
Mata Pak Suroso tidak bisa berhenti melihat dari kiri ke kanan lalu ke kiri lagi, begitu seterus nya secara berulang.
Di depan nya Bi Laila mondar mandir sambil berkali-kali melihat jam dinding. Dari wajah nya terlihat jelas dia sedang kuatir.
"Udah lah buk.. duduk aja kenapa sih? Bapak capek ngelihat nya." akhirnya Pak Suroso buka suara.
"Duh pak.. Den Hendy kemana ya? Ini lagi hujan deres, mana mau magrib." ujar nya dengan masih mondar mandir tidak tenang.
"Baru juga mau magrib buk. Lagian Den Hendy kan udah gede, dia pasti bisa jaga diri kok. Orang main nya aja sama samsak." kata pria berkumis itu sambil menyeruput kopi hitam buatan istrinya.
"Ya tetep aja ibuk kuatir pak. Kalau ada apa-apa kita bisa digorok sama tuan besar."
Baru saja menyelesaikan kalimat nya, terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Bi Laila hapal betul itu suara motor Hendy. Dia langsung berlari membuka pintu depan dan melihat Hendy basah kuyup.
"Ya ampun den.. darimana aja sampai basah gini?" tanya Bi Laila.
"Dari dapatin ratu bi." ucap nya sambil tersenyum lebar. Dia pun melangkah pergi menuju kamar nya, meninggalkan Bi Laila yang bingung.
(Ratu? Ratu Elizabeth?)
**
Keesokan harinya saat jam istirahat, Candra mengajak personil Stars briefing untuk penampilan mereka di cafe X malam ini. Mereka membicarakan persiapan mulai kelengkapan alat, lagu, dan lainnya.
Leo tidak bisa berkonsentrasi mendengar pengarahan Candra. Dia berkali-kali melirik Hendy.
(Nih anak kesambet apa gimana dari tadi senyum-senyum sendiri?)
Leo memang belum tahu kalau Hendy dan Rani sudah berpacaran. Karena terlalu penasaran akhirnya dia bertanya pada Hendy tentang keanehan tingkah laku nya dari pagi. Dia memercikkan air dari botol mineral ke wajah Hendy yang langsung di pukul sahabat nya itu.
__ADS_1
"Lo ngapain sih?!" gerutu Hendy.
"Lo tuh yang ngapain, dari tadi senyum-senyum sendiri. Gue kira lo kesambet dodol!" ucap Leo lalu meneguk air minum yang dibawa nya.
Hendy lalu merangkul bahu Leo dan mengatakan dia sudah berpacaran dengan Rani.
"Serius?!" Leo spontan berteriak dan membuat nya kembali mendapat pukulan dari Hendy.
"Biasa aja gobl*k! Ntar dikira lo gue apain." ucap Hendy sewot.
Leo tak bisa menyembunyikan kegembiraan nya. Akhirnya cinta sahabat nya tak bertepuk sebelah tangan.
"Kalau gitu mana PJ-nya?"
"Oke.. Karena gue lagi seneng, gue traktir lo makan sepuas nya hari ini. Ajak yang lain juga biar rame."
Sesampainya di kantin, Hendy menyuruh para personil Stars memesan makanan yang mereka suka. Lagi pula Leo juga sudah menceritakan tentang Rani sehingga tanpa sungkan mereka mengambil jatah PJ-nya masing-masing.
Saat asyik makan sambil bercanda, sekerumunan siswa yang sepertinya dari kelas XII duduk di belakang mereka sedang membicarakan sesuatu yang akhirnya menimbulkan masalah.
"Jadi lo habis di tolak lagi sama Rani?"
Hendy yang mendengar nama Rani disebut, langsung menghentikan makan nya.
(Duh..gawat..)
Leo mulai waspada. Dia tahu hal ini akan memancing emosi Hendy.
"Eh sob, gue pesen martabak juga ya. Lo mau kagak?" Leo berusaha mengalihkan perhatian Hendy. Dia mulai bicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak penting yang membuat teman-teman nya bingung.
__ADS_1
Tapi percuma, Hendy yang sudah terlanjur mendengar pacar nya sedang dibicarakan tidak bisa dengan mudah dialihkan perhatian nya begitu saja dan sayang nya gerombolan siswa itu masih membicarakan Rani.
"Iya. Bener-bener deh tuh cewek, susah banget dideketin."
"Ya jelas lo ditolak lah, lo burik dia nya cantik. Mana mau sama lo." ucap salah satu cowok disambut gelak tawa teman nya yang lain.
"Sial*n lo! Gini-gini bokap gue tajir. Lagian secantik apapun cewek bakal takluk juga kalau dikasih duit." ucap cowok itu sambil menyeringai.
Tangan Hendy mulai mengepal, namun dia masih berusaha sabar mendengar semua itu.
"P-pindah yuk sob! Di sini banyak nyamuk." Leo pun masih berusaha mengalihkan perhatian Hendy.
(Aduh.. nih cowok-cowok bermental ibu-ibu PKK bisa diem kagak sih! Gak tahu ya di sini ada macan!)
"Gue tinggal kasih duit yang banyak ke dia. Begitu dia nerima gue udah deh, gue gerayangin aja sampai puas." tawa cowok itu pun meledak.
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah cowok mesum itu, membuat nya tersungkur di lantai seketika.
"Bangs*t! Siapa yang berani mukul gue!"
Cowok itu meringis kesakitan dan berbalik mencari orang yang memukul nya. Matanya terbelalak saat melihat Hendy berdiri dengan tangan mengepal.
Auranya benar-benar menakutkan seakan dia ingin membunuh cowok itu. Hendy meraih kerah baju si cowok dan memukul nya berkali-kali. Teman-teman nya yang kaget langsung memeluk tubuh Hendy yang mengamuk dan menjauhkan si cowok dari jangkauan nya.
"Stop Hen! Anak orang bisa mati!" kata Leo sambil terus menahan tubuh Hendy dan hampir gagal. Kekuatan fisik Hendy begitu besar yang memang didapat nya dari latihan Kick Boxing selama setahun ini.
"Gue gak peduli." ucap nya sambil terus menatap tajam ke arah cowok yang wajah nya sudah babak belur.
Tak berapa lama tatib datang dan membawa Hendy beserta cowok itu yang belakangan baru diketahui bernama Igor. Mereka digiring menuju ruangan Bimbingan Konseling.
__ADS_1