Sang Gitaris

Sang Gitaris
Membaur dengan Pengunjung


__ADS_3

Artur tenggelam dalam pikirannya. Siapa Hendy? Kenapa dia datang jauh-jauh ke Perancis untuk mencari Rani? Apakah dia orang yang spesial?


"Apa ayah masih berkomunikasi sama dia?"


"Masih sayang.. Selama hampir 1 tahun dia terpuruk saat mengira kamu sudah meninggal. Ditambah lagi CPTSD yang di deritanya membuat keadaannya semakin buruk."


Artur bisa melihat kesedihan di mata Rani walau dia tidak mengatakan nya. Sepertinya perkiraan Artur benar, Hendy adalah orang yang spesial bagi Rani.


"Terus sekarang keadaan dia gimana yah?" tanya Rani.


"Keadaanya mulai membaik sejak ayah menawarinya magang di kantor cabang. Dan m.. sayang.." Ferdinan ragu-ragu untuk mengatakan hal ini, tapi bagaimana pun putri nya harus tahu.


"Dia sudah punya pacar baru kan?" tanya Rani sambil tersenyum.


"Sayang.." Ferdinan tahu ini bukan berita baik bagi Rani. Diam-diam dia berencana akan membawa Rani pindah ke kota lain jika Rani menangis karena mendengar berita ini.


"It's oke.. Rani ngerti kok yah.. 2 tahun itu memang waktu yang lama. Dia tidak bisa terus-terusan hidup dengan bayangan Rani yang dia kira sudah meninggal. Gak apa-apa kok yah.. Rani harus tahu diri juga, biarkan dia bahagia dengan cewek lain."


Sungguh hal yang luar biasa terucap dari bibir gadis kecil nya itu. Tak ada tangis dan penyesalan. Putri kecil itu sudah tumbuh dewasa sekarang.


Seketika ribuan jarum menusuk hati Artur. Sulit baginya mendengar cewek yang dicintai nya masih menyimpan rasa untuk cowok lain.


Rani memandang Artur yang tengah tertunduk. Perlahan dia menggenggam tangan cowok itu.


"Thank's for everything Artur. Aku harap kamu gak menyesal udah nyelamatin aku." mata hazel itu berbinar cerah.


Kejujuran terpancar dari kedua bola mata Rani. Artur tersenyum penuh makna. Sungguh dia berharap bisa memiliki hati cewek cantik ini seutuhnya.


(Aku akan bersabar sampai kamu bisa membuka hati mu untuk ku)

__ADS_1


**


Angin berhembus sepoi-sepoi sore itu di pemakaman kota. Rani tengah memandangi batu nisan yang bertuliskan namanya di sana.


"Hah.. kenapa kamu berakhir seperti ini. Padahal aku berharap kamu selamat waktu itu." dia mengusap lembut sambil membayangkan wajah gadis yang terbujur kaku di bawah gundukan tanah itu.


Ferdinan dan Artur berdiri di belakang nya dan memilih diam. Setelah melakukan diskusi singkat dengan Rani dan Artur, akhirnya Ferdinan memutuskan untuk mencabut batu nisan itu. Lagi pula sudah jarang ada yang berkunjung ke makam ini, tak terkecuali Hendy.


Mereka bertiga berjalan kembali menuju mobil.


"Jadi Stars udah jadi pengisi acara tetap di cafe X?"


"Yup sayang, hampir tiap hari mereka manggung." Ferdinan melirik putrinya dari spion mobil di depannya.


"Kamu gak berpikir akan pergi ke sana kan?"


Rani tersenyum jahil. Ayahnya selalu hebat dalam menebak isi kepala nya.


"Tapi sayang.." Ferdinan tidak setuju jika Rani ke sana. Apalagi jika sampai melihat Hendy sedang bersama pacar barunya saat Rani ada di sana. Dia tidak mau putrinya terluka.


Ikatan batin antara anak dan ayah itu begitu kuat. Rani membelai punggung ayah nya yang sedang menyetir.


"Rani ke sana sama Artur kok yah." dia menoleh ke arah Artur. Cowok tampan itu mengangguk tanda setuju. Dia tak bisa menolak permintaan Rani walaupun rasa sesak menyerang dadanya.


"Om bisa percayakan Rani sama saya."


Ferdinan hanya mendengus. Bagaimana dia bisa menolak kalau Rani memohon dengan tatapan lembut seperti itu ke arah nya.


**

__ADS_1


Artur dan Rani sampai di cafe x jam 20.00. Tepat saat Stars manggung membawakan lagu pertama mereka. Rani dan Artur duduk di kursi paling belakang di pojok ruangan, berbaur dengan pengunjung yang lain.


Saat itu Artur terlihat sangat gagah dengan balutan turtleneck berwarna cream dipadukan dengan jaket kulit warna hitam. Sebuah kacamata coklat semi transparan terpasang di hidung mancung nya. Cleft chin pun semakin mempertegas aura macho cowok itu.


Dia memandang Rani yang duduk di samping nya. Gadis itu menatap lurus ke depan. Entah siapa yang sedang dilihatnya dari keenam cowok yang berdiri di atas panggung.


Dia membenarkan posisi syal Rani yang sedikit berantakan. Malam itu Rani terlihat semakin cantik dengan kaos panjang polos berwarna biru dan memakai kacamata senada dengan Artur.


Rani pun menoleh, kedua mata mereka beradu. Rani baru menyadari Artur begitu tampan.


Dan Artur.. dari hari ke hari dia semakin tenggelam dengan perasaannya untuk Rani. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan tindakan bodoh mengingat jarak mereka berdua sangat dekat saat ini, mencium Rani misalnya.


...


Aku cinta kepada mu tak terbatas waktu


Tak kan ada selain dirimu


Cinta yang tlah kita bina pahit manis berdua


Demi cintaku hanya untukmu


...


Sebuah tembang lawas dilantunkan Stars sebagai lagu pembuka mereka. Lagu yang benar-benar sesuai dengan suasana hati Rani saat ini.


Lalu di lihat nya seorang cewek di kursi paling depan melambai ke arah Stars dan memberikan kiss bye untuk sang gitaris yang sangat Rani kenal.


Yang selanjutnya terjadi adalah cowok itu balik melambai ke cewek itu. Rani bisa melihat senyum dari cowok itu walau wajahnya tertutup masker.

__ADS_1


"Allright.. perkiraan ku ternyata benar.." Rani tersenyum simpul sambil meminum air mineral.


__ADS_2