Sang Gitaris

Sang Gitaris
Pertanyaan yang Tak Terjawab


__ADS_3

"Beb! Beb! Bukain pintunya dong!"


Jonatan meletakkan buku nya dan berjalan ke arah pintu.


"Ni pasti si bocah sableng. Ngapain malem-malem bikin heboh sih!" gerutunya. Jonatan sudah bisa menebak siapa yang membuat keributan di depan rumahnya.


Klik!


"Om, Oliv ada kan?!"


"Ada sih.. Kamu bisa gak sih kalau ke sini itu yang tenang, kalem, gak heboh kayak gini." Jonatan langsung saja menjewer telinga pacar putrinya.


"Adow.. ampun om.. masalah nya ini gawat bin urgent! Leo langsung masuk ya?!" tanpa menunggu jawaban Jonatan cowok gesrek itu berlari masuk ke rumah Oliv.


"Kalau bukan pacar anak gue, udah tak jadiin pepes tuh anak!"


Oliv baru saja keluar dari kamar setelah mendengar keributan yang dibuat Leo.


"Ayo beb buruan ke rumah Rani!" dia langsung menyambar tangan Oliv dan berlari mengajaknya keluar rumah.


"Bentar-bentar beb! Aku ganti baju dulu dong! Lagian ngapain kita ke rumah Rani?"

__ADS_1


Leo mengehentikan langkahnya dan berbalik memandang Oliv. Raut wajahnya berubah serius sekarang.


"Barusan aku lihat Rani."


"What?!"


**


Mega memandang Hendy yang sibuk mengaduk jus lemon nya. Hendy tampak begitu kesal sampai Mega bisa melihat urat di leher pacar nya menegang.


(Duh.. Hendy kok serem banget sih kalau marah. Jadi takut mau ngajak ngobrol)


Hendy masih sibuk dengan pikiran nya. Dia belum pernah bertengkar dengan Leo sampai seperti itu. Yang paling mengherankan kenapa Leo tiba-tiba membicarakan Rani.


Kembali terlintas wajah Leo di benak cowok tampan itu. Dia tahu betul ekspresi nya tadi bukan ekspresi bercanda. Apalagi sahabatnya itu begitu marah sampai bisa memukul Hendy.


Semuanya terasa berputar-putar di kepala Hendy. Wajah cantik Rani kembali hadir memenuhi pikiran nya. Susah payah dia bangkit dari kesedihan, tapi hari ini Leo telah mengingatkan kembali sosok cantik yang pernah menghiasi hari-hari nya.


"Argghh!" dia membanting gelas yang di pegang nya, membuat Mega beringsut mundur karena kaget. Kepala nya sedikit berdenyut. Dia memijat dahinya perlahan untuk me-rileks kan kepala.


Setelah beberapa menit terdiam Hendy baru menyadari ada Mega di samping nya, dia pun berusaha mengontrol emosi. Perlahan dia menggenggam tangan Mega dengan lembut.

__ADS_1


"Maaf.. kamu takut ya?"


"Hen.."


Mega memperhatikan raut wajah Hendy sekali lagi. Dia tak bisa memungkiri, mereka memang sudah berpacaran. Tapi Mega tahu sebagian besar cinta Hendy masih untuk Rani.


Sudah 2 tahun sejak kepergian Rani, tapi kenapa Mega masih belum bisa menggantikan posisi nya di hati Hendy.


"Kamu masih cinta sama mendiang Rani?" tanya Mega pada akhirnya yang membuat cowok di samping nya terdiam.


Hal itu membuat hati Mega teriris. Air mata sudah menggenang di kedua matanya bersiap untuk jatuh.


"Meg.. Rani sudah meninggal. Kamu gak perlu kuatir, aku masih tetap pacar kamu." Hendy membelai rambut Mega dan menenangkannya.


"Kalau seandainya dia masih hidup gimana? Apa kamu akan kembali ke pelukannya atau bertahan sama aku?"


Jleb!


Kata-kata Mega seperti sebuah pisau yang menancap ke dada Hendy. Pertanyaan itu sama sekali tak bisa dijawab Hendy. Dia memang menyayangi Mega namun dia juga masih mencintai Rani.


Dia tidak mungkin mengatakan hal ini di depan pacar nya yang sudah mengangkat nya dari keterpurukan selama ini.

__ADS_1


Mega tak bisa lagi menahan air matanya. Diam nya Hendy seolah mengisyaratkan bahwa dia memang masih mencintai Rani. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis.


__ADS_2