Sang Gitaris

Sang Gitaris
Perkelahian


__ADS_3

Rani langsung menuju bus nya begitu turun dari perahu. Dia hanya diam berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.


Entah kenapa dadanya sesak seperti ada ribuan batu di dalam sana. Tiba-tiba Dion sudah duduk di samping Rani.


"Kamu..gak apa-apa?"


Rani hanya tersenyum, dia tidak bisa menunjukkan kesedihan nya apalagi di depan Dion. Cowok itu lantas meraih tangan Rani dengan lembut, membuat cewek itu sedikit kaget.


"Ran, aku tahu gimana rasanya ngelihat orang yang kamu sayangi lagi pelukan dengan cewek lain. Kamu gak perlu nyembunyiin kesedihan di balik senyum manis itu." dia menatap Rani lekat-lekat.


"Kamu juga boleh menangis kalau itu bisa ngurangin sakit hati kamu."


Rani menggelengkan kepala dan kembali tersenyum.


"Aku gak akan ngelakuin itu Dion. Sepahit apapun kenyataan yang aku lihat, aku gak boleh nangis."


"Ran.." Dion bingung dengan ucapan cewek itu. Tapi kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Rani seakan membuat cowok ini semakin marah pada Hendy.


"Kalau aku nangis, Hendy bisa beneran mati di tangan kakak ku. Aku gak mau dia mati, aku juga gak mau kakak ku jadi seorang pembunuh."


Rani menatap mata Dion dengan masih tersenyum. Tapi terlihat jelas air sudah menggenang di pelupuk mata nya.

__ADS_1


Tanpa sadar Dion menarik Rani ke dalam pelukan nya. Dia tidak bisa melihat cewek ini menangis. Di dalam dekapannya, Rani bisa mendengar jelas detak jantung Dion. Alunannya persis seperti saat dia di dekat Hendy.


Buukkk!


Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Dion. Dion langsung berdiri bersiap membalas orang yang memukulnya. Terlihat Hendy menatapnya penuh kemarahan dengan tangan mengepal.


"Bangs*t! Lancang banget lo asal peluk cewek gue!"


Rani bergidik ngeri melihat Hendy. Dia tidak pernah melihat Hendy se marah itu, bahkan lebih mengerikan dari saat terakhir kali dia dan Dion bertengkar tempo hari.


"Lo serakah banget ya! Gue gak ngerti jalan pikiran lo. Udah syukur lo dapatin Rani, tapi sekarang lo mesra-mesraan sama cewek lain di depan dia hah?! Hati lo terbuat dari apa bangs*t?!"


Tak berapa lama Pak Arya datang dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Bagaimana tidak, dia berlari sekencang-kencangnya begitu tahu Hendy dan Dion terlibat adu jotos. Dia tahu betul kedua anak itu sama-sama keras kepala. Pak Arya lalu memposisikan tubuhnya diantara dua cowok yang bertikai itu begitu sampai di bus.


"Astaga Hendy! Dion! Apa-apaan tingkah kekanakan ini!"


Kedua cowok itu diam. Wajah mereka lebam di sana sini dan mulai membiru. Mereka hanya saling memandang sengit. Sungguh jika Pak Arya tidak segera datang mungkin kedua nya akan masuk rumah sakit.


"Ini semua salah saya pak. Seharusnya saya tidak ikut rekreasi ini." ucap Rani tiba-tiba. Baik Hendy maupun Dion kaget dengan ucapan cewek cantik itu.


"Ran, apa maksu..."

__ADS_1


"Seharusnya aku gak ikut, jadi aku gak perlu lihat kejadian tadi. Dion pun gak perlu repot-repot menghibur ku yang nyaris nangis gara-gara kamu dan gak akan ada salah paham yang memicu perkelahian ini."


Rani menyela ucapan Hendy dengan wajah datar dan Hendy tak bisa membantah. Untuk pertama kalinya Rani begitu dingin padanya.


Rani melihat jendela lalu berbalik ke Pak Arya.


"Pak saya izin pulang sekarang. Mobil yang saya sewa sudah datang." tanpa basa-basi lagi dia mengambil koper dan keluar menuju mobil yang datang menjemputnya.


Semua orang yang ada di sana bingung bagaimana untuk bereaksi apalagi Pak Arya. Dia pun lari tergopoh-gopoh mengejar Rani.


"Rani, dinginkan kepala kamu nak. Bapak tahu ini urusan anak muda dan mungkin hati kamu sedang terluka. Tapi walau bagaimana pun bapak tidak bisa membiarkan kamu pulang sendirian!"


Pak Arya terlihat kuatir apalagi jika membayangkan wajah Aldo jika sampai ada sesuatu yang buruk menimpa adik nya.


Di saat bersamaan Oliv muncul dengan wajah pucat yang langsung ditarik Rani masuk ke dalam mobil. Dengan sedikit membungkuk dia berkata pada Pak Arya.


"Bapak gak perlu kuatir, saya pulang dengan Oliv."


"Hah? Pulang? Maksudnya gimana Ran?"


Tanpa menghiraukan Oliv, Rani pamit dan segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2