Sang Gitaris

Sang Gitaris
Salah Sasaran


__ADS_3

Rani dan Hendy duduk saling berhadapan di perpustakaan saat peralihan jam tambahan pelajaran. Rani menatap Hendy dengan menyipitkan mata. Tangan nya membawa sebuah buku tentang susunan nada.


Sedangkan Hendy berpura-pura acuh, mengalihkan pandangan nya dan membolak balik buku kumpulan humor abu nawas yang di pinjam nya. Pemandangan itu seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi tahanan.


"So.. jelasin apa yang terjadi." ucap Rani dengan tatapan tajam.


"Jelasin apa.." tanya Hendy berpura-pura tidak mengerti.


Rani menggigit bibir bagian bawah nya. Dia gemas sekali mendengar jawaban Hendy.


"Kenapa Igor jadi abstrak gitu?"


"Kena santet." jawab Hendy asal-asalan.


"Fine.. Terserah kamu deh kalau gak mau cerita." Rani kesal dan menaik kan buku yang dibawa, memposisikan buku itu di antara wajah nya dan Hendy.


Hendy tersenyum puas dengan reaksi Rani yang menggemaskan. Dia mencoba menurunkan buku yang menghalangi padangan nya untuk melihat pacar nya itu, tapi Rani selalu mengembalikan posisi buku nya seperti semula.


"Kalau kamu gak mau nurunin buku ini, jangan salahin aku." ucap Hendy mulai kesal.


Rani tak memperdulikan ancaman Hendy seakan Hendy tak terlihat.


Hendy melihat sekeliling, berdiri dari kursi nya, dan mencondongkan tubuh nya di depan Rani.


"Beneran gak mau nurunin? Oke.." bisik Hendy. Dia mulai mendekat dan mencoba mencium Rani. Rani yang kaget spontan mundur yang membuat kursi nya oleng.

__ADS_1


Hendy dengan tangkas meraih tangan Rani sebelum dia jatuh terjengkang. Dia menarik Rani sampai jarak mereka hanya sejengkal.


"Jangan nekat deh!" bisik Rani sambil meletakkan tangan nya yang masih bebas ke bibir Hendy. Wajah nya mulai merona karena malu.


Hendy pun semakin gemas dengan tingkah pacar nya. Benar-benar sulit menaklukkan Rani walaupun mereka sudah berpacaran.


"Makanya jangan pancing aku dengan tingkah kamu yang menggemaskan. Mungkin lain kali aku gak bisa menahan nya." goda Hendy sambil mengusap lembut bibir Rani.


(*Ya Tuhan kuatkan imanku!*)


Di kursi lain tak jauh dari mereka, Tya memperhatikan mereka berdua dengan sangat kesal. Dia semakin benci dengan Rani. Apalagi ayah yang diharapkan bisa membantu nya malah dengan suka rela mengalah dan minta maaf atas kejadian tempo hari.


Tya pun kembali memikirkan cara licik. Dia yakin kali ini Rani menyerah dan dia pun bisa kembali mendekati Hendy sang pujaan hati nya.


"Udah lah.. gak usah cari gara-gara lagi bisa kan?" Vanda trauma dengan yang terjadi sebelum nya. Apalagi ayah nya sudah memperingatkan untuk tidak melakukan hal yang membuat malu keluarga.


"Gak masalah kok kalau lo gak mau ikutan. Gue bisa nglakuin ini sendiri." ucap Tya tajam pada Vanda. Dia sangat yakin rencana nya kali ini akan berhasil. Tapi dia tidak menyadari sepasang mata sedang mengintai nya. Sosok itu tak akan kecolongan lagi. Kali ini dia akan memastika bahwa Rani aman.


**


Rani bersiap-siap untuk pulang saat Tya datang menghampiri nya di kelas.


"Jauhin Hendy."


"Gak bisa." jawab Rani acuh tak acuh. Sama sekali tak ada rasa takut di mata nya.

__ADS_1


Byuurr..


Tya langsung menyiramkan seember air ke badan Rani, tapi dia heran kenapa ekspresi Rani sangat tenang. Minimal seharusnya dia kaget dengan tindakan Tya barusan.


"Lo mau sampai kapan sih gangguin gue?"


"Sampai lo jauhin Hendy." Tya menunjuk dahi Rani dan berusaha menahan emosi nya.


"Sebaiknya lo move on aja, banyak cowok ganteng juga di sini." ucap Rani santai sambil menyingkirkan jari Tya.


"Jangan seenak jidat lo kalau ngomong! Gue duluan yang suka sama dia! Dia milik gue!" Tya menaikkan suaranya yang terdengar bergetar.


"Tapi dia pacar gue."


Tya yang mendengar kenyataan itu pun langsung kalap. Dia mengangkat tangannya untuk mukul Rani.


Plaakk!


Tangan nya ternyata mendarat tepat di pipi Oliv, meninggalkan bekas berbentuk telapak tangan berwarna merah. Rani kaget saat tahu Oliv sudah berada di depan nya begitu pula dengan Tya.


Rani menyentuh pipi Oliv dan menanyakan apa dia baik-baik saja. Oliv mengangguk agar sahabat nya tidak kuatir. Dia beralih melihat Tya yang masih terpaku.


"Gak ada kapok-kapok nya ya lo gangguin sahabat gue? Kali ini gue pastiin lo bakalan nyesel." ucap Oliv menyeringai yang membuat Tya bergidik ngeri.


Bukan nya apa-apa, dia telah menampar dengan sangat keras seorang pemegang sabuk hitam karate bernama Oliv.

__ADS_1


__ADS_2