
Artur, Rani dan Oliv pergi menuju rumah Rani yang baru sedangkan Hendy, Mega dan Leo menuju rumah Mega untuk mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalanan Hendy hanya diam sambil melihat keluar jendela begitu pun Mega. Leo memperhatikan dari spion mobil, melihat Hendy dan Mega yang duduk bersebelahan dalam diam.
(Busyet, dah kayak sopir pribadi aja ya gue!)
"So.. yang tadi itu Rani?"
Hendy menoleh ke arah cewek di sampingnya. Terlihat air mata menggenang di kedua mata cewek itu.
"Iya." jawab Hendy singkat.
"Cantik banget ya, pemberani pula. Jauh banget kalau dibandingkan sama aku." Mega tersenyum getir.
Hendy memilih tak menanggapi. Namun Leo yang berada di depan angkat bicara dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Eh dah pada makan belum? Gimana kalau mampir resto terdekat?"
Sayangnya tak ada respon dari kedua makhluk yang duduk di kursi belakang. Leo bisa mengerti bagaimana terkejutnya mereka mengetahui kenyataan bahwa Rani masih hidup.
Leo tahu sahabat nya masih memendam rasa yang mendalam untuk Rani dan dia tahu bagaimana Hendy menjalani hari-hari sulitnya tanpa Rani.
Ditambah lagi Rani tidak kembali sendirian. Cowok yang dia lihat tadi pastinya adalah teman dekat Rani. Cowok yang sama yang dilihatnya di cafe x waktu itu dan sialnya cowok itu tak kalah keren dari Hendy.
__ADS_1
Leo tak tahu bagaimana harus menghadapi situasi ini apalagi Hendy yang pastinya lebih bingung.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Mega. Cewek itu langsung keluar dari mobil.
"Meg.."
Suara Hendy tak menghentikan langkah Mega yang justru mempercepat langkahnya memasuki rumah sebelum air matanya menetes.
"Sini pindah depan." ucap Leo sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Hendy dengan patuh pindah ke samping Leo.
"Cckk.. Jadi apa rencana lo selanjutnya? Lo mau gimana sama Rani dan Mega?" tanya Leo tanpa basa-basi.
Hendy menghela napas panjang. Kepalanya mulai berdenyut mengingat kejadian yang telah terjadi.
"Hah? Gimana-gimana?"
"Kenapa Rani gak bilang kalau dia masih hidup. Gue gak ngerti.."
"Wait! Lo gak bilang semua itu ke dia kan?"
Henry pun terdiam. Leo langsung mengerem mobilnya dan dengan kesalnya mulai memarahi Hendy.
"Lo udah gila atau gimana sih Hen?! Lo tahu gak apa yang udah dia alami?!"
__ADS_1
Leo mulai menceritakan semua yang di dengarnya dan Oliv dari Ferdinan. Waktu itu Oliv memang memohon ayahnya untuk bertanya tentang Rani pada Ferdinan.
Air mata menetes dari mata yang semula penuh dengan amarah itu. Hatinya teramat sakit mendengar pujaan hatinya harus hidup dengan satu ginjal sekarang.
Dia mengutuk dirinya sendiri yang sudah mengucapkan hal yang begitu jahat pada Rani.
(Berat sekali yang sudah kamu alami sayang.. Kenapa aku bodoh banget! Kenapa aku ngomong hal yang jahat banget tadi!)
Hendy memukul dashboard mobil berkali-kali yang membuat Leo kuatir.
"Stop it!" ucap Leo sambil menahan tangan Hendy yang memerah dengan tangan kirinya.
"Kita ke rumah Rani sekarang!" kata Hendy dengan putus asa.
"Gak.. gue anterin lo pulang aja."
"Leo.."
"Enggak! Suasananya masih panas. Lo bisa memperparah keadaan kalau ngomong ama dia sekarang. Lagian Hen, lo harus mikir Mega juga."
Hendy mengacak-acak rambutnya, dia benar-benar frustasi dengan keadaan ini.
Cintanya untuk Rani yang mulai pudar kini kembali lagi bersamaan dengan kembalinya cewek cantik itu. Sedangkan Mega, dia lah yang mengisi kekosongan di hati Hendy selama ini. Kedua cewek ini menempati hatinya sekarang. Siapa yang harus dia pilih?
__ADS_1