
Ting tong..
Kriett..
"Ya neng? Nyari siapa?"
Oliv terperanjat dengan sosok asing yang membuka gerbang rumah Rani. Dia memandang pria di depan nya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Yaelah neng.. ditanyain malah bengong.. Saya tahu kok saya ganteng." satpam itu nyengir dengan tanpa bersalah dan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Maaf pak, ini bukan nya rumah Pak Ferdinan ya?"
" Iya bener." jawab pria itu singkat
"Orang nya ada?"
"Baru aja pergi ini tadi."
"Kemana pak? Sama siapa?" seloroh Leo yang tiba-tiba muncul dari belakang Oliv.
"Beliau sih gak bilang mau kemana. Tadi buru-buru gitu mas. Pergi nya sama siapa ya tadi..pokok nya berlima. Yang 2 orang itu si mbok sama Mang Asep, yang 2 orang lagi saya gak kenal. Maklum orang baru." pria itu tertawa receh sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Oliv dan Leo saling pandang. Berlima? Ferdinan, si mbok, Mang Asep,.. lalu siapa yang dua orang lainnya?
"Cewek apa cowok pak yang 2?" tanya Oliv bersemangat.
"Cewek sama cowok neng. Yang cowok ganteng banget kayak bule. Saya jadi minder deket-deket dia."
__ADS_1
"Terus yang cewek?" Leo spontan meremas bahu satpam itu yang membuatnya meringis menahan sakit.
"Duh.. ini bahunya sakit mas. Bisa di lepasin dulu?" ucapnya memelas.
Leo langsung melepas tangannya dan meminta maaf.
"Yang cewek juga cantik banget mas.. Agak ke bule-bulean gitu wajahnya. Warna matanya itu lho.. coklat terang abu-abu.. duh apa sih saya gak tahu itu warna apa."
Oliv langsung mengeluarkan handphone dan menunjukkan foto di galerinya.
"Ini bukan orangnya?"
"Wah betul neng.. Ini mbak nya yang tadi!" satpam itu begitu antusias melihat foto di handphone Oliv.
Kaki Oliv langsung lemas, tangis bahagia nya pecah. Leo lalu memeluk pacar nya yang terduduk di tanah. Dia membelai kepala dan punggung Oliv.
**
"Saya pamit pulang dulu om." ucap Artur setelah selesai membantu menurunkan beberapa koper dari bagasi mobil.
"Udah malem, kamu gak nginap aja di sini?"
"Gak om, makasih. Nanti malah merepotkan." Artur dengan sopan mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
Dia menoleh ke arah Rani yang tersenyum ke arahnya.
"See you later.."
__ADS_1
Rani mengangguk dan melambaikan tangan mengiringi kepergian Artur.
"Sayang.. Artur baik ya." ucap Ferdinan saat Artur sudah pergi menjauh.
"Iya yah.." jawab Rani singkat.
"Ayah gak keberatan kalau kamu pacaran sama dia."
Rani dengan cepat menoleh ke ayahnya. Ferdinan tersenyum geli melihat ekspresi putrinya yang menggemaskan itu.
"Apaan sih yah.."
"Sayang.. ayah juga laki-laki. Ayah bisa ngerasain dia suka sama kamu dan kayak nya dia tulus."
Rani tersenyum manis. Dia memilih tidak meladeni ayahnya dan masuk ke kamar. Dia merebahkan tubuh mungilnya di tempat tidur. Jika dipikir lagi memang sikap Artur tidak biasa bagi seorang teman.
Tak jarang Rani memergoki cowok tampan itu sedang mencuri pandang melihatnya. Pandangannya begitu hangat, bahkan setiap gesture tubuhnya selalu lembut pada Rani.
Cewek cantik itu memejamkan matanya dan melihat pemandangan saat di cafe x beberapa jam lalu. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa melihat Hendy.
Namun dia tak bisa langsung memeluk, mencium, dan mencurahkan semua kerinduan nya. Pacar tersayang nya itu sudah mempunyai cewek lain sekarang.
Rani berguling ke samping, memeluk guling empuk yang tak jauh dari tubuhnya erat-erat. Perasaannya masih sama untuk Hendy dan posisinya belum tergantikan di hati Rani. Namun jika benar Artur memiliki perasaan lebih padanya, apakah sebaiknya dia membuka hati untuk cowok itu? Cowok yang sudah dengan tulus merawat nya selama ini.
Lalu bagaimana dengan Hendy? Bukankah dia pacaran dengan cewek lain karena menganggap Rani sudah mati? Akan lebih baik jika Hendy tetap berpikiran demikian. Dengan begitu tak ada hati yang akan tersakiti.
Begitu banyak pertanyaan di kepala Rani. Pertanyaan yang tak bisa dia jawab untuk saat ini dan akhirnya dia pun tertidur.
__ADS_1