Sang Gitaris

Sang Gitaris
Persepsi Berbeda


__ADS_3

Rani bersikap setenang mungkin menghadapi situasi tak terduga ini. Dia melirik Artur yang tampak gelisah di samping nya.


"Long time no see.." Rani tersenyum lembut ke arah Hendy dan Mega.


"K..kamu..masih hidup?"


"Kayaknya iya mengingat aku masih nginjek tanah."


Rani melihat Mega yang masih tak bisa mengatakan apapun.


"Kamu gak ngenalin aku sama pacar kamu yang cantik itu?"


Hendy masih tetap bergeming. Bagaimana dia menjelaskan apa yang dirasakannya sekarang, senang, sedih, bingung, semuanya bercampur menjadi satu di kepala nya.


"Kenapa kamu gak nyari aku Ran? Kenapa kamu gak bilang kalau kamu masih hidup?" Hendy pun beringsut maju mendekati Rani namun langkah nya terhenti saat Rani mengisyaratkan agar dia tak melangkah lebih dekat.


"Aku seneng kamu baik-baik aja. Aku dengar Stars juga.."


"Jangan ngalihin pembicaraan!" Hendy langsung menarik tangan Rani.


"Kenapa kamu gak ngabarin aku kalau kamu baik-baik aja?! Kenapa Ran?!"


Hendy tak bisa mengontrol emosinya. Tanpa sadar dia mencengkeram tangan Rani dengan kuat.


"Hen.. sakit."


"Kenapa kamu sembunyi dari aku selama ini?! Apa kamu tahu gimana sulitnya aku hidup tanpa kamu?!"

__ADS_1


"Cukup." sela Artur seraya mencengkeram bahu Hendy.


"Lepasin tangan lo."


"Dia bilang sakit." Artur menatap tajam dengan suara dingin.


Hendy baru menyadari tangan Rani memerah dan langsung melepas cengkeraman nya.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Artur sambil mengusap tangan Rani.


"Gak apa-apa."


Hendy pun semakin marah melihat kedekatan Artur dan Rani.


"Apa karena cowok ini kamu pura-pura mati?!"


"What.." Rani tidak mempercayai apa yang di dengarnya dari Hendy. Memalsukan kematian katanya?


Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Hendy dan membuat tubuh nya mundur beberapa langkah.


"Lo udah kelewatan." ucap Artur datar. Dia tak mengerti kenapa Hendy sampai berpikir seperti itu. Ingin sekali dia mengatakan kenyataan yang sebenarnya tapi dia sudah berjanji pada Rani untuk tutup mulut.


Mega hanya bisa menutup mulut nya melihat suasana mencekam itu. Dia tidak terima pacarnya dipukul di depan matanya, namun di sisi lain dia tidak berani menengahi mereka.


Satu hal yang Mega tahu, Hendy masih mencintai Rani dan sekarang cewek itu muncul dihadapan mereka.


Hendy kembali maju dan sudah bersiap memukul Artur saat Rani melompat diantara keduanya.

__ADS_1


Hal itu membuat Mega semakin merinding, betapa beraninya Rani dibandingkan dirinya. Seakan makhluk cantik itu tidak memiliki rasa takut dengan berdiri diantara dua orang cowok yang sedang memanas.


"Kamu marah sama aku, jangan lampiaskan ke orang lain." Rani menatap tajam Hendy dengan matanya yang selalu bisa melumpuhkan kekuatan lawan bicaranya.


"Apa kamu sengaja gak nyari aku karena dia?!" wajah Hendy merah karena marah. Rani terdiam beberapa saat. Dia tidak menyangka Hendy bisa berpikir seperti itu.


"Rani!!"


Tiba-tiba seseorang datang memeluk Rani dan menangis meraung-raung.


"Hei.. Kenapa nih.. Diem ah, kamu jelek Liv kalau nangis." ucap Rani sambil mengusap punggung Oliv.


"Huaaa.. Iya g..gue Oliv..Lo masih inget gue kan? Beg*.. tega banget lo ninggalin gue.."


Kedua sahabat itu berpelukan saling melepas rindu. Leo pun datang dan menghampiri mereka semua.


Dia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Namun melihat aura gelap di sekeliling dua pria yang ada di sana membuat nya sedikit mengerti apa yang terjadi.


"Gue udah bilang kan." Leo mendekat dan menepuk bahu Hendy. Cowok itu hanya memandang Leo dengan semakin bingung.


"L..lo harus ceritain semuanya.." ucap Oliv sambil menghapus air mata. Rani pun mengangguk setuju. Dia melihat Hendy yang masih terlihat marah dan Artur yang setengah mati menahan emosinya.


"Artur, enough. Kita pulang aja." Rani menyentuh bahu Artur yang membuat Hendy semakin cemburu. Hal itu tentu saja disadari Leo yang dengan cepat merangkul bahu Hendy agar dia tidak hilang kendali.


"Tenang.." bisik Leo.


"Tapi.."

__ADS_1


"Lo udah punya Mega, ingat? Jadi kenapa lo marah saat Rani kembali dan deket sama cowok lain?"


Ucapan Leo seperti sebuah pukulan telak bagi Hendy. Cowok itu baru teringat Mega yang sejak tadi pasti sudah melihat semua kejadian tadi.


__ADS_2