Sang Gitaris

Sang Gitaris
Jawaban


__ADS_3

Hendy melajukan motornya tanpa arah dan tujuan. Pikirannya kacau. Penolakan Rani telah meruntuhkan akal sehatnya. Jangankan untuk berjalan, untuk tersenyum saja dia tidak berselera.


Tin...


"Woi! Hati-hati dong!" teriak pengemudi motor lain yang hampir terserempet Hendy.


Tanpa pikir panjang dia langsung menepi. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Ran.. kenapa rasanya lebih sakit daripada saat aku mengira kamu ninggalin aku selama-lamanya waktu itu.."


**


Rani baru pulang pukul 21.00. Dia mengelilingi taman kota dan sekitarnya untuk refreshing sejenak walau itu tak cukup berhasil.


Cewek itu meraih handphone. Dia menggeser galeri fotonya dan terlihatlah foto Hendy di sana.


"Apa kamu tahu gimana berat nya aku ngelepasin kamu Hen.. Merelakan kamu bersama orang lain." ucapnya sambil mengusap layar handphone.


Kring kring..


Dering telepon membuat Rani kaget dan hampir menjatuhkan benda kesayangannya itu.


"Halo Ran..!" terlihat wajah bingung Oliv setelah Rani mengangkat video call itu.


"Apaan sih Liv.. bikin kaget aja! Wah lo lagi dimana? Mewah banget deh tempatnya." Rani langsung melupakan rasa kesalnya setelah melihat pemandangan di belakang Oliv.


"Gue di cafe A, di sini pemandangan nya bagus banget lho. Langsung berbatasan sama pantai pula. Eh kok malah ngomongin cafe sih!"


Oliv mengalihkan kameranya yang memperlihatkan seorang cowok tengah berjalan menaiki tangga menuju balkon.


"Itu bukannya Artur ya Ran?"


Sosok itu berjalan sempoyongan sambil menggenggam sebotol minuman yang Oliv yakini mengandung alkohol.


"What?" bisik Rani. Itu memang Artur, tapi kenapa dia di sana dan mabuk-mabukan?


"Em.. Ran, lo mending cepetan ke sini deh. Kayaknya ada cewek yang ngikutin dia."


"Shareloc!"

__ADS_1


Rani buru-buru keluar rumah. Dia langsung menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan rumahnya.


**


"Waduh.. Gak ada kembalian nya mbak."


"Ambil aja pak." Rani melempar senyum dan bergegas masuk ke cafe A. Dilihatnya Oliv dan Leo sudah menunggu di dalam dengan wajah cemas.


"Dia dimana?"


Oliv memberitahu tempat yang dituju Artur. Sebuah balkon yang berada di lantai 2. Rani melangkah cepat tanpa menghiraukan nafasnya yang terengah-engah.


Braakkk!


Suara keras pintu balkon yang terbuka mengejutkan cewek menor yang sedang memojokkan tubuh Artur di dinding. Tangannya ternyata telah membuka kancing kemeja Artur yang keempat hingga perut atletis cowok itu sedikit terlihat.


Rani sangat kesal melihat pemandangan itu. Dia mendekat dan menarik tangan si cewek.


"Lo mau ngapain cowok gue?" nada suara yang begitu dingin keluar dari bibirnya.


"Cowok lo?"


Artur dengan jelas mendengar ucapan Rani walau dia dalam keadaan setengah tak sadar.


(Rani.. Are you kidding me?)


"Pergi." Rani menatap cewek yang hampir melucuti kemeja Artur dengan pandangan penuh ancaman hingga membuat si cewek memilih pergi.


Lagi pula di pintu sudah ada Oliv yang memandang nya dengan garang dan siap melancarkan serangan jika cewek itu bersikukuh tetap di sana.


Cewek asing itu pergi disusul Oliv, membiarkan sahabatnya dan Artur menyelesaikan urusan mereka. Leo hanya memperhatikan dari jauh dan menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Stop it." ucap Rani sambil merebut botol anggur yang di pegang Artur.


"Kembaliin Ran.."


"Enggak.."


Rani meletakkan botol itu di meja yang cukup jauh dari jangkauan Artur. Dia lalu mulai mengancingkan kemeja Artur satu per satu.

__ADS_1


"Kamu kenapa kayak gini sih.. Ada masalah apa?"


"Kamu." jawab cowok itu singkat.


"Hah, aku?"


Artur memandang wajah Rani lekat-lekat dengan pandangan yang mulai kabur. Segala yang dilihatnya menjadi 2 sekarang.


"Kamu gak bilang kalau punya saudara kembar?" ucapnya lagi sambil tersenyum, senyum yang amat memukau.


"Kamu ngomong apa sih?"


"Itu.. di samping kamu.. Ah.. ****.. Kayaknya aku beneran mabuk." dia memegangi kepalanya yang terasa berputar.


"Hah.. Ayo pulang." Rani menarik tangan Artur dan bermaksud memapahnya pergi. Namun Artur enggan berjalan dan malah mendekap Rani.


"Seandainya kamu ada 2, pasti rasanya gak akan sesakit ini saat lihat kamu bermesraan sama cowok lain." bisik Artur lantas mencium leher Rani.


"Bermesraan?" Rani membiarkan Artur mencium lehernya sambil berusaha mencerna ucapan Artur.


Sepertinya Artur melihatnya dan Hendy di depan rumah sakit tadi siang. Kenyataannya adalah memang demikian, Artur melihat mereka tepat saat Rani membelai pipi Hendy.


"Apa kamu segitu cintanya sama dia sampai gak ada lagi tempat buat aku di hati kamu?"


Artur mulai melantur menumpahkan seluruh isi hatinya untuk Rani. Mabuk benar-benar membuatnya berani mengutarakan semua rasa yang selama ini di pendam nya.


Rani mulai gemas mendengar celoteh Artur dan cup..


Cewek itu mencium Artur yang membuat cowok itu semakin mabuk kepayang. Bibir lembut itu membungkam sang dokter dan perlahan mereka larut dalam ciuman hangat di keheningan malam.


Rani melepaskan bibirnya, dalam jarak yang sangat dekat dia melihat kegembiraan di wajah tampan yang masih menutup matanya itu.


Di hatinya dia pun merasa senang dan nyaman sama seperti saat dia dan Hendy pertama kali berciuman dulu.


"See? Mulai sekarang kamu milik ku." ucap Rani seraya membelai lembut pipi cowok di hadapannya.


Artur tak bisa menahan diri lebih lama. Segera dia kembali ******* bibir Rani sampai dia tidak ingat lagi sudah berapa lama ciuman itu berlangsung.


"I love you.."

__ADS_1


Senyum mengembang dari sang dokter yang akhirnya mendapatkan cinta si pujaan hati.


__ADS_2