
Rani termenung menatap keluar jendela kamar nya yang berada di lantai 5. Sehari sebelum nya dia meminta Artur untuk datang ke alamat rumah neneknya. Namun sesampainya di sana rumah itu sudah kosong tak berpenghuni.
Dia berpikir kemana nenek nya pindah, dia tak punya petunjuk sama sekali. Pikiran nya lalu menerawang ke ayah dan kakak nya. Kenapa mereka tak mencari Rani? Apakah mereka mengira dia sudah mati?
Dia memegang perutnya yang terluka dan tiba-tiba dia teringat seseorang, Hendy. Cowok itu juga pernah terluka, namun luka itu terletak di dadanya.
Bagaimana kabar cowok itu sekarang? Apa dia baik-baik saja? Rasa rindu pun mulai merayap di hati nya.
"Ehem.. Mikirin apa sih dari tadi.." suara Artur seketika membuyarkan lamunan Rani.
Sang dokter berjalan mendekat dan duduk di samping nya. Cewek itu tersenyum manis memperlihatkan bulan sabit di kedua matanya. Perpaduan yang indah dengan mata hazel miliknya.
Deg.. deg..
Jantung Artur seketika seperti mendapat serangan ribuan kuda yang sedang berlari ke arahnya, berdetak keras dan cepat.
(Ya Tuhan.. aku bisa kena serangan jantung jika dia tersenyum seperti itu secara terus menerus padaku)
Rani mengambil sebuah apel dan mulai mengupas nya. Seperti biasa gadis itu selalu bersikap tenang. Namun Artur tahu sesuatu sedang mengusik pikirannya.
"Ran.. kamu masih ingat alamat rumah kamu di Indonesia?"
Pertanyaan Artur spontan membuat Rani menoleh. Cowok itu pun tersenyum.
"Aku ingin antar kamu pulang bertemu keluarga kamu."
__ADS_1
"Beneran?!" tanpa sadar Rani menggenggam kedua tangan Artur saking senangnya. Tentu saja dia antusias dengan ucapan Artur. Bagaimana tidak, dia kehilangan tasnya saat bencana itu datang dan sial nya semua barang berharga nya di dalam sana termasuk visa.
"Beneran.." Artur membalas genggaman tangan Rani, hangat dan lembut.
"Aku akan melakukan check up total. Kalau kondisi kamu udah stabil, minggu depan kita terbang ke Indonesia. Gimana?"
Rani mengangguk dan tersenyum lebar. Tanpa sadar dia memeluk Artur saking senangnya.
Perlahan wajah cowok itu memerah. Kelembutan dan tingkah menggemaskan Rani menjebol pertahanan hatinya. Setelah sekian lama akhirnya dia merasakan kehangatan dari seorang cewek.
**
Seminggu kemudian hari yang di tunggu pun tiba. Rani terlihat sibuk mengemas barang bawaan nya di sebuah koper. Dia memasukkan beberapa setel pakaian yang dibelikan oleh Artur.
"Apa kamu masih mengingat ku Hen? Apa kamu tahu perasaanku masih sama? M.. sudah lah.. sudah 2 tahun berlalu. Mungkin kamu sudah bahagia dengan cewek lain sekarang. Gak apa-apa, aku ngerti kok.." dia bergumam sendiri sambil memegang cermin kecil di tangan nya.
Artur tersenyum sambil bersandar di pintu. Dia menyilang kan kedua tangannya di dada, membiarkan Rani menyelesaikan dialog nya dengan si cermin.
Beberapa menit kemudian Rani menyadari kedatangan Artur dan memasukkan cermin itu ke koper nya.
"Ka..mu.. udah lama di situ? Kenapa gak langsung masuk sih." protes Rani, membuat ekspresinya menggemaskan.
"Aku gak mau ganggu obrolan kamu sama cermin lucu itu." tawa Artur pecah membuat cleft chin milik nya terukir semakin jelas. Wajah Rani pun memerah dengan gurauan memalukan itu.
"See? Pesawat kita terbang satu jam lagi. Kita harus segera berangkat sekarang."
__ADS_1
Cowok itu langsung menjinjing koper Rani tanpa menunggu persetujuan si empunya. Gadis cantik itu pun mengikuti nya dari belakang.
Rani menatap punggung lebar Artur. Cowok ini sudah begitu baik padanya. Bukan kah seharusnya dia senang menerima perlakuan ini. Tapi entah kenapa hatinya terganjal sesuatu, apalagi kalau bukan karena Hendy.
Dia berpikir rasional, dalam waktu 2 tahun semua bisa saja terjadi. Rani mulai menyiapkan hatinya dari sekarang jika ternyata apa yang dipikirkannya tentang Hendy benar-benar terjadi, kenyataan bahwa pacarnya sudah punya pengganti dirinya.
***
Ting tong..
Si mbok sibuk menyiapkan sarapan dan kopi untuk majikannya pagi itu saat bel rumah berbunyi.
"Siapa sih pagi-pagi udah bertamu?!" si mbok melirik jam dinding yang saat itu menunjukkan jam 05.30.
Wanita setengah baya itu berjalan keluar dapur sambil membawa secangkir kopi di tangan. Dia melihat ke arah pintu yang masih jauh dari jangkauan nya saat melihat pintu itu terbuka.
Prang!!
Kopi di tangan nya terjatuh. Dia terbelalak kaget, bibir nya tak bisa berkata apapun.
"Mbok.. apa itu yang jatuh?" Ferdinan keluar dari kamar sambil masih memakai sarung.
Segera dia ikut terbelalak saat melihat seseorang yang sangat disayangi nya tengah berdiri dan tersenyum ke arahnya. Air mata langsung menetes dari mata tua itu.
"Ayah.. apa kabar?" tanya Rani dengan senyum hangat.
__ADS_1