Sang Gitaris

Sang Gitaris
Kembali Luluh


__ADS_3

Rani masuk ke dalam ruang ICU dimana Hendy dirawat. Sedih rasanya melihat berbagai macam alat terpasang di badan orang yang dicintainya.


Dia duduk perlahan di samping bangsal Hendy, memandang sayu cowok yang tergeletak lemah itu. Rani melihat perban yang membalut dada Hendy. Terlihat darah masih sedikit merembes dari pori-pori perbannya.


Tenggorokan Rani tersekat, dia tidak tega melihat Hendy yang seperti itu.


"Apa kamu ingin jadi dokter? Kenapa kamu hobby sekali masuk rumah sakit?" Rani bergumam pelan sambil menggenggam tangan Hendy.


"Bangun dong.. Apa kamu gak ingin mencium ku setelah kita berantem kemarin? Lihatlah.. kamu bisa mencium ku sesuka hatimu sekarang. Tak akan ada yang melarang karena kamu sudah 18 tahun seperti katamu."


Rani berusaha merangsang pendengaran Hendy agar dia segera sadar seperti anjuran dokter.


Gadis itu mulai bicara panjang lebar. Menceritakan hal-hal lucu sampai harapan nya di masa mendatang, tapi Hendy masih tak bereaksi. Air mata mulai menggenang lagi di pelupuk matanya.


"Kalau kamu marah karena aku udah ngeraguin cinta kamu, pukul aku, jewer telingaku, lakukan apapun yang kamu mau tapi jangan diemin aku kayak gini."


Rani memalingkan wajah lalu menutupnya dengan kedua tangan. Dia mengusap air matanya.


"Gak akan.."

__ADS_1


Rani menoleh mendengar suara itu. Hendy membuka matanya dan susah payah tersenyum. Selang oksigen masih menghiasi hidung mancungnya. Dia pun sedikit merintih saat merasakan sakit di dadanya.


"Jangan banyak gerak dulu. Luka kamu masih belum sembuh."


Hendy kini menatap wajah orang yang sangat dirindukannya.


"Kalau kamu ingin bunuh aku, lakukan seperti yang Maria lakukan sama aku sekarang."


Rani bingung dengan kalimat yang dilontarkan Hendy. Cowok itu pun melanjutkan.


"Atau.. kamu lebih suka aku mati perlahan dengan cara tiba-tiba menghilang dari pandanganku?"


"Astaga! Maafin aku.." Rani takut saat Hendy sedikit tersentak karena tindakan bodohnya. Hendy meraih tangan Rani, meletakkannya di tengah dada yang tidak terluka.


"Ran, jantung ini akan berhenti berdetak kalau kamu ninggalin aku." tatapan mata Hendy begitu dalam dan menusuk hati Rani.


"Kamu beneran cinta sama aku?"


"Aku udah bilang ratusan kali tapi kamu masih meragukan itu."

__ADS_1


Hendy mengumpulkan seluruh kekuatannya dan mencoba duduk yang tentu saja langsung mendapat penolakan dari Rani.


"Hendy.."


Cowok itu langsung memeluk Rani. Dia tidak memperdulikan darah kembali merembes di perbannya. Napasnya berat, namun Rani merasakan kehangatan yang luar biasa dari pelukan itu.


"Maafin aku yang bodoh ini sayang. Marah lah sesuka hati kamu, tapi jangan tinggalin aku lagi. Karena saat itu terjadi mungkin jantungku bener-bener berhenti dan aku gak akan kuat."


Senang, hanya itu yang Rani rasakan. Dia melepaskan pelukan Hendy dan menghujani wajah cowok itu dengan ciuman.


Hendy memejamkan matanya dan tersenyum. Dia membiarkan pacarnya menciuminya. Lalu sebuah ciuman hangat mendarat lembut di bibirnya.


Mereka menikmati sensasi romantis itu beberapa saat. Betapa Hendy merindukan suasana seperti ini.


Rani melepaskan bibirnya. Dia melihat Hendy yang masih memejamkan mata. Cowok itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya. Namun dia kembali mendesis menahan sakit.


"See?" Rani memperlihatkan tangannya yang terkena darah Hendy,


"Kan aku udah bilang jangan bangun dulu. Bandel banget." Rani mengambil tissu untuk membersihkan darah pacarnya. Hendy hanya terkekeh pelan sambil memegang dadanya. Dengan begitu mereka sudah resmi berbaikan.

__ADS_1


__ADS_2