hen.. Relakan hubungan kita juga. Kamu tahu betul kita gak bisa memutar waktu kembali. Suka atau tidak semuanya udah terjadi. Aku pun berat jalanin semua ini. Tapi ingat Hen, di sisi kita udah ada orang yang beneran tulus sayang sama kita. Jangan kecewain mereka.."
Rani tersenyum hangat sekarang. Hati Henry pun langsung luluh.
"Jodoh ada di tangan Tuhan. Kita gak akan tahu siapa jodoh yang ditakdirkan buat kita. So, kita jalanin aja yang ada di hidup kita tanpa ada rasa penyesalan. Agree.." lanjut cewek cantik itu.
Hendy menghela napas dan mengangguk. Kini hatinya merasa lebih tenang.
"Okay.. Aku akan jalanin semua ini. Aku janji gak akan memprovokasi cowok kamu lagi. Tapi aku minta kita tetap berkomunikasi. Seenggaknya aku ingin kita tetap.. berteman."
Hendy sedikit berat saat mengucap kata 'teman". Namun yang lebih penting baginya saat ini adalah Rani tak menghilang lagi dari pandangannya.
__ADS_1