Sang Gitaris

Sang Gitaris
Bimbang


__ADS_3

"Gue akui lo pemberani, siapa nama lo tadi?" tanya Aldo sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Hendy."


"Oke.. Mana Rani?"


Hendy memberikan handphone Rani. Di dalam hatinya, Rani was-was apa yang akan kakaknya katakan.


"Dek kapan.. tunggu! Kenapa kamu basah gitu?" Aldo baru menyadari adik kesayangannya diselimuti air di sekujur tubuhnya.


"Atau jangan-jangan gara-gara pacar kamu tadi!"


"Enggak lah bang.. Ini tadi ada jet sky meluncur terlalu deket, makanya jadi kayak gini." terang Rani panjang lebar.


"Beneran ya? Ya udah abang balik markas dulu. Inget jangan aneh-aneh!" Aldo pun memutuskan telepon setelah mendapat anggukan kepala Rani.


Rani mendengus pelan, dia memandang Hendy yang begitu tenang seperti tak terjadi sesuatu.


"Kamu itu ya... Main ambil hp orang aja!" dia menjewer telinga Hendy, membuat cowok itu meringis kesakitan,


"Bang Aldo itu berbahaya Hen.. Apalagi kalau sama cowok yang deketin aku."


Hendy pun membelai rambut Rani.

__ADS_1


"Ran, kenapa aku harus takut? Rasa sayangku ke kamu itu tulus. Gak ada niat sedikit pun membuat kamu sedih. Aku yakin kakak kamu pasti ngerti." dia mencoba menenangkan pacarnya.


"Kacang-kacang.." Oliv berjalan diantara Rani dan Hendy. Mereka berdua tertawa dan mengajak Oliv untuk menyewa sebuah perahu.


Dari kejauhan tampak Leo sudah berada di salah satu perahu, dia melambaikan tangan agar mereka semua naik perahu yang sama.


**


Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah Pura di tengah danau. Mereka berempat berjalan beriringan.


Hendy tak sungkan lagi merangkul bahu Rani sepanjang perjalanan. Namun langkah mereka terhenti saat seseorang tiba-tiba menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Hendy.


Mereka berempat tersentak dan saling memandang. Saat cewek itu mengangkat wajahnya, tampak Maria menangis.


"Maria apa maksud semua ini? Lepasin." ucap Hendy sambil berusaha melepaskan pelukan gadis itu.


"Hen, kamu gak tahu seberapa besar cintaku buat kamu. Kenapa kamu gak bisa lihat itu.." Maria semakin keras terisak.


"Cinta aku udah buat orang lain sekarang dan dia berdiri di sampingku."


"Apa kamu gak ingat seberapa kuatir nya aku saat lihat kamu tiba-tiba kesakitan dan nyaris pingsan? Aku yang selalu jagain kamu, nungguin kamu di rumah sakit sampai sembuh. Apa kamu gak lihat ketulusanku?"


Hendy hanya diam. Saat itu memang hanya Maria yang mau menolongnya disaat semua temannya malah menjauh karena takut. Tiba-tiba hatinya luluh setelah mengingat masa-masa itu. Dia membiarkan Maria tenggelam di dadanya.

__ADS_1


Rani mulai bertanya-tanya kenapa pacarnya tidak lagi memberontak. Maria lalu menoleh ke arah Rani yang tidak menunjukkan ekspresi cemburu sama sekali.


Perlahan Rani mencoba melepaskan pelukan Maria dari Hendy. Tapi Maria yang terlanjur emosi mengibaskan tangan Rani dan mendorongnya.


Karena kuatnya dorongan, tubuh kecil Rani oleng dan hampir terjatuh saat lagi-lagi Dion muncul dan menangkap Rani.


Semua orang di sana terperangah. Dion menatap Rani dengan tatapan tak wajar, antara sedih dan marah. Hal itu membuat Hendy kesal.


"Lepasin pacar gue." dia menatap Dion tajam.


"Kamu gak apa-apa Ran?" Dion mengabaikan Hendy. Dia masih menahan tubuh Rani sambil memastikan cewek itu baik-baik saja. Diapun berbalik menatap Hendy.


"Lo bilang apa barusan? Pacar? Cowok model apaan yang diem saat lihat pacarnya hampir celaka? Justru yang gue lihat lo seneng aja tuh dipelukan cewek lain."


Ingin sekali Hendy memukulnya. Wajahnya berubah merah karena marah. Di dalam hati Rani pun sebenarnya mengiyakan ucapan Dion, dia kecewa.


(Kenapa kamu diem aja dipeluk cewek lain sedangkan ada aku di sini?)


Tanpa mengucap sepatah kata pun Rani naik perahu asing entah perahu siapa dan meninggalkan mereka semua. Oliv langsung mengejar nya karena takut sesuatu yang buruk menimpa Rani.


Hendy menatap kepergian Rani dengan nanar.


"Kalau lo cuma ingin buat dia kecewa, mending lo tinggalin dia. Gue bisa kok bahagiain dia." kalimat yang keluar dari mulut Dion seakan menampar wajahnya.

__ADS_1


Namun bagaimana dia bisa mengacuhkan cewek yang pernah menolongnya dulu. Hatinya dilanda kebingungan yang amat sangat.


"Cih! Jangan salahin gue kalau dia berpaling ke gue karena sikap plin plan lo ini!" ancam Dion lalu pergi mengejar Rani yang sudah tidak tampak batang hidung nya.


__ADS_2